
Malam hari yang cerah menampakan taburan bintang dan rembulan yang bersinar terang dilangit, ditemani suara gemuruh air terjun yang membuat suasana dingin. Sisil terlihat mondar mandir dikamar penginapannya, sambil memegangi ponsel.
"Mas kamu kemana sih?" gumam Sisil apalagi perutnya sudah sangat lapar mengingat dari tadi siang belum makan hanya makan cemilan ringan saja.
"Sayang! " Heru membuka pintu, dan membuat Sisil kesal.
"Mas kenapa beli makanan lama sekali? Aku udah lapar! " tangannya di lipat di dada, tapi yang membuat Sisil lebih kesal dia tidak melihat sesuatu di tangan Heru.
"Mana makanannya Mas, jangan bilang tidak dapat! " selidik Sisil.
"Kita tidak makan disini, kita makan di luar saja di sana juga teman-teman dan Elsa sudah menunggumu! " Heru menarik tangan Sisil dan mulutnya terkekeh geli melihat istrinya itu yang kesal karena kelaparan.
"Dari tadi ngapain saja begitu lama! Kalau mau makan di luar sedari tadi saja gak usah nunggu! " omel Sisil menambah Heru gemes.
"Baiklah kita sudah sampai mari makan! " ucap Heru dan membuat Sisil di buat geram.
"Ya Mas! Apa maksudmu! Di sini begitu gelap dan tidak ada makanan, apa Mas sudah bosan memberi ku makan? " kesal Sisil dan berbalik hendak pergi.
Prreeeeeeetttttttt
Suara buang angin yang membuat langkah Sisil terhenti, dia semakin merasa dihina oleh suaminya itu!
"Mas kau jahat sekali! " Sisil memukul Heru sekuat tenaga.
"Bukan aku beneran sayang, " Heru memegang kedua tangan Sisil agar tidak memukulinya lagi.
"Terus siapa yang buang angin di sini cuma ada aku dan kamu, dan aku tidak melakukannya! " teriak Sisil, hingga suara beberapa orang tertawa tertahan terdengar.
"Mas itu,,, " Sisil dengan rasa sedikit takut lalu memeluk lengan suaminya itu.
"Sial !Siapa yang membuat suasana seperti ini, bisa kacau rencana ku! " gumam Heru dalam hati, tangannya mulai mengepal, rencana nya pasti tidak akan berjalan lancar!
"Mas aku mau kembali ke kamar, di sini bisa saja ada hantu mas! Ayo pulang Mas! " Sisil menarik tangan Heru.
"Sayang tunggu sebentar, " Heru menahan Sisil.
Hi hi hi
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" teriak Oliv, Rina dan Elsa juga Rian mereka lari terbirit-birit begitu juga Sisil dan Heru yang ikutan teriak dan menyusul berlari ke arah ke empat orang itu, dan sampailah mereka ke kamar Oliv yang paling dekat dari sana lalu menutup pintu dan menguncinya.
"Bismilahirihmanirihim.. "
"Astagfirullah... "
"Allhahuakbar, allahuakbar!"
Terdengar Sisil dan Rina tengah berdoa, Heru dan Rian beristigfar dan Elsa yang mengucapkan Allahuakbar, sedangkan Oliv dia malah mengambil koper dan buru-buru memasukan semua pakaiannya. Semua terlihat panik dengan nafas yang memburu.
"Katanya disini aman banyak yang jaga, tapi malah membuat kita ketakutan Mas sih ngajak kita ke sini! " Sisil menyalahkan Heru.
__ADS_1
"Sayang mana aku tau lagian penjaga juga bukan mau jagain hantu!" sahut Heru.
"Rian coba kamu liat ke jendela," Heru menyuruh Rian dan Rian pun dengan tangan gemetar membuka gorden itu perlahan.
"Tuan ada gak? " Rian bertanya dan membuat Heru kesal, tentu saja karena Rian hanya membuka gorden itu dengan memalingkan wajahnya.
"Dasar! " Heru beranjak membuka pintu dan mulai membukanya.
"Jangan! " teriak semua orang di sana kecuali Heru dan membuat niatnya diurungkan.
"Kenapa?" tanya Heru pada semuanya.
"Nanti dia kesini! "
Hi hi hi
Suara itu terdengar lagi dan kini mereka menjadi sangat ketakutan, Rian yang dingin mendadak menjadi penakut dia secepat kilat naik ke atas kasur dan bersembunyi di balik selimbut, Rina dan Oliv dia berjongkok di bawah meja sedangkan Sisil dan Elsa memeluk Heru dengan sangat erat.
"Kalian membuat ku sesak, " ucap Heru dan suara terbata.
Hi hi hi
Hi hi hi
Suaranya kembali terdengar, seperti ada di kamar itu hingga Rian mengingat sesuatu dia merogoh ponselnya yang sedari tadi ada di saku celananya dan mengeluarkannya.
Hi hi hi
"Rian! " Teriak Sisil, Elsa, Oliv, Rina dan Heru. Kini mereka sangat kesal pada sekertaris itu.
"Maaf,sempat lupa kalau nada seperti ini adalah telpon dari kakak saya,! " Rian menunduk dan ada rasa ingin ketawa dalam hati.
"Rian besok semua rapat hendel sama kamu! Soal menu yang baru harus segera di pasarkan maksimal lusa!" Heru sangat kesal dengan kejadian ini yang menurutnua konyol, walau awalnya dia pun ketakutan.
"Serius pak, menu itu kan-"
"Terserah kamu pokonya, lusa harus rampung! " Heru menyeret Sisil kasar menuju kamarnya, benar juga suprise yang telah di rancang untuk Sisil gagal.
"Hah, " Rian mengehembuska nafasnya panjang, lembur dua hari dua malan itu menanti dirinya.
"Mas Rian sabar ya, " ucap Rina mengelus bahu Rian lembut dengan senyumnya, dan membuat Rian menelan susah salivanya.
"Hm, " Rian hanya bergumam dan mengangguk sambil mengambil ponselnya yang tadi sempat ia banting ke teras.
"Pergi dari kamar kami asisten Rian, apa mau tidur sama kami? Tadi aja asisten Rian sangat ketakutan," goda Elsa.
"Tidak, terima kasih! " Rian pun beranjak dari kamar Oliv, Rina dan Elsa.
"Bisa begini, aku akan ganti nada suara laknat itu! Lagian kakak kenapa nelpon? Wanita si pemarah emang! " gumam Heru sambil berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Tringggg
Suara ponsel Rian bunyi, ini dari Heru dan segera ia mengangakat nya.
"Ia tuan? "
"Bawa sebagian makanan ke kamarku dan yang lainnya makan buat kalian! " Suara Heru dari ujung telpon itu.
"Baik! " ucap Rian dan terdengar nada terputus dari tuannya.
"Balik lagi ke TKP! " Ucap Rian berbalik arah, sesampainya di sana Rian menyalakan senter ponsel lalu menekan kontak dan membuat lampu yang berjejer indah itu menyala, Rian membuka pelastik yang sedari tadi menutupi makanan mereka lalu membawanya sebagian.
"Mas Rian lagi ngapain? " tanya Rina tiba-tiba berada di hadapannya saat menoleh.
"Kau membuat ku terkejut! Aku sedang membawa makanan, sisanya kamu yang bawa dan makan bersama temanmu dan Elsa! "titah Rian dan Rina hanya mengerucutkan bibirnya.
"Hah, tadi aja jadi seseorang yang sangat ketakutan sekarang kembali dingin! Aku kira orang dingin tidak takut pada apa pun! " gumam Rina setelah Rian pergi meninggalkannya.
"Baiklah lagian aku udah lapar banget! " Rina membawa Sisanya dan pergi meninggalakn suasana romantis yang gagal.
Tuk tuk
Rian mengetuk pintu lalu Sisil pun membukanya.
"Sini, " Sisil menyodorkan tangannya.
"Ini berat nona, nampannya pun sangat besar biar aku yang simpan ke dalam nggak apa-apa kan? " usul Rian, memang benar isi nampan itu berupa berbagai lauk pauk dan sayuran serta buah yang agak banyak.
"Baik lah silahkan masuk! " ucap Sisil dan Rian pun menaruh nampan itu lalu pergi meninggalakan kamar.
" Mas cepat makan!" Sisil mengajak Heru yang sudah dari kamar mandi itu.
"Aku datang! " Heru menghampiri istinya lalu memeluknya dari belakang.
"Mas ini makanan banyak sekali, "
"Tadinya aku mau bikin suprise buat kamu tapi malah gagal, padahal tempat itu sudah di hias berbagai macam agar terlihat indah!" Heru mengerucutkan bibirnya di pundak Sisil.
"Benarkan? "
"He em, "
"Tidak apa, suprisenya kan bisa dilain hari! "
"Ia ia. "
Di kamar yang di tempati ketiga gadis itu riuh dengan perbincangan pasalnya Rina yang mengakui saat itu buang angin, membuat Oliv dan Elsa tertawa terbahak.
"Hari yang penuh kekonyolan dan tawa, untuk aku ikut! " ucap Elsa.
__ADS_1
Sedangkan terlihat di balik jendela Ratna tengah menguping dan mengepalkan tangannya dan berkata " Malam ini mungkin takdir memihak Sisil, gara-gara suara menyeramkan itu misi ku gagal! Tapi masih ada hari besok tunggu saja! "