
Dirumah keluarga Deni terlihat tengah sibuk mempersiapkan kepindahan Sisil dan Heru, setelah pulang sekolah tiba-tiba Heru bilang akan membawa Sisil bersamanya ke rumah baru mereka, membuat Deni dan Mirna terkejut.
"Sil jangan lupa selalu telpon mamah, kalau ada apa-apa bilang mama ya, jangan lupa nurut dan layani suamimu selayaknya jangan membuat dia kecewa jadilah seorang istri yang baik, yang bisa menjadi penyemangat suaminya." ucap Mirna memeluk mamanya itu.
"Mah jangan lebay deh, rumah aku tuh bersebelahan sama rumah ini tuh di sana, dari sini juga keliatan tinggal manjat tembok dari sini. " Sahut Sisil lalu mendapatkan cubitan dari sang mama.
"Tetap saja itu juga nggak serumah Sil, setiap serapan dan makan malam jadi tidak bersama lagi," Mirna sedikit tak rela jauh dari anaknya, tapi kalau suami yang membawanya Mirna bisa apa?
"Nanti kita menyempatkan untuk makan bersama, supaya mama gak kesepian atau mama yang mau kerumah kami? " tiba-tiba Heru menghampiri istri dan mertuanya itu.
Deni yang mengetahui bahwa tetangganya akan pindah dari kota ini, dan akan menjual rumahnya segera dia memberi tahu Heru.
"Mah jangan begitu, itu kewajiban Sisil untuk ikut suami kalau urusan kesepian kan ada papa yang selalu ada untuk mama. " Bujuk Deni merangkul pinggang istrinya itu.
"Jangan begini dilihat anak mantu, malu jangan seperti anak kecil," Mirna melepaskan rangkulan Deni sedangkan Sisil dan Heru hanya menyimak lalu tersenyum.
"Mama yang seperti anak kecil, malah sedih di tinggal anak lagian gak jauh tuh di samping rumah kita." Ucap Deni menunjuk rumah di sampingnya.
"Aku mau kekamar dulu rasanya ada yang ketinggalan. " Sisil bergegas meniggalkan ruang tamu menuju kamarnya. Di kamar Sisi mencari sesuatu di lemarinya dan tersenyum mengmbil boneka minion yang besar dan panjang itu, dia pun menggendong boneka itu.
Kini rumah satu lantai yang luas dengan warna cet hujau muda yang elegan itu telah dimiliki Heru dan Sisil, awalnya Sisil tidak menyangka pemilik rumah ini akan pindah padahal waktu dulu mereka selalu saling berkunjung dan berbagi makanan. Semua isi rumah itu telah diganti oleh Heru, ternyata rumah itu sudah di beli Heru dua hari yang lalu. Jadi di hari mereka pindah sekarang tidak harus menunggu renopasi rumah.
"Mas, kenapa gak bilang kalau rumah ini sudah mas beli beberapa hari lalu," tanya Sisil sambil membereskan kasur.
"Biar suprise aja, " jawab enteng Heru, membuat Sisil berdecak. "Kenapa kamu nggak suka? Aku kira kamu akan suka karena nggak jauh dari mama dan papa. "
"Aku suka kok, aku jadi ingat dulu pernah bermain dirumah ini dan sekarang menjadi rumah sendiri. " Sahut Sisil lalu membuka tangan minion itu yang terikat di lehernya.
"Sisil!" Heru memanggil istinya itu membuat Sisil terdiam karena Heru semakin mendekatinya.
__ADS_1
"A ada apa mas? " tanya Sisil semakin mundur karena Heru semakin mendekatinya hingga mentok di tembok. Perlahan Heru memajukan mukanya ke muka Sisil membuat Sisil terkesiap dan memejamkan matanya Heru yang tersenyumpun melanjutkan niat nya.
Cup, satu kecupan mendarat membuat Sisil membuka matanya lalu memukul heru sekeras-kerasnya.
"Yak Pak Heru kurang ajar! " Sisil terus memukuli Heru yang kini sedang tertawa dengan bahaknya. Ternyata Heru bukan mencium Sisil melainkan boneka minion di belakangnya dan hal itu membuat Sisil kesal karena malu.
"Hentikan! Ternyata kamu kasar juga," ucap Heru memegang kuat kedua tangan Sisil, dan Sisil pun menghentikan aksinya melepaskan kasar pegangan Heru pada tangannya.
"Hep, " Heru kembali meraih tangan Sisil lalu menariknya sehingga kini Sisil berada di pelukan Heru
"Maaf, apa kau mengunginkannya? " tanya Heru, Sisil memutarkan bola malas mencoba untuk melepaskan diri tapi tidak bisa.
"Kamu kalau lagi marah lebih manis apalagi bibir ranum ini menjadi maju, membuat aku ingin mengigitnya boleh? " rayu Heru,
"Hentikan Mas, jangan menggodaku aku.. " Ucapan Sisil terhenti karena Heru menciumnya tapi tidak begitu lama. Lalu entah dorongan dari mana Sisil menahan tengkuk Heru lalu kembali mereka berciuman. Heru yang terkejut pun membulatkan kedua matanya dan membiarkan Sisil yang mendominasi mulutnya.
"Apa yang tadi aku lakukan? Bisa-bisanya aku yang duluan nyosor dasar bodoh. Gimana nanti aku kalau melihat Mas Heru duh malu nih. " Gumam Sisil setelah sampai dapur, memukul kepalanya pelan lalu mengipas mukanya dengan tangan dan menghembuskan nafas mencoba untuk tenang.
"Biarkan saja lagian dia bukan orang lain, dia suami aku kan. Anggap saja pengganti maaf karena tadi aku memukulnya keras. " Ucap Sisil menengkan pikirannya untuk mengusir rasa malu pada dirinya
Sisil membuka lemari pendingin, dia terkejut karena semua bahan makanan sudah sangat rapi dan komplit di simpan di sana, padahal ini hari pertama dia memasuki rumah ini dan belum sempat membeli bahan makanan.
"Ini pasti kerjaan mamah, dia memang yang paling terbaik lah. " Ucap Sisil lalu mengambil beberapa telur, beberapa jenis bawang, sosis, dan wortel, dia berniat untuk memasak makanan kesukannya rolade telur.
Heru yang kini terlihat sedang menelepon seseorang dengan raut muka yang serius.
"Saya telah mengirimkan Video sisi tv ke email kamu, cari tau siapa wanita yang telah merusak motor milik istriku malam nanti saya sudah harus tau informasinya!" ucap tegas Heru membuat orang yang berada di sebrang sana mau tidak mau harus menjalankan tugasnya. Setelah Heru memutuskan teleponnya kembali dia kepikiran istrinya, tanpa berfikir panjang Heru segera menghampiri istrinya itu didapur.
"Hm masak apa? " tanya Heru berdiri di samping Sisil.
__ADS_1
"Rolade!" jawab singkat Sisil karena masih ada sedikit rasa malu.
"Oh, enak tidak? " kembali Heru bertanya membuat sisil sedikit geram karena sedikit terganggu.
"Entah lah! "sahut Sisil asal.
"Aku tau biar masakan kamu enak. " Ucap Heru tapi tidak di gubris oleh Sisil , dia hanya fokus memasak.
"Mau tau gak? " pertanyaan Heru membuat Sisil geram dia membalikan mukanya menghadap Heru lalu tersenyum dipaksakan.
"Gak usah ini sudah mau jadi. " Ucap Sisil lalu kembali menggulung telur di teplon itu. Tapi seketika Sisil terkejut Heru memeluknya dari belakang membuat Sisil kegelian karena dagu Heru yang lancip menyentuh lehernya.
"Ini yang bikin enak, " gumam Heru dan membuat Sisil bergidik karena hembusan nafas Heru.
"Itu mah enakan di kamu mas! " Ucap Sisil dalam hati, dia tidak mau berbicara lagi dengan Heru karena perut nya sudah nggak sabar pengen di isi.
Heru yang selalu menempel hingga hidangan tersaji di meja makan, membuat Sisil berdehem tapi Heru tidak memperdulikannya. Hari ini entah pengapa Heru sangat ingin menggoda istrinya itu.
"Ini Mas bisa lepas? Mau duduk susah! " Sisil memegang kedua tangan Heru yang setia melingakar di perut Sisil.
"Kok susah tinggal begini saja. " Ujar Heru mendorong kursi lalu mendudukan dirinya, sedangkan Sisil di buat terkejut karena dia kini berada di pangkuannya.
"Suapi aku ya! " manja Heru, Sisil pun mengerutkan alisnya.
"Ternyata Mas juga bisa manja, nih! " Sisil menyuapkan sesendok rolade itu kemulut Heru
"Manja sama istri inih. " Sahut Heru mengeratkan pelukannya pada perut Sisil. "Enak masakan kamu yang."
"Hm. "
__ADS_1