Guru Dunia Akhirat

Guru Dunia Akhirat
Mesin cuci ajaib


__ADS_3

Sepasang manusia yang telah mencurahkan rindu itu terlihat saling merangkul, aktifitas yang telah mereka lakukan membuat tenaganya habis dan menyisakan rasa lelah. Terlihat jam didinding menunjukan pukul dua dini hari.


"Kenapa tidak tidur? " tanya Heru seraya mengusap puncak kepala Sisil yang kini berada bi dada bidangnya.


"Aku belum mengantuk," Sisil menekan-nekan perut Heru dengan telunjuknya.


"Kau menginginkannya lagi? " Mendengar sang suami bertanya seperti itu, membuat kedua mata tajamnya menoleh pada Heru.


"Mas kamu mau membuatku mati? " Sisil malah bertanya balik dengan nada bicara yang tegas.


"Baiklah, kalau di hitung-hitung kita telah melakukannya lima belas kali tapi kenapa aku masih menginginkannya? Memang kau membuatku candu sayang, " Heru mengeratkan pelukannya.


"Mas sekarang aku mulai ngantuk jangan bicara lagi! " Sisil mulai memejamkan matanya walau pada kenyataannya dia tidak sama sekali mengantuk.


"Padahal ada sesuatu yang harus aku bicarakan padamu," mendengar hal itu Sisil menjadi mundur dan tidur di bantal miliknya.


"Apa! " Sisil manatap wajah berkharisma itu, kalau di lihat-lihat Heru tidak memakai kaca mata lebih tampan ya, menurut Sisil.


"Apa kamu yakin ingin kuliah di jurusan kebinanan? Bukannya semenjak awal kamu menginginkan menjadi dokter?"


"Jangan di buat masalah, itu sudah keputusanku jadi kamu jangan khawatir. Sekarang cepatlah tidur! " Sisil meraih guling tapi tangannya di raih Heru.


"Jangan ada guling diantara kita! " Heru melingkarkan tangan Sisil kepinggangnya, dan melempar guling yang tidak salah itu ke lantai.


"Hm..." Sisil hanya mendengus mendengar ucapan Heru.


"Mungkin menjadi dokter bukanlah takdirku, kini aku sudah bersuami walau memungkinkan untuk terwujud tapi itu akan membuat kedepannya rumit lagi pula kuliah dan menjadi dokter perjalanannya sangat panjang, kalau harus cuti hamil nantinya malah semakin lama lagi pula menjadi bidan juga tidak terlalu buruk! " Sisil mulai memejamkan matanya perlahan serta helaan nafas yang teratur membuat Heru mengetahui bahwa Sisil sudah terlelap.


Heru mengangkat tangan Sisil perlahan, dan mulai bangun dari kasurnya lalu berjalan menghampiri ponsel dinakas. Sesaat dia memainkan jarinya di layar itu dan mulai menelepon seseorang.


"Bagaimana persiapan buat hari minggu? " tanya Heru agak pelan pada orang yang sedang dia telpon.


"Besok? Tuan ku rasa sembilan puluh lima persen telah siap, "

__ADS_1


"Pagi nanti harus seratus persen! "


"Ap-" Rian mau bicara malah terpotong dengan sambungan terputus sepihak dari bosnya itu.


"Hah tinggal membeli bunga yang banyak, sekarang mana ada toko yang buka! " Rian menunduk, lalu beranjak menghampiri kamar mandi hanya sekedar untuk mencuci mukanya.


Setelah keluar kamar mandi Rian meneguk segelas air lalu meraih ponselnya yang berada di atas meja kaca itu. Perlahan dia mengecek ponselnya dan seketika keningnya mengerut.


"Ada apa ini? Kenapa banyak sekali notif dari nomor yang tidak di kenali? " gumam Rian dan dia pum membelalak setelah membaca beberapa isi pesan itu.


"Hai sekertaris jutek, aku yang kemarin ada di semak-semak bersama mu lho! "


"Melihat mu kemarin membuat aku terpesona berkali-kali lipat, "


"Kenapa terkirim tapi tidak cepat di baca, ini baru jam delapan malam mana mungkin kan kamu langsung tidur, "


"Hah baiklah, aku nyerah deh ya! Asal kamu tau aku suka sama kamu! "


Isi pesan-pesan itu membuat Rian membanting ponselnya ke sofa.


"Percintaan anak kecil membuatku merasa geli, tapi bagaimana Bos bisa sangat mencintai nona!" Rian menyilangkan tangannya di dada dan kembali tertidur di sana.


"Ah seperti ini! " suara sensual perempuan itu memenuhi ruangan.


"Mesin cuci ini menambah kesan nikmatnya sayang," kembali racauan itu menggema.


Terlihat seorang wanita duduk di atas mesin cuci dan seorang laki-laki berdiri di hadapannya, suara mesin yang bergemuruh serta suara kenikmatan itu bersatu. Getaran dari mesin cuci dan hentakan pinggul laki-laki pada lubang inti wanita itu membuat sang wanita itu sendiri menggelinjang, dan tautan bibir itu tidak mau terlepas serta tangan laki-laki itu yang tidak diam meraba apa saja yang berada pada wanita itu.


"Squishy mu sangat besar dan kenyal, aku suka! " ucap laki-laki itu, melepaskan tautan bibir itu dan beralih meraup squishy serta kedua tangan yang meremas benda kenyal yang berada dalam dada sang wanita. Hal itu bersamaan dengan gerakan pinggang nya yang semakin bergerak kasar dan kencang.


"Aku tak tahan, " wanita itu menggigit bibir atasnya dengan mata yang menutup, merasakan kenikmatan dalam tubuh yang akan membeludak.


"Kita sama-sama sayang, "

__ADS_1


"Oh, Rian!"


"Rina! "


Alam mimpi Rian yang sedang berpantasi dalam tidurnya.


Sedangkan malam semakin pagi dan kini waktu tengah menunjukan pukul enam. Heru yang merasa sekertarisnya itu tengah menguji kesabarannya, menekan bel apartemen itu dengan kasar dan penuh emosi.


"Seumur dia menjabat jadi sekertarisku baru kali ini Rian tidak disiplin, ada apa dengannya?" gumam Heru dan terus menghubungi ponsel Rian.


"Sekali lagi dia tidak menjawab aku pastikan satu jam kedepan dia tidak akan menjadi sekertarisku! " Ucap Heru.


Disaat ponsel Heru baru menempel telinga kanannya. pintu itu akhirnya terbuka.


"Ah, Tuan aku sangat minta maaf! " Rian menunduk sangat dalam, serta kedua tangannya memohon untuk balas kasihan, agar tuannya tidak begitu memarahinya.


"Apa yang kau lakukan! " teriak Heru dan tidak lama dia melihat sesuatu yang basah dibagian celana tepat di area sensitifnya.


"Kau baru bangun dan kau...? " Heru membualatkan matanya sambil menunjuk dari atas sampai bawah. Rian mengikuti arah telunjuk tuannya itu hungga sampai pada bagian yang basah, dia langsung menutupi dengan kedua tangannya.


"T tu tuan aku permisi kekamar mandi duli sebentar, tuan bisa masuk dulu, " Rian berbalik dan berlari menghampiri kamar mandinya.


"Dasar sekertaris kurang ajar! " gumam Heru dan memasuki apertemen milik Rian.


Tidak menunggu lama, kini Heru dan Rian sudah berada di mobil dengan Rian yang mengemudi, hatinya berdegup, seumur hidupnya dia baru merasa malu dihadapan tuannya itu. Pikiran takut dibenaknya juga membuat hatinya tidak tenang, mengingat hari ini adalah hari yang dijanjikan untuk memberilan suprise pada nonanya itu, tapi dia malah belum mengerjakannya secara tuntas.


"Pokonya dalam satu jam kedepan semua sudah harus siap!" ucap Heru memecahkan keheningan.


"Satu jam! Ba baik lah, " jawab Rian gugup.


"Tuan maaf saya telat, " kemudian Rian meminta maaf, dia tidak enak apalagi tadi begitu sangat memalukan.


"Tadinya saya berniat akan memecat mu, huh... mungkin kau masih beruntung! Untuk kedepannya jika kamu seperti ini lagi jangan harap bisa keluar dengan hormat dan lagi aku tidak bisa menghadari rapat nanti sore, itu kau yang selesaikan. Juga mengenai menu baru di lestoran cabang di luar kota, kamu bisa menanganinya? " ucap Heru, mungkin ini sebuah hukuman bagi Rian.

__ADS_1


"Saya akan segera laksanakan! " dalam hati dia bersyukur swtidaknya masuh bisa bekerja dengan tuannya ini.


"Kenapa mimpi itu sekarang menjadi mengerikan! " Rian berkata dalam hati.


__ADS_2