
Alga keluar dari mansion yang ditinggali sang pujaan hati dengan senyumnya , hingga sampai rumah senyum itu tidak pudar dari bibir tebalnya, kini matanya menatap sosok yang ia kenali berada di rumahnya bersama Ulan.
" Dady akhirnya datang juga! " teriak Ulan dan berlari menghampiri Alga serta memeluknya rindu.
"Ulan nama bapak mu itu Alga bukan Dedi, dasar memang anak kecil," ucap Roroh yang tengah menyapu halaman lalu mencubit pipi Ulan gemes.
"Nenek sakit, " ringis Ulan dengan manyun di bibirnya.
"Uluh cucu nenek yang manis, maafkan nenek sayang, " Roroh menggendong Ulan lalu mencium pipinya.
"Tidak! Nenek harus membelikanku gula-gula nanti Ulan maafkan, " Ulan dengan matanya yang dikedipkan membuat Roroh berdecak.
"Cucu ku ini memang ya! " Roroh menggelitiki Ulan membuat cucunya itu tertawa terbahak dengan riangnya.
Ginanjar yang sedari tadi berdiri melihat hal itu membuatnya menitikan air mata, hatinya bergemuruh merasa sakit.
"Anakku maafkan ayah," gumam Ginanjar.
"Kamu ke sini mau ngambil Ulan? " tanya Alga membuat Ginanjar terperanjat.
"Ia, " jawab singkat Ginanjar.
"Tidak segampang itu, kau lihat bagaimana kami sangat menyayangi Ulan," nada sinis terlontar dari mulut Alga.
"Aku memohon padamu Alga, aku akan ganti semua yang telah kamu-"
"Tidak bisa tergantikan! Kasih sayang ku sama Ulan tidak bisa di gantikan dengan uang mu kau paham! Kau bisa angkat kaki dari rumah ku! " suara lantang dan tegas Alga membuat Ginanjar menunduk, dia tidak bisa mengambil Ulan begitu saja.
"Apakah aku harus berlutut kepadamu, itu anak ku darah dagingku!" ucapan Ginanjar membuat Alga muak, dia pun beranjak masuk ke rumah tanpa mengajak Ginanjar.
"Alga aku memang berhutang budi banyak kepadamu, tapi aku adalah nasab nya kau tidak bisa berbuat apa-apa!" ucap Ginanjar membuat Alga terdiam lalu menoleh.
(Nasab merupakan pertalian kekeluargaan berdasarkan hubungan darah)
"Masuk! " titah Alga dan Ginanjar pun menurut.
Kini mereka sedang saling pandang dan menatap dengan tatapan tajam mereka.
"Aku tau kau memang berhak atas Ulan tapi kau tidak bisa memisahkan kami! " Ucap tegas Alga.
__ADS_1
"Aku mengerti, aku tidak akan memutuskan hubungan kalian tapi aku mohon bisakah dia mengakuiku sebagai ayahnya! " Ginanjar yang merupakan laki-laki arogan di antara Alga dan Heru baru kali ini dia mengeluarkan air matanya dan sampai memohon pada Alga.
"Ginan! " gumam Alga.
"Ku mohon," ucap Ginanjar parau, sedangkan Alga yang baru melihat kelemakan Ginanjar itu mengepalkan tangannya. Dia sangat tau walau pun Ginanjar kasar dan arogan tapi dia sangat menyayangi orang yang dia cintai melebihi dirinya sendiri. Seperti dia menyukai Wulan, walau Wulan memanfaatkannya hanya untuk mendapatkan Heru dia tetap menyayangi Wulan, bahakan sampai rela kehilangan sahabatnya sendiri yakni Heru karena Heru menolak Wulan.
"Papah! " Ulan berlari dan memeluk Alga, membuat Alga pun membalas memeluk erat Ulan.
"Papah aku di larang sama nenek untuk memanggil papah dengan sebutan Dady, padahal itu kan keren, " Ulan mengerucutkan bibirnya lucu, membuat Alga mencium kedua pipi Ulan bergantian.
"Kalau gitu biar aku,kamu sebut Dady sayang! " Ginanajar tersenyum getir memandang sang anak yang cantik, sekilas roman wajah Ulan mirip Ginanjar tapi terbesit juga wajah Wulan di sana, Perpaduan yang sempurna.
"Eh Om masih di sini? Aku tidak melihat tadi maaf ya Om! " ucapan Ulan sekses membuat buliran air mata itu menetes kembali.
"Om menangis?" ujar Ulan lalu menatap Alga terlebih dahulu untuk meminta ijin mendekati Ginanjar, dan Alga pun mengangguk, segera Ulan pun mendekati Ginanjar.
"Yak Om! Jangan menangis, ia deh aku akan memanggil Om dengan sebutan Dady. Hai Dady don't cry! " Ucap Ulan dengan suara khas anak kecil, Ginanjar pun segera memeluk erat anaknya itu dan disitulah Ginanjar menangis sesegukan.
"Anakku, " Ginanjar mencium kening, kedua mata, kedua pipi serta dagu sambil terus mengeluarkan air matanya dan kembali memeluknya. Sedangkan Alga hanya menunduk menyembunyikan rasa haru yang dia lihat.
"Dady kenapa? " tanya Ulan, Ginanjar pun merenggangakan pelukannya lalu menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
"Dady, " ucap Ulan menatap Ginanjar dan tersenyum manis.
"Lagi, " Ginanjar memegang kedua bahu Ulan lembut.
"Dady, "
"Lagi, "
"Dady, Dady, Dadyyyyyy! "
"Lagi, lagi! " Gianajar sangat senang luar biasa.
"Dady, kau harus membelikanku gula-gula! " ucapan Ulan sentak membuat Ginanjar dan Alga terkekeh.
"Dady akan belikan gula-gula sangat banyak buat kamu, apa Dady harus membelinya beserta penjualnya? " Ginanjar mencolek idung Ulan yang mancung seperti dirinya itu dengan gemas.
"Kalau sama pembelinya ya jangan," sahut Ulan dan kembali mengahampiri Alga, membuat Ginanjar sedikit kesal di buatnya cemburu.
__ADS_1
"Papah bukannya Dady sangat baik! " ujar Ulan memandang Alga.
"Ia sayang! " Alga mengusap puncak kepala Ulan.
Sedangkan di kediaman Bastian , Elsa hanya terdiam di kamar sambil memeluk guling dipangkuannya, dia masih tidak menyangka dengan apa yang terjadi tadi.
"Mas Alga bercandanya berlebihan sekali? Pake cium kening segala lagi kan jadi baper sekarang Huh! Tapi kalau ia gimana, emang sih Mas Alga itu ganteng tapi apa ia dia benar-benar menyukaiku? Lah dasar memang, kita lihat aja nanti malam . Andai aku punya teman aku pengen curhat! " gumam Elsa lalu membaringkan dirinya di kasur empuk itu, melihat langit-langit dan terbayang di sana wajaj Alga yang tengah tersenyum.
"Apakah aku udah Gila? Aku harus menelepon Sisil! " dengan sigap Elsa meraih ponselnya dan memulai pembicaraan bersama Sisil.
Mereka berbicara cukup lama sekitar ada dua jamman dan hal itu membuat Heru kesal terhadap adiknya itu.
"Teleponannya lama banget sih, ini di anggurin! " ucap Heru membuat Sisil menoleh dan terkejut karena melihat Heru yang telah membuka baju serta celananya itu.
"Mas pake bajumu! " terdengar suara Sisil disebrang sana membaut Elsa terdiam.
"Elsa nanti malam aku dan Mas Heru akan ke mansion, sekarang udah dulu ya, " ucap Sisil memutuskan sambungan teleponnya.
Elsa yang saat ini tengah cengo karena mendengar kata-kata yang tidak seharusnya di dengar, Elsa mendengar sang kakak yang berkata demikian membuat pikirannya trapeling.
"Gini nih yang matanya udah ternoda, jadi belewor nih pikiran! " gumam Elsa.
"Elsa! " terdengar sang mama memanggil di balik pintu kamarnya, membuatnya terperanjat dan segera menghampiri dan membuka pintu itu.
"Iya mah, " sahut Elsa.
"Papah mau ngomong sama kamu, " beri tau Lina membuat Elsa gugup, pasti papanya akan membahas Alga.
"Mamah udah memberi tahu Papah? " tanya Elsa.
"Tentu saja! Waktu hampir malam, bukannya keluarga Alga akan kemari? "
"Ah benar juga, tapi mah aku gugup, tidak menyangka Mas Alga akan melamar ku. Malah dadakan lagi aku juga belum terlalu yakin! " keluh Elsa membuat Lina tersenyum.
"Baiklah Mamah mengerti, sekarang temu Papah mu dan bicaralah sesuai kata hati mu jangan sampai keputusanmu membawa penyesalan pada akhirnya!"
"Tapi mah Papah kan tegas banget, aku jadi takut! "
"Tenang saja, Papah begitu juga untuk kebaikannmu jika keputusanmu memang yang terbaik pasti Papah juga bakalan mendukungnya."
__ADS_1
"Ah ya, baiklah! " Elsa pun meningglakan kamarnya dan keruang keluarga untuk menemui Papahnya.