
HAI PEMBACA YANG BAIK πππ SEHAT-SEHAT YA...
JANGAN LUPA, LIKE, FAV, VOTE KARYA INI YA πππ
BIAR AUTHORNYA MENJADI LEBIH SEMANGAT,
πΊπΊπΊ
Tidak ada yang membatasi rasa suka, tidak ada yang menghalangi rasa cinta, dan tidak ada sayang yang takkan terlupakan. Perasaan manusia itu seperti permen nano-nano, banyak yang di rasa hingga susah untuk ditafsirkan, manis asin asam rasanya bersatu hingga membentuk satu kesatuan, tapi tetap ditelan dan membawa bekas di mulut.
Begitu juga dengan perasaan, ada senang susah sedih mereka rasakan tapi tetap dipertahankannya, walau pun tidak bisa bertahan tapi bisa membekas di hati.
Seperti rasa cinta yang teramat bagi Ginanjar terhadap Wulan, dia bisa merasakan bagaimana suatu hubungan hingga pada akhirnya tak terasa membuat luka yang sangat dalam. Terlihat disebuah danau Ginanjar terduduk dirumput membiarakan bokongnya basah karena embun pagi hari ini. Hingga seseorang menghampirinya dari belakang.
"Kenapa kau mancariku?" tanya Heru acuh.
"Kau pantas membenciku, tadinya aku bisa saja mengabaikanmu tapi kau tidak terlibat terhadap masalahku tapi aku selalu menyalahkanmu, ternyata kau benar aku sudah memikirkannya jauh, aku tidak memperhatikan bahwa di sampingku selalu ada kawan yang baik terhadapku hingga membuat mu berpisah dari ku, " Ginanjar menatap sendu Heru yang merupakan sahabatnya di sekolah menengah atas, tapi gara-gara Wulan yang waktu sekolah dulu pacarnya Ginanjar, malah selalu menempel pada Heru lalu mencipatakan kesalah pahaman di keduanya sampai sekarang.
"Syukurlah kalau kau menyesal," Heru beranjak meninggalkan Ginanjar.
"Apa kau memaafkan ku? " teriak Ginanjar, tapi tidak ada sahutan dari Heru.
Heru masuk mobil lalu menjalankannya membelah jalanan kota yang terlihat cerah itu, senyumnya merekah dia tidak habis pikir dengan Ginanjar, dia yang dulu mengeroyokinya dengan beberapa kawannya yang lain dan hampir mati, mempermainkan perasaan sang adik serta kemarin mencoba membuat Sisil terluka apakah hal itu bisa begitu saja di maafkan? Heru bersyukur jika Ginanjar mengetahui kebenarannya, tapi memaafkannya butuh waktu untuk memikirkannya.
Mobil warna hitam yang di kendarai oleh Heru berhenti di palkiran sekolah, Di sana ada Ratna yang tengah menunggu, entah rencana apa lagi yang akan di lakukan olehnya.
"Pagi Pak! " sapa Ratna dengan senyum yang sangat indah, terpampang di wajahnya yang cantik.
"Ada yang kau inginkan? " tanya Heru, membuat Ratna semakin tersipu merasa kalau Heru tidak mendiamkannya kali ini.
"Aku ingin bapak, " genit Ratna, tapi bagi Heru kelakuan muridnya itu begitu menjijikan.
"Bersikaplah layaknya murid, dan camkan kata-kataku ingat kau akan menyadari bahwa tidak semua kau bisa dapatkan selama apa pun, dan seberusaha bagaimana pun jika kau hanya menuruti egomu," ucap Heru lalu pergi meninggalkan Ratna yang terdiam.
triingggggg
Suara bel berbunyi menandakan bahwa pelajaran di sekolah itu akan segera di mulai. Sisil, Oliv dan Ratna serta murid dikelas itu pun terlihat menduduki bangkunya masing-masing hingga guru pun terlihat memasuki kelas itu.
__ADS_1
"Pagi anak-anak, kali ini kita akan membahas tentang sistem reproduksi walau pelajaran ini sudah kalian pelajari, tapi kalian harus lebih mendalaminya lagi karena tinggal beberapa minggu lagi kalian akan ujian," ucap sang guru membuat riuh kelas itu.
Di saat guru laki-laki itu menerangkan pelajarannya, semua siswa terlihat sangat fokus dan antusias, entah mengapa jika membahas pelajaran biologi terkadang mereka mendadak siap untuk belajar. Walau tidak semua kelas seperti itu.
Sisil yang sudah memahami hal tersebut merasa teringat akan dirinya kini, dia jadi berfikir apakah jika terlalu lama meminum obat itu akan berdampak jangka panjang? Jadi dia berniat akan konsultasi, walau sudah lama dia memikirkan itu karena malu tapi kali ini dia harus pergi karena takut akan mempengruhi masa depannya, apalagi Heru terlihat menginginkan anak dari Sisil.
Sedangkan di tempat lain tepatnya di halaman rumah Heru dan Sisil, terlihat Elsa tengah duduk di bangku rotan dengan segelas susu di tangannya.
"Pah, hari ini sekolah aku di pulangkan katanya gurunya mau ada rapat," ucap mulut kecil itu, membuat Elsa menoleh ke arah suara itu.
"Terus kenapa Ulan ke sini, papah lagi kerja!" Alga mengelus puncak kepala Ulan lembut.
"Aku rindu papah, aku ingin sama papah!" rajuk Ulan sambil menggoyangkan tangan Alga.
"Nanti kalau papah pulang, papah kasih keju stick kesukaanmu,"
"No Papah, "
"Kenapa? "
"Baiklah, jangan nakal ya, " peringat Alga menujukan jari telunjuknya kepada anaknya itu.
Dari kejauhan Elsa terlihat menutup mulutnya, dia tidak menyangka kalau Alga sudah mempunyai anak.
Hingga akhirnya tatapan mereka pun bertemu, Elsa segera beranjak ke dalam rumah.
"Ada apa dengan ku, bukannya aku kali ini sedang bersedih karena di khianati Ginanjar tapi kenapa sekarang aku merasa tidak rela kalau satpam itu sudah punya anak, berarti dia udah menikah," gumam Elsa di balik pintu.
"Ada apa non? " tanya bi Mimin, menatap heran adik majikannya itu.
"Akh tidak, hanya saja aku merasa gak enak badan mungkin belum mandi kali ya, hahaha," ketawa garing Elsa, sedangkan bi Mimin hanya mengerutkan keningnya.
"Baiklah Bi, aku mau mandi dulu," pamit Elsa dan hanya dijawab oleh anggukan.
Elsa telah sampai di kamarnya dan tidak sengaja menoleh pada jendela, terlihat Ginanjar di sana tengah berdiri sambil mengusap pipinya seperti tengah menangis. Karena penasaran Elsa pun keluar berniat untuk menemui Ginanjar, tapi sesampainya di sana Ginanjar sudah tidak ada.
"Apakah aku berhalusinasi? Oh sebegitunya aku, aku rasa harus menemui-"
__ADS_1
"Nona sedang apa disini? " tiba-tiba Alga mengagetkan Elsa.
"Hei! Kau membuatku terkejut!" teriak Elsa.
"Aku hanya penasaran apa yang sedang nona lakukan di pinggir selokan ini? " Alga menunjuk selokan yang ditutupi besi rongga itu, tepat si depan rumah.
"Sedang mencari ikan, " jawab ketus Elsa memalingkan pandangannya.
"Mana ada ikan diselokan ini nona, mau saya carikan ikan buat nona? "
"Tidak perlu!" Elsa berbalik dan melihat ada anak perempuan yang kini berada di hadapannya.
"Hai tante, " sapa Ulan pada Elsa, mendengar kata tante Elsa hanya senyum masam pada Ulan.
"Apakah aku terlihat tua di matamu? Dan kamu siapa? " Tanya Elsa pura-pura tidak tau.
"Tante lebih tua dari ku, aku Wulan tapi papah ku suka memanggilku Ulan," Ulan tersenyum.
"Kau sangat pintar jangan panggil aku tante, aku belum setua itu. "
"Aku harus memangil apa? " tanya Ulan dengan tangan yang saling bertautan.
"Hm, sebelum itu kau ada di sini bersama papahmu? Bukannya dirumah ada ibumu?" tanya Elsa tanpa basa basi, membuat Alga tersenyum dia mengetahui maksudnya.
"Aku ingin sama papah, ibuku dia sudah meninggal! " jawab Ulan sambil menunduk, dia terlihat sedih membuat Elsa menyesal bertanya seperti itu.
"Maafkan aku telah menyinggungmu, jangan sedih aku mempunyai sesuatu untukmu apa kau mau? " Elsa menyodorkan kalung dengan liontin berbentuk hati.
"Ini buat ku? "
"hu um! " Elsa meraih tangan Ulan lalu memberikan kalung itu.
kalung yang di berikan Elsa kepada Ulan itu adalah pemberian Ginanjar, saat Ginanjar memintanya untuk menjadi kekasih waktu itu.
"Makasih, sekarang aku memanggil mu apa! "
"Ibu! " sahut Elsa dan sukses membuat Alga melongo. "Ibu guru, karena sebentar lagi aku akan menjadi guru buat muridku kelak. " Elsa mengarang, Alga pun hanya bisa menepuk pelan dahinya.
__ADS_1