
"Sil aku pijem Hp kamu dong, " ucap Oliv menyodorkan tangannya ke arah Sisil.
"Hp kamu kemana? "tanya Sisil merogoh tasnya, mencari benda pipih itu.
"Punya aku kehabisan batrai, mau nelpon mamah soalnya lupa disuruh beli apa," Oliv terlihat cekikikan sedangkan Sisil terlihat gusar, sampai-sampai dia mengeluarkan semua isi tasnya.
"Hp ku gak ada Liv, "
"Tadinya di simpen di mana? "
"Aku lupa terakhir kali aku simpen hp aku dirumah, apa ketinggalan ya? " gumam Sisil sedangkan Oliv hanya berdecak, dia merogoh tas Sisil mencoba membantu mencari.
"Udah pasti di rumah kalau kamu nggak bawa ke sekolah. " Ujar Oliv seketika Sisil mengingat kalau dirinya tadi pagi begitu saja pergi, dan meninggalakn Heru dikamarnya jadi dia nggak sempat bawa hpnya dinakas.
"Iya Liv pasti nih dirumah. "
"Hm... Bisa kena omel nih sama mamah. " Keluh Oliv menatap sendu Sisil. Sedangkan yang di tatapnya itu sibuk merapikan barangnya lalu memasukannya ke dalam tas. "Lama banget Rina beli seblaknya padahal deket kan?" kembali Rina bicara, dia berniat akan meminjam punya Rina.
"Mungkin ngantri kali. " Sahut Sisil sambil kembali menggendong tas nya.
Tak lama kemudian Rina datang dengan 3 bungkus seblak dikedua tangannya.
"Yang beli rame, aku ngantri sampai kesemutan ini. " Tiba-tiba Rina duduk dipangkuan Sisil dan Oliv yang tengah duduk dibangku taman dekat sekolah membuat keduanya meringis.
"Kalau duduk ya di tempanya dong Rin. " Hardik Sisil mencubit pelan kaki Rina.
"Hm aku dah pasrah lah, terserah kamu aja Rin. " ucap Oliv membuat Rina tertawa.
"Masalahnya apa? Kan itung-itung buruh sudah membelikan kalian seblak. "
"Berat! " serentak Sisil dan Oliv bicara dengan lantang, membuat Rina menutup kedua telinganya dengan tangan.
"Kalian jahat, aku cuma 50 kilo beratan Sisil di banding aku. "Manyun Rina dan segera berdiri dari pangkuan keduanya. Sedangakan kedua temannya itu malah ketawa.
"Ini udah sore, kita pulang." Ajak Oliv menggandeng kedua tangan temannya itu.
"Pulang ke mana? Motor ku dipalkiran bukan mau naik bus," Ucap Sisil melepaskan pegangan tangan Rina dan Oliv.
" Kalau gitu kita pisah disini aja jemputanku sudah datang noh. " Rina menujuk mobil di sebrang jalan.
__ADS_1
"Rin aku ikut sampai bengkel yang deket lampu merah, motorku pagi tadi mogok. " Oliv menggandeng tangan Rina sedangkan sedari tadi Sisil sudah lama meninggalkan mereka menuju palkiran.
Dipalkiran Sisil menemukan motornya dengan keadaan yang sangat menyedihkan, kedua ban motornya tergeletak penyok, semua mesinnya tergeletak tak beraturan. Tangan Sisil mengepal, dia melihat di sekeliling nya dan menemukan ujung sepatu di sudut pojok tembok. segera Sisil menghampiri tapi nihil saat Sisil sudah berada di pojok sosok wanita dengan rambutnya sebahu itu berlari dengan cepat.
"Dasar wanita kutu kupret!" Sisil tidak menyerah dia berlari sekencang kencangnya, berusaha mengejar wanita itu. Hingga akhirnya dia mendengar suara dari salah satu kelas di lorong itu.
"Kamu memang hebat Si Sisil itu pasti sekarang tengah menangis sesegukan gak bisa pulang, secara dia terlihat seperti anak manja. Ha ha" senyum mengejek itu terukir indah pada wanita yang mempunyai rambut sebahu dan di susul tawa oleh ke empat temannya.
"Beraninya dia menggoda Pak Heru, dia adalah gebetanku masa bodo dia udah punya tunangan. " Ucap wanita berambut sebahu yakni Ratna.
"Kamu memang terobsesi sama guru ganteng itu." Ucap temannya yang duduk di depan Ratna.
"Entah lah hatiku selalu berbunga-bunga kalau bertemu Pak Heru, sekarang pun aku telah menyelidiki siapa tunangan Pak Heru, mau aku bikin dia putus sama gebetanku itu "
"Gila kamu Rat, "
"Gila cinta. Ha ha ha. " Mereka pun terlihat tertawa dengan menggelegarnya, Sisil yang melihat mereka pun hanya tersenyum mengejek.
"Pelakor mulai beraksi nih, liat aja nanti nona manis siapa yang akan nangis tersedu sedu. " Ucap Sisil dan pergi begitu saja.
Lain di rumah, Heru terlihat mondar mandir di ruang tamu membuat Mirna heran dengan menantunya itu.
" Itu Mah, Sisil belum pulang ini sudah mau malam Hp nya malah gak dibawa."
"Biasanya kalau belum pulang Sisil selalu ke rumah Rina dulu bentar mamah telpon dia." Terlihat Mirna menelpon dan terdengar suara dari sebrang sana.
" Sisil nggak ke rumah aku tante, tadi Sisil keparkiran ngambil motornya. Rina pikir Sisil telah sampai rumah." Segera Heru mengambil kunci mobil di sakunya dan pergi setelah mendengar penjelasan Rina lewat telpon Mirna.
Heru segera menjalankan mobilnya menuju sekolah, sedangkan Sisil dia terlihat tengah duduk santai di kursi bus.
"Astagfirullah Sisil! " kini Heru menjadi lebih khawatir karena melihat motor Sisil yang berantakan. Heru kalang kabut berlari kesana kemari mencari Sisil. Peluh yang bercucuran mulai terlihat di kening, dia terus meneriaki nama Sisil takun Sisil kanapa-napa. "Gara-gara rapat penting tadi aku gak bisa ke sekolah, sial! " gumam Heru menyalahkan dirinya sendiri.
Kini Sisil telah sampai dihalaman rumahnya dan berjalan masuk kerumah. "Assalamualaikum. " Salam Sisil membuat sang mama berlari lalu memeluk anaknya itu.
"Waalaikumsalam, nak mamah sangat khawatir Rina bilang kamu tidak bersamanya."
"Motorku mogok di jalan dan Hp ku lupa aku gak bawa maafin Sisil ya buat mamah khawatir." Bohong Sisil, Mirna pun melepaskan pelukannya.
"Cepat telepon suami mu, tadi dia juga sangat khawatir padamu." Suruh Mirna, Sisil lupa kalau sekarang selain orang tuanya ada suami yang mengkhawatirkannya.
__ADS_1
"M... itu mah, Sisil gak punya nomernya. "
"Apa! Kamu ini, nomor suami sendiri gak tau setelah dia pulang cepat kamu simpan nomornya. "
"Iya mah, atau mamah aja yang telpon."
"Biar mamah minta pada Lina. " ucap Mirna mengambis Hp nya di meja.
"Mamah juga gak tau nomer Pak Heru ." Gumam Sisil dan mendapat tatapan tajam dari mamahnya itu.
Sisil segera ke kamar lalu membuka seragamnya, dan berjalan memasuki kamar mandi. Badannga menjadi sangat lengket apa lagi setelah menyusun rencana untuk balas dendam.
Heru yang mendapat telpon daru Mirna pun menghembuskan napas, dan bergegas menuju mobilnya. Dia tidak sabar melihat keadaan Sisil tapi sebelum itu, Heru sempat ke ruang rekaman sisi tv dan menemukan siapa yang telah berani berbuat jahat pada istrinya itu.
"Perbaiki motor istriku di parkiran sekolah secepatnya harus kembali utuh! " perintah Heru pada seseorang yang ditelponnya.
Setelah sampai rumah Heru segera menghampiri Mirna di sofa.
"Mah Sisil.. "
"Dia di kamar nak. "
Dengan gerakan kilat Heru kini berada di pintu kamar Sisil lalu membukanya dengan kasar, membuat si eumpunya berteriak.
"Pak bisakah ketuk pintu dulu? "Sentak Sisil, dia terlihat baru saja selesai mendi tentu saja hanya handuk yang menutupi bagian dada dan setengah pahanya saja, dengan handuk kecil yang melilit rambut basahnya.
Heru segera memeluk istrinya itu erat sangat erat hingga Sisil sedikit sesak. "Pak sesak nih. " Mendengar Sisil dengan suara paraunya Heru melepaskan pelukannya lalu memegang bahunya membolak balikan tubuh Sisil menjelajahi setiap inci tubuhnya itu dengan tatapannya.
"Gak ada yang luka kan? Gak ada yang sakit? " Tanya Heru membuat Sisil geram.
"Allhamdulilah Pak semua baik-baik saja. Dan bisakah bapak menghentikan tatapan itu, membuat saya sekarang menjadi tidak baik-baik saja! " Ucapan Sisil membuat Heru mengerjap, dia baru menyadari Sisil sekarang tengah tidak memakai baju.
"Khm kenapa memang? Sekarang semua yang ada dikamu milik aku. " Sahut Heru dengan senyum menggodanya.
"Bapak mesum! " Sisil segera berlalu dan masuk dalam ruangan pakaian. Sedangkan Heru dia tertawa tertahan, dan bergegas mandi sebelum itu Heru mendekatkan bibirnya pada gorden dibalik Sisil memakaikan bajunya.
"Tunggu aku, aku sangat merindukanmu seharian nggak ketemu. Dan aku minta jatah malam ini ya. " bisik Heru.
"Pak Heru! "Teriak Sisil, membuat Heru tertawa sampai masuk kamar mandi.
__ADS_1