
Masih di dalam kamar yang hanya ditemani lampu tidur yang remang, Sisil dan Heru dia tengah berbincang di atas kasur yang empuk itu.
"Aku tidak bisa berbohong padamu, aku memerintahkan mereka karena sangat mengkhawatirkanmu. Kejadian tadi saat sepeda motormu blong aku sangat khawatir dan langsung meneleponmu. Hal itu tidak bisa di biarakan, aku takut sangat takut istri ku ini kenapa-napa semua yang menimpamu itu karena ku." jelas Heru kembali memeluk perut Sisil, sedangkan Sisil sendiri sedang menahan tangis karena haru.
"Walau aku tau kamu bisa menjaga dirimu sendiri itu tidak bisa membuatku tenang, jadi jangan marah! " sambung Heru sambil mengeratkan pelukannya. Sisil mulai meneteskan air matanya, Heru yang menyadari pergerakan perut Sisil yang bergetar segera dia membalikan paksa tubuh Sisil sehingga mereka saling menatap.
"Kenapa kamu menangis? " Heru mengusap pipi yang teraliri air mata itu
"Ternyata aku menikah dengan orang lebay sepertimu Mas! " suara parau itu keluar dari mulut Sisil.
"Siapa yang lebay? Aku apa adanya, aku memang sayang sama kamu apalagi sekarang kau sangat saxy dengan suaramu seperti itu membuatku tergoda, aku ingin memakanmu," Heru bukannya menenangkan istri yang sedang sedih malah mengukungnya.
"Mas kau itu memang lebay, aku tidak suka ada yang menguntit aktifitasku karena hal itu membuatku risih, aku akan berterima kasih padamu karena telah khawatir tapi suruh semua laki-laki berjas hitam itu untuk tidak membuntutiku lagi ,"Sisil mengigit bibir bawahnya, takut kalau malah suaminya itu yang balik marah kepadanya.
Mendengar hal itu Heru begitu saja bangun, menarik tangan istrinya kasar mereka kini duduk di kasur sambil saling pandang, tapi tatapan Heru sangat mengerikan sekarang menurut Sisil, dia sekarang tau pada akhirnya suaminya itu benar akan marah.
"Kau istriku, semua yang ada padamu walau sehelai rambut milikmu itu adalah hak dan tanggung jawabku, aku yang berhak atas hidupmu, aku berhak melindungimu bagaimana pun caranya dan lagi ingat jika aku menginginkan anak dari mu itu adalah kewajiban untukmu. Jadi jangan berharap mulai sekarang kau bisa membantah lagi, aku akan lebih tegas mulai sekarang!" tatapan Heru begitu melekat di hati Sisil yang kini gemetar takut, ini pertama kalinya Heru sangat marah kepadanya kemudian Heru merogoh sesuatu didalam laci.
"Kau lihat obat laknat ini, aku selalu muak jika kau meminumnya. Jika dulu kau selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan dan membantah ku, maka mulai sekarang aku yang akan membantahmu dan akan mendapatkan apa yang aku inginkan! "Heru meremas beberapa kaplet obat kontrasepsi itu lalu menginjaknya. Sisil semakin ketakutan, tangannya meremas seprai dan matanya mulai berkaca.
Heru yang tersulut emosi itu tidak geming melihat Sisil menangis, ini merupakan peringatan buat Sisil bahwa semua yang di lakukan Heru adalah kasih sayang dan cintanya tapi tidak dihargai oleh Sisil. Heru pun membaringkan Sisil dengan kasar, menciumnya dengan rakus dan mencengkram gundukan itu dengan keras. Sisil yang merasakan sakit ditubuhnya, mencoba melepaskan diri walau hal itu tidak mungkin.
"Maafkan aku, ini sak-hmpp," ucapan Sisil terhenti karena Heru meraup bibirnya kasar, air mata Sisil terus mengalir tapi Heru tidak meperdulikannya.
__ADS_1
Pagi hari yang cerah tapi tidak secerah hati wanita yang kini masih terbaring di ranjang, seluruh tubuhnya penuh dengan tanda merah. Perlahan Sisil membuka matanya, merasakan seluruh tubuhnya yang sangat sakit akibat suaminya itu, di lihatnya ke samping Sisil tidak menemukan Heru di sana mungkin dia belum baikan mengenai semalam. Kini Sisil menyesal dengan ucapannya semalam yang mengakibatkan Heru marah, dan membuatnya sakit hati serta sakit di seluruh badannya. Dengan susah Sisil bangun dan melihat jam sudah jam enam pagi, dia pun memaksakan diri untuk cepat kekamar mandi.
Sedangkan dilestoran, terlihat beberapa karyawan di sana tengah membersihkan tempat itu dan sang pemilik pun terlihat duduk di kursi ruang kerjanya sambil kedua tangannya memegang kepala.
"Apa aku keterlaluan? Seharusnya aku tidak seemosi itu, " Heru mengusap mukanya prustasi.
Jam mengajar Heru hari ini di mulai dari jam pelajaran kedua, jadi setelah urusan lestoran dia pun kesekolah. Untuk urusan lestoran cabang yang lainnya Heru telah merekrut orang-orang kepercayaannya di sana, tapi setiap hari Heru bakalan mendapatkan laporan berbentuk email dari orang-orang itu untuk melihat perkembangannya.
Kini waktu semakin siang Sisil secepat kilat memasuki gerbang itu, dan di saat kakinya melewati gerbang itu bel masuk berbunyi membuat nafas lega dari dirinya. Sisil pun kembali berlari menuju kelasnya. Disana semua temannya sudah duduk dengan rapih dan Sisil masih akan duduk di bangkunya.
"Sil kamu sakit? " tanya temannya itu, membuat Rina dan Oliv yang dari tadi memainkan ponsel untuk menghubungi Sisil, menoleh.
"Kamu kenapa? " Rina kini yang bertanya.
"Kalau sakit jangan di paksain," Oliv dengan khawatirnya.
Mereka tentu saja mengira kalau Sisil sakit, terlihat dari sweteer yang dia kenakan serta sal yang meliliti leher jenjangnya itu.
"Udah mendingan kamu ke UKS deh, ntar pelajaran ke dua pulang aja nanti aku antar, " usul Rina membuat Sisil merasa bersalah pada sahabatnya itu.
"Tidak, aku kuat kok, " Sisil menaruh tasnya dan merogoh buku yang akan dia pelajari sekarang karena guru telah datang.
Sisil tidak fokus pada pelajaran kali ini, pikirannya hanya menjurus pada kejadian semalan dan kata-kata sang suami. Perlahan dia memegangi perutnya, dia sekarang kepikiran tentang memiliki anak yang di inginkan Heru. Dia pun mulai membayangkan cita-cita yang ingin dia raih mungkin saja akan kandas, memang semua ini salah nya yang tidak patuh pada suaminya itu. Hingga Rina yang berada di sampingnya menyadari bahwa ada seauatu yang salah dari diri Sisil.
__ADS_1
"Benar kau baik-baik saja? " tanya Runa, Sisil menoleh masih dengan tangan yang memijit keningnya.
"Aku baik, tenang saja hanya pusing sedikit. " elak Sisil.
"Jangan bohong, aku akan mengantarmu ke UKS dan menemanimu. "
"Tidak usah, sebentar lagi juga bel istirahat lagian ini hari jumat," ucap Sisil, biasanya kalau hari jumat di sekolah itu cuman sampai jam sebelas udah pulang, dan di lanjut jam satu ekstrakulikuler pramuka, bagi yang ikutan aja sih.
Tringggggg
Akhirnya yang di tunggu Sisil tiba, dia sudah tidak kuat lapar mengingat pagi tadi dia tidak sempat serapan.
"Cepat aku sudah lapar, " Sisil berlari kekantin dan di susul oleh Rina dan Oliv.
Heru telah datang dari lestroan ke sekolah dan mampir di perpustakann, dia sedang mencari bahan pelajaran yang akan dia ajarkan pada anak muridnya itu, hingga suara seseorang menggangunya.
"Hai Pak Heru," nada genit itu keluar dari mulut merah milik Ratna, Heru yang mengetahui dia adalah Ratna maka tidak ia tanggapi.
"Pak ditanya kenapa diam saja, padahal aku baik-baik ingin diajarkan materi tentang bab ini aku belum mengerti. " alasan Sisil menyodorkan buku ke arah Heru.
"Aku tidak mengajar kelasmu jadi pergilah temui gurumu! " cuek Heru. Tapi Ratna tidak diam, dia berusaha menarik perhatian Heru hingga suatu ide terlintas di kepala Ratna.
Ratna perlahan mendekati Heru dan berdiri tepat di hadapannya lalu menarik dasi yang Heru kenakan, Sedangkan Heru yang tidak siap tertarik kearah Ratna dan bibir mereka pun bersentuhan, dan secara sepontan tangan Heru pun memegang pinggang Ratna hingga...
__ADS_1
Brakkkkkk
"Woy! " Suara teriakan Sisil melengking di seluruh perpustakann itu.