
Terdengar suara bel berbunyi dari gedung sekolah taman kanak-kanak itu, Alga dan Ginanjar terlihat sedang duduk di bawah pohon dekat dengan sekolah itu.
"Kau sudah menikah?" tanya Ginanjar memulai percakapan.
"Belum, " jawab Alga santai, tapi malah membuat Ginanjar berfikir yang tidak-tidak.
"Kau bisa punya anak, padahal kau belum menikah. Dari mana asal anak itu. " Ginanjar menatap Alga dengan penuh telisik.
Dulu Alga di kenal dengan sifatnya yang baik dan lemah lembut, laki-laki yang sangat menghargai orang tuanya walau dia bukan dari kalangan atas tapi dia tidak berkecil hati. Terkadang dia humoris dan bisa di andalkan, tapi melihat penuturan tadi Ginanjar menjadi sedikit bingung akan hal ini. Apakah Alga sudah menjadi seorang yang buruk sifatnya? Apa mungkin dia melakukan keburukan itu karena sudah tidak mampu untuk bersabar? pikiran Ginanjar pun bercabang.
"Dari rahim ibunya, " kali ini Ginanjar mulai geram dengan Alga sedangkan sang empunya malah terfokus melihat anak-anak yang sedang keluar gedung itu bersamaan.
"Aku tidak bodoh! Kau menghamili wanita tanpa menikah! " celetuk Ginanjar tanpa basa basi, membuat Alga tertawa.
"Kau percaya aku melakukan itu? "
"Terserah kehidupanmu seperti apa, aku hanya ingin tahu satu hal, kau kenal Wulan?"
"Dia ibu dari anak itu! "
"WHAT, k k kau! " Ginanjar meninggikan suaranya.
"Sebenarnya dia itu anak mu dan Wulan," Alga menoleh menatap manik bola Ginanjar yang kini semakin terkejut dan perlahan tubuhnya lemas.
"Ti ti tidak mungkin! Aku tidak pernah menodai dia!" Pandangan Ginanjar mulai muram, dia tidak percaya apakah ini hanya lelucon semata!
"Kau mungkin tidak ingat, lima tahun yang lalu di saat ulang tahun Wulan kau pun hadir kan? Di kala itu Wulan menaburkan obat perangsang pada CEO terkaya se ibu kota yang notabenya dia adalah teman sekolah Wulan, tapi dia malah salah sasaran, apa kau masih ingat! Di saat kau kepanasan karena epek obat itu, kau menghampiri Wulan berniat untuk meminta air es dan kalian pun terlihat ke dapur tapi entah kenapa kau dan Wulan malah melakukan hal yang tidak pantas di kamar mandi, yang berada di dapur." Alga dengan panjang lebar, sedangkan Ginanjar hanya menatap gedung sekolah TK itu jauh.
__ADS_1
"Kau tau dari mana? Sampai se detail itu! "
"Saat itu kebetulan aku yang menjadi penjaga rumah Wulan, saat itu aku mau menyapa mu tapi karena seragam satpamku ini aku menjadi tidak berniat menyapamu, hingga aku menemukan Wulan menaburkan sesuatu ke gelas itu. Aku melihat Wulan yang menyodorkan gelas itu ke CEO terkaya itu, tapi kau malah merebutnya. Apa kau yakin tidak melakukan hal itu di kamar mandi? " Alga menatap Ginanjar dengan rasa iba.
"A aku... " Ginanjar mencoba mengingat kejadian itu, terbesit di pikirannya bahwa saat itu dia hanya ingin mandi saja makanya dia pergi ke kamar mandi, memang di sana dia bersama Wulan tapi entah mengapa dia tidak mengingatnya lagi. "Sial! "
"Tadinya aku hanya menduga-duga saja, karena Wulan sebelumnya tidak pernah berkeliaran malam atau sekedar membawa laki-laki ke rumah, dan pada saat itu Wulan di kabarkan hamil. Usia kandungannya waktu itu tiga bulan pas dari hari ulang tahunnya maka aku jadi berfikir bahwa kaulah orang yang membuat Wulan hamil. "
"Aku, apakah benar? Kenapa dia tidak mencariku! " suara Ginanjar sedikit meninggi.
"Aku tidak tau, waktu itu Wulan di usir oleh ayahnya dan beberapa bulan kemudian aku kembali bertemu dengannya di jalan sambil memegang perutnya yang besar dan raut muka yang pucat, dan hari itu juga anak perempuan lahir tanpa seorang ayah dan di benci oleh ibunnya, " Alga tertunduk mengingat kejadian itu dia sangat prihatin.
"Di saat aku kembali keruang perawatan Wulan, dia tidak ada dan aku menemukannya lagi dia akan membuang bayi itu ke sungai," Alga menarik nafas berat, dia sangat sesak mengingat kejadian itu.
"Dan akhirnya aku membawa bayi itu dan mengurusnya bersama keluarga ku, awalnya keluarga ku mencurigaiku tapi lama-lama mereka pun menerima, dan kau perlu tau saat ini Wulan tidak tau bahwa di antara anak didiknya ada anak yang telah lahir dari rahimnya. " Alga menatap anak perempuan yang kini sedang berlari menghampirinya dengan rasa sedih. Sedangkan Ginanjar dia terlihat sesegukan, dan terus mengeluarkan air matanya.
Selama ini dia hanya menilai kalau Wulan selalu menghindarinya karena dia lebih mencintai Heru, karena semenjak sekolah Wulan yang sempat menjadi kekasihnya itu malah selalu menempel pada Heru. Hal itu membuat Ginanjar sangat membenci Heru, di tambah perkataan Wulan beberapa hari saat bertemu dengan Ginanjar, mengatakan bahwa dia tidak akan mencintai siapa pun lagi. Ginanjar berfikir semua itu karena Heru tidak menerima cintanya Wulan.
"Kau! " Ginanjar terkejut, mukanya memang mirip dengan dirinya kembali Ginanjar meneteskan air matanya.
"Nak ini teman papah ayo sapa dia," suruh Alga pada anak itu.
"Hai om aku Wulan! " anak itu menyodorkan tangannya pada Ginanjar tapi Ginanjar malah memeluk erat anak perempuan itu.
Lain dirumah Heru dan Sisil, mereka terlihat sedang menikmati makan bersama. Sesekali mata Sisil menatap tajam ke arah Heru.
"Yank matamu seksi! " goda Heru, dan membuat Sisil mengunyah makanan itu kasar.
__ADS_1
"Cara makanmu juga menawan, aku makin cinta sama kamu, " kembali Heru dengan suara yang di bikin selembut mungkin.
"Mas aku lagi marah! " kesal Sisil meminum air dengam sekali teguk.
"Marah kenapa? " dengan polosnya membuat Sisil menghentikan makannya.
"Mas yang menyembunyikan pil itu kan? " selidik Sisil.
"Pil apa? " Heru masih santai dengan makanannya.
"Pil KB! "
"Oh, aku tidak tau! "
"Bohong! Aku menaruhnya di laci! "
"Mana mungkin aku membohongimu, malahan aku tidak tau bentuk nya aja seperti apa? Kau membuat aku tidak berselera! " Heru menyimpan sendok dan gardu dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang sangat nyaring.
"Mas Heru," gumam Sisil, dia baru melihat suaminya itu marah.
Terlihat Heru beranjak pergi dari sana menuju kamarnya tapi segera Sisil menghampiri suaminya itu, "Aku hanya bertanya, maaf jika terlalu menuduh. " Sisil tertunduk tapi Heru tidak memperdulikannya, dia terus saja berjalan.
"Apa aku salah? Aku hanya bertanya, dan lagi di rumah ini kan cuman ada kita berdua. " Sisil dengan bibir manyunya. Perkataan Sisil sukses membuat Heru menghentikan langkahnya.
"Aku baru pulang dari luar kota, mana sempat menyembunyikan obat itu! " Ucap Heru, dan Sisil pun merasa bersalah pada suaminya itu.
Sisil menyusul Heru ke kamar dengan berlari kecil, di sana dia menemukan Heru tengah berdiri menghadap jendela.
__ADS_1
"Mas, maaf aku itu hanya terbawa emosi saja! " Sisil perlahan mendekati Heru. "Mas jangan marah! "
"Tidak aku juga minta maaf membuatmu takut. " Heru memeluk Sisil dengan senyum yang tidak bisa di artikan.