
"Jadi begitu. Kau tidak ingin dijemput lagi olehku?"
Wajah Jim terlihat sedih saat menerima telepon itu. Mira jadi curiga jika telepon itu ada kaitannya dengan apa yang dilihatnya beberapa malam lalu. Mira pun merasa bertanggung jawab atas apa yang dilihatnya. Ia harus memberi tahu Jim keadaan yang sebenarnya.
"Baiklah."
Dan tak lama telepon yang diterima Jim berakhir. Mira pun segera bersembunyi agar tidak ketahuan Jim sedang menguping pembicaraan. Ia kemudian berpikir cepat agar bisa berbicara dengan Jim lebih banyak. Dan pada akhirnya ia sengaja menabrakkan diri ke arah Jim yang sedang berjalan. Sontak Jim kaget karena tertabrak oleh Mira.
"Aduh ...." Mira pun pura-pura kesakitan.
"Mira? Kau tak apa?" Jim pun segera membantu Mira untuk bangun.
Mira mengangguk saja. Jim pun segera membantu Mira berdiri.
"Maaf, Pak. Aku tidak sengaja." Mira pun mengakui kesalahannya meski harus berbohong pada Jim.
"Hm, ya. Tak apa."
__ADS_1
Jim pun merasa cemas dengan keadaan Mira. Tapi ia juga berpikir lain tentang Mira. Bagaimana bisa Mira jatuh padahal tidak bertabrakan kuat dengannya.
Gadis ini ....
Sementara Mira sendiri segera mencari alasan untuk bicara. "Pak Guru sedang mencari buku apa di sini?" tanya Mira segera.
"Oh, itu ...," Jim pun tersadar dengan di mana ia berada. "Aku sedang mencari buku seni rupa. Kau sendiri?" tanya Jim kepada Mira.
Aku sedang mencarimu, Pak. Mira pun berkata di dalam hatinya.
"Mira?" Jim pun bertanya lagi kepada Mira.
Jim mengangguk. "Kau tidak lapar?" tanya Jim lagi.
Mira berpikir cepat agar dapat terus berbincang bersama Jim. "Em, tidak. Istirahat ke dua saja aku makan. Lagipula--"
Tiba-tiba saja bel sekolah berbunyi kembali. Menandakan jika waktu istirahat pertama sudah berakhir. Mira pun melihat ke arah luar perpustakaan. Sedang Jim memerhatikan Mira yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Jam istirahat ternyata sudah usai. Permisi." Mira pun lekas berpamitan kepada Jim.
Jim mengangguk. Ia melepaskan Mira dari hadapannya. Mira pun segera kembali ke kelasnya. Tapi saat sampai di pintu keluar, Mira kembali berbalik untuk melihat Jim. Mira pun tersenyum kepada gurunya.
Aduh hatiku.
Tak tahu mengapa debaran di jantung Mira terasa kencang saat berhadapan dengan Jim. Ia pun tak mengerti mengapa bisa seperti itu. Mira masih bingung untuk memastikan perasaannya. Sedang Jim tersenyum di sana. Ia memerhatikan Mira yang pergi dari jendela perpustakaan. Pertemuan mereka pun harus berakhir cepat hari ini.
Kamis, pukul satu siang...
Mira datang terlambat ke sanggar tari hari ini. Saat ia tiba, ternyata latihan tari sudah dimulai sejak sepuluh menit yang lalu. Mira pun lekas-lekas mengganti pakaian lalu menempati posisi. Namun, ia tidak menemukan Lana hari ini.
Lana ke mana ya? Apakah dia terlambat datang juga?
Dan akhirnya latihan pemanasan pun usai. Nona Wang kemudian membagi anak-anak sanggar menjadi beberapa pasangan. Mira pun kedapatan sendiri karena ia terlambat datang.
"Em, Mira. Mira tidak punya pasangan. Lana juga hari ini belum datang. Apakah Mira ingin menunggu Lana saja?" tanya Nona Wang ke Mira.
__ADS_1
"Biar dengan aku saja."