GURU TARIKU, I LOVE YOU

GURU TARIKU, I LOVE YOU
Cerita Lana


__ADS_3

"Hm, baiklah."


Sang ibu pun tampak mengerti. Ia tidak memaksa Mira untuk menjawab pertanyaannya. Ia biarkan Mira mengambil keputusan sendiri.


Beberapa hari kemudian...


Cuaca panas tampak menyelimuti ibu kota. Tidak biasanya panas sampai seterik ini. Mira pun baru saja keluar dari kelasnya. Ia kemudian duduk sebentar di taman sekolah. Mira ingin mengetahui di mana keberadaan Jim saat ini. Tapi ternyata Jim tidak berada di sekolahnya.


Beberapa hari ini aku tidak melihatnya. Besok juga entah mengajar atau tidak di kelas tari. Mungkin lebih baik aku meneleponnya saja. Tapi bagaimana jika dia sedang mengendarai motornya? Yang ada aku malah mengganggu konsentrasi berkendaranya.


Mira tampak bingung sendiri.


Tak berapa lama ponsel Mira pun bergetar. Menandakan jika ada telepon masuk untuknya. Mira pun segera mengangkatnya. Dan ternyata dari Lana.


"Halo?" Mira segera mengangkatnya.


"Mira, kau di mana? Aku di depan sekolahmu." Lana sudah di depan sekolah Mira.

__ADS_1


"Eh, tunggu aku." Mira pun lekas-lekas menyampirkan tas lalu berjalan cepat ke gerbang sekolah. Mira akan menemui Lana segera.


Lima menit kemudian...


"Tumben kau kemari?" tanya Mira saat baru duduk di belakang mobil yang dikendarai supir Lana.


"Iya. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Lana mengatakan.


"Eh???" Mira pun terheran.


"Tenang saja. Tidak jauh dari sini, kok. Mungkin sebentar lagi juga akan sampai," kata Lana lagi.


/Sampaikan terima kasih mama kepada Lana, ya./


Dan begitulah bunyi pesan dari ibu Mira. Ia ingin berucap terima kasih karena Lana telah menjemput putrinya pulang sekolah.


Sebelumnya Mira telah menceritakan siapa Lana dan bagaimana kedekatan dengan dirinya. Ibu Mira pun tidak khawatir karena putrinya berteman dengan orang baik. Ibu Mira tidak tahu jika Lana adalah anak orang kaya. Ia tidak menanyakan lebih jauh siapa Lana sebenarnya. Ia hanya ingin memastikan jika putrinya berteman dengan orang baik. Selebihnya tidak masalah. Maka dari itu Mira pun harus selalu memberi kabar padanya.

__ADS_1


Kini Mira dan Lana menuju suatu tempat. Yang mana ternyata stadion olahraga. Dekat sekali dengan pasar seni, tempat pentas teaterikal disajikan. Lana pun mengajak Mira keluar dari mobilnya. Ia meminta pak supir untuk menunggu di dalam. Lana kemudian mengajak Mira memasuki stadion itu. Di mana mereka bisa melihat Jim yang sedang bermain bola di sana.


Astaga!


Saat itu juga Mira kaget. Ia merasa heran mengapa Lana bisa mengajaknya ke sini.


Lana menatap Jim yang sedang mengoper bola. "Sebenarnya aku menyukai kak Jim. Tapi ibuku melarang." Lana akhirnya menceritakan.


Ap-apa?!


Dan akhirnya Mira tahu bagaimana perasaan Lana yang sebenarnya. "Lalu?" Mira pun ingin tahu.


"Ayahku seorang pejabat di negeri ini. Kami sering pindah kota dan tinggal di rumah dinas. Rumah kami sendiri berada di kluster eksklusif yang ada di sini. Tapi sekarang sedang dilelang karena kebutuhan biaya untuk kedua kakak lelakiku. Mereka ingin tinggal di luar negeri. Kuliah dan hidup di sana." Lana menceritakan.


Mira pun terdiam mendengarkan.


Lana menoleh ke arah Mira yang berdiri di sampingnya. "Karena itu aku tidak bisa sembarang menyukai orang. Aku telah dijodohkan, sebagai wujud balas budi pelantikan ayah menjadi pejabat di negeri ini." Lana menceritakan. Saat itu juga Mira terbelalak seketika.

__ADS_1


"Ja-jadi?!"


__ADS_2