GURU TARIKU, I LOVE YOU

GURU TARIKU, I LOVE YOU
Menjauh


__ADS_3

Mira terdiam. Ia tahu ketakutan ibunya. Ia pun mulai mengerti arah pembicaraan ini. Mira dilema sendiri.


"Mira ... masih belum siap, Ma." Ia akhirnya berkata demikian.


Sang ibu tampak memahami perasaan anaknya. Ia kemudian mencoba mengajak Mira berpikir kembali mengenai kebaikan pernikahan.


"Jim adalah pria yang baik. Ayahnya banyak bercerita ke Papa. Jim tidak pernah neko-neko dalam pergaulannya. Mama rasa dia bisa menjadi suami yang baik ke depannya. Ayah Jim juga merupakan seorang peternak besar di kotanya. Dia bukanlah orang yang kekurangan. Secara finansial dan kesiapan, Jim sudah memiliki semuanya. Tinggal bagaimana Mira yang menanggapinya." Sang ibu memaparkan.


Mira terdiam, tertunduk di kursi makannya. Ia tampak masih belum siap untuk menerima pernikahan. Sekalipun ia menyukai Jim, gurunya sendiri.


"Apakah dengan pernikahan bisa menjadi pagar seseorang, Ma?" tanya Mira ke ibunya.

__ADS_1


"Tentu." Sang ibu menjawabnya dengan yakin.


"Tapi ...," Namun, Mira masih ragu untuk membenarkannya. "Mira takut tidak bisa mengejar impian karena status pernikahan itu." Mira mengungkapkan pemikirannya.


Sang ibu mengusap kepala anaknya. "Kau bisa bicarakan baik-baik hal ini kepada Jim. Bagaimana keinginanmu sebelum pernikahan. Mama yakin Jim pasti mengerti. Setidaknya jika telah menikah, tidak akan ada pria yang berani mengganggumu lagi. Orang akan lebih menghormatimu sebagai seseorang yang sudah mempunyai suami," kata ibunya lagi.


Mira menarik napas dalam-dalam. Mencoba berpikir serius tentang hal ini. "Ma." Ia pun ingin bernegosiasi kembali. "Bisakah beri waktu kepada Mira untuk memutuskannya? Mira masih ingin menikmati masa muda. Bukankah jika dia jodoh Mira, akan bertemu kembali?" Mira menolak halus niatan ibunya.


Mira mengerti. Ia kemudian memeluk ibunya. "Terima kasih, Ma. Semoga Mira bisa memenuhi keinginan Mama dan papa tanpa ada rasa terpaksa. Mira sayang Mama."


Dan begitulah yang diucapkan Mira kepada ibunya. Ia tidak ingin melawan sang ibu. Tapi ia juga tidak ingin segera menikah. Mira meminta waktu untuk berpikir panjang mengenai hal ini. Karena menurutnya pernikahan bukanlah sesuatu yang main-main. Semuanya harus dipikirkan sebaik mungkin. Karena Mira ingin sekali seumur hidupnya. Ia ingin memastikan kesiapan hatinya. Pagi ini pun menjadi saksi hatinya yang dirasuki dilema.

__ADS_1


Malam harinya...


Saat ini pukul delapan malam waktu ibu kota dan sekitarnya. Saat ini juga Mira tampak serius belajar untuk menghadapi tes masuk kampus tujuannya. Tapi tak berapa lama dering ponsel menyadarkannya. Mira pun segera melihat siapa gerangan yang meneleponnya.


Kak Jim?


Dan ternyata Jim lah yang menelepon Mira. Tampak Mira yang ragu untuk mengangkat teleponnya.


Ada apa ya dia meneleponku? Apakah hanya sekedar ingin bercakap-cakap saja?


Mira ragu untuk mengangkat telepon dari Jim. Pada akhirnya ia pun hanya melihat panggilan masuk itu. Ia kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Mira tidak memedulikan telepon masuk dari Jim. Ia biarkan Jim terus meneleponnya tanpa mengangkatnya sama sekali. Mira seperti ingin menjauh dari guru tarinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2