
"Mira!" Jim mengetuk pintu rumah Mira.
Mira terdiam. Ia tak bergerak sama sekali. Bak patung selamat datang di rumahnya sendiri. Jim pun memanggilnya lagi.
"Mira, aku datang. Tolong buka pintunya!" Dan begitulah yang dikatakan Jim.
Mira menelan ludahnya. Napasnya seperti terengah-engah. Padahal ia tidak habis berlari mengelilingi halaman sekolah. Ia kepergok Jim berada di rumah. Mau tak mau ia pun membukakan pintunya.
"Kak Jim?" Dengan ragu Mira membukakan pintu rumahnya.
Jim tersenyum. Pria berkemeja hitam itu mengembangkan senyumnya di hadapan Mira. Sedang Mira diam saja. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak bisa menghindari Jim lagi.
"Mira, aku bawakan cokelat dan bunga untukmu. Terimalah."
Jim pun memberikan sebatang coklat ukuran besar beserta setangkai bunga mawar yang indah untuk Mira. Saat itu juga Mira tahu apa tujuan Jim menemuinya.
__ADS_1
"Kakak, em ... aku ...," Ia memutar otak agar bisa membuat Jim lekas pergi dari rumahnya. "Em, kepalaku sedikit pusing hari ini. Aku ingin beristirahat di kamar. Kakak tidak keberatan, bukan? Mama juga belum pulang dari klinik. Tak enak jika hanya berdua di rumah." Mira mengatakannya.
Saat mendengarnya, saat itu juga senyum yang terlukis di wajah Jim berubah. Ia merasa sesuatu kesalahan telah terjadi pada mereka. Jim mengerti apa yang dimaksudkan Mira.
"Em, maaf. Aku tidak tahu jika ibumu tidak berada di rumah. Kalau begitu bisa kita bicara di teras saja? Ada yang ingin kubicarakan padamu," kata Jim lagi.
Mira merasa risih dengan kedatangan Jim ke rumahnya. Bayang-bayang paksaan menikah itu terlintas di benaknya, dan berputar ulang di kepalanya. Mira ingin menghindari Jim agar paksaan menikah itu tidak diterimanya lagi. Tapi kini Jim datang menghampirinya. Jim meminta bicara. Sedang Mira tidak ingin memenuhinya.
"Em, maaf, Kak. Kepalaku pusing. Aku tidak bisa berpikir dengan baik. Aku khawatir malah akan salah bicara. Nanti saja ya." Mira pun berniat menutup pintu rumahnya.
Saat itu juga hati Jim kecewa. Kedatangannya ditolak mentah-mentah oleh Mira. Ia pun berusaha berlapang dada menerimanya.
"Em, baiklah. Aku akan datang lain kali. Lekaslah beristirahat."
Jim pun berpamitan kepada Mira dengan perasaan kecewa di hatinya. Ia juga melihat cokelat dan bunga pemberiannya masih berada di tangannya. Mira seperti tidak ingin mengambil darinya.
__ADS_1
"Aku letakkan di sini saja."
Dan pada akhirnya Jim meletakkannya di kursi teras rumah. Ia pun pergi seraya tersenyum palsu kepada Mira. Ia pergi dengan hati yang terluka. Jim segera menaiki motornya lalu melaju pergi dari rumah Mira.
Mira, inikah pembalasan darimu?
Jim pun dilanda gundah. Mira seolah tak lagi memedulikannya. Jim harus menanggung rasa kecewa.
Ya Tuhan.
Sementara itu Mira segera menutup pintu rumahnya. Ia pun mengusap kepalanya. Di hati kecilnya merasa bersalah kepada Jim. Tapi semua ini ia lakukan untuk menghindari paksaan pernikahan. Mira belum siap untuk menikah dengan Jim.
Kakak, maafkan aku. Aku masih ingin menikmati masa mudaku. Aku tidak ingin melepas masa lajang dengan cepat. Maafkan aku.
Dan pada akhirnya segala sesuatu mengandung sebab akibat. Suka duka selalu berganti di setiap hari. Jim dan Mira mengalami dilema kembali. Mira yang ingin menghindari Jim. Dan Jim yang ingin lebih dekat kepada Mira. Mereka tidak searah.
__ADS_1