
...Jim...
...Mira...
.........
"Em ...," Mira memutar bola matanya. Jim pun memerhatikannya. "Kalau untuk menikah, aku belum bisa, Kak. Kalau bertunangan juga akan membuat papa dan mama was-was saja. Bagaimana jika kita menjalaninya saja?" tanya Mira ke Jim.
Jim menghentikan langkah kakinya. "Mira, aku tidak ingin dikhianati lagi." Jim mengungkapkan kekhawatiran di hatinya.
Mira ikut menghentikan langkah kakinya. Ia berdiri di hadapan Jim. "Apakah ada tampang tak setia padaku?" tanya Mira yang saat itu juga membuat Jim terkejut.
"Mira, tapi kita--"
"Aku mengerti. Tapi aku masih harus mengejar cita-cita. Bagaimana jika ...," Mira menunjuk hati Jim. "Kita ikat saja di sini?" tanya Mira yang membuat hati Jim terenyuh. "Kak Jim bisa percaya pada kesetiaanku. Lagipula ...,"
"Lagipula?"
__ADS_1
"Lagipula aku ...." Mira tampak ragu meneruskan perkataannya.
"Lagipula apa, Mira?" tanya Jim yang masih menunggu.
Apakah aku harus mengatakannya? Tidak-tidak. Aku tidak boleh mengatakan tentang perasaanku. Aku wanita. Harusnya dia yang memulainya dulu.
"Mira?" Jim pun masih menunggu Mira.
Mira tersadar. "Lupakan saja." Ia pun pergi berlalu.
"Mira!" Saat itu juga Jim menahan tangannya. Mira pun berbalik cepat ke arah Jim. "Mira, aku mencintaimu. Jadilah kekasihku," kata Jim yang membuat Mira terbelalak seketika.
"Aku menyukaimu, Mira. Aku mencintaimu. Bisakah kau setia selamanya padaku?" tanya Jim dengan serius.
Mira seperti tidak bisa berkata apa-apa. Detak jantungnya begitu cepat saat mendengar pengakuan Jim. Lidahnya berkeluh, seolah membeku dan sulit untuk bicara. Mira tak percaya Jim akan menyatakan perasaannya.
"Mira ...."
Sedang Jim mulai membungkukkan badannya. Ia lebih mendekatkan diri ke Mira. Jim pun memiringkan kepalanya, sedikit demi sedikit. Ia ingin meraih sesuatu di sana. Jantung Mira pun berdegup kencang bukan kepalang. Ciuman itu sudah di depan mata.
Kakak, apakah aku sedang bermimpi? Apa kau benar-benar membalas perasaanku?
__ADS_1
Malam ini Jim menyatakan keseriusannya kepada Mira. Tapi sayang, dara cantik yang baru lulus SMA itu tidak bisa menerima cepat keinginan Jim. Mira masih ingin mengejar cita-citanya. Ia mempunyai mimpi besar ke depannya. Mira ingin membahagiakan ayah dan ibunya. Namun, ia juga mengaku jika menyukai dan menyayangi guru tarinya itu. Mira berharap Jim bisa sabar menunggu.
Lantas Mira pun memejamkan matanya. Ia tidak bisa membohongi hatinya jika mempunyai perasaan yang sama terhadap Jim. Hangat napas Jim pun mulai terasa menerpa permukaan pipinya. Mira pasrah jika Jim akan menciumnya. Karena Mira mencintai guru tarinya.
"Bocah Nakal!!!"
Namun, tiba-tiba saja terdengar suara Park yang menggelegar. Jim pun segera tersadar jika sang ayah datang. Jim melepas pegangan tangannya yang baru saja memegang lengan Mira. Ia ketahuan ayahnya.
"A-ayah???" Jim pun kaku sekaku-kakunya. Ia salah tingkah.
Park tiba di hadapan keduanya. Ia melihat Mira yang menundukkan kepalanya. Ia kemudian beralih ke putranya.
"Apa yang kau lakukan, Bodoh?! Kau ingin membuat ayah terkena marah, hah?!" Park menjewer telinga Jim.
"A-ayah, ak-aku bisa jelaskan." Jim pun kesakitan.
Park tidak mau mendengar alasan putranya. Ia menarik telinga Jim sambil membawanya pergi. Jim pun kesakitan karena dijewer ayahnya. Mira juga melihatnya. Ia ingin menolong Jim.
"Pa-paman--"
"Biarkan saja, Mira. Bocah ini memang harus diberi pelajaran! Kalian langsung menikah saja! Tidak perlu berlama-lama!" seru ayah Jim kepada keduanya.
__ADS_1