
"Oh ...." Jim pun akhirnya tahu.
"Kak Jim."
"Ya?"
"Sebenarnya ... aku mau minta maaf." Mira membuka inti pembicaraannya.
Jim mendekatkan duduknya ke Mira. "Minta maaf untuk apa?" tanya Jim segera. Ia merasa tidak ada yang perlu dimaafkan dari Mira.
Mira tertunduk. "Aku ... ingin meminta maaf atas ketidaksopananku waktu itu," kata Mira lagi.
Ji mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti. "Mira, katakan saja sejujurnya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang kau maksudkan." Jim pun tidak ingin dibuat penasaran.
Mira menundukkan pandangannya. "Aku merasa bersalah karena telah menunjukkan foto itu kepadamu, Kak." Mira mengutarakannya.
Saat itu juga Jim tahu apa yang Mira katakan. Ia ikut tertunduk dan merasa bersalah. Jim kemudian melihat ke arah Mira lagi. "Seharusnya aku yang berterima kasih padamu." Jim berkata.
__ADS_1
Mira terkejut. "Kakak?!"
Jim mengangguk. "Beberapa bulan ini aku memang menyadari gelagat yang tak biasa darinya. Hanya mau kujemput pulang saat sore saja. Jika malam, tidak mau kujemput lagi dengan alasan ayahnya sendiri yang menjemput. Dan ya, aku terima." Jim mulai menceritakannya.
Mira tampak mengerti.
"Kami sudah lima tahun pacaran. Sejak aku kuliah dulu. Kami bertemu saat di salah satu sekolah yang aku ajar ada festival. Kami pun mengobrol di sana dan akhirnya dekat. Tapi ternyata semua kandas begitu saja." Jim terlihat sedih mengatakannya.
Mira ingin menyentuh tangan Jim. Tapi saat itu juga ia menarik tangannya. Mira tidak ingin Jim mengira yang tidak-tidak.
Mira?!
Saat itu juga Jim tersentak mendengarnya. Ia tak menyangka jika Mira mempunyai perasaan seperti itu kepadanya. Berempati atas kegagalan cintanya.
Mira mengangguk. "Aku tidak bisa membantumu. Tapi aku bisa menjadi kekuatanmu. Kau bisa bercerita padaku, Kak." Kedewasaan itu akhirnya mulai tumbuh di hati Mira.
Jim tersenyum senang. "Kau tidak mempermasalahkan umur di antara kita?" tanya Jim memastikan, karena perbedaan usia mereka sangat jauh.
__ADS_1
Mira menggelengkan kepalanya. "Aku rasa itu tidak masalah. Lagipula Kak Jim terlihat awet muda." Mira pun mencandai Jim.
"Dasar!"
Jim pun mengusap kepala Mira. Tanpa sadar ia melakukannya. Sontak hati Mira tersentuh seketika. Ternyata ia bisa merasakan kasih sayang itu dari Jim. Ya, Mira merasa usapan di kepalanya itu sebagai pengungkapan rasa sayang Jim kepadanya.
"Kalau begitu bagaimana jika kita bermain banana boat di pantai. Kakak berminat?" Mira pun memberanikan diri mengajak Jim.
"Eh?!" Jim terkejut.
"Tenang. Aku punya tiket gratisnya. Kakak jangan khawatir akan habis banyak karenaku," kata Mira lagi.
Sontak Jim pun tertawa mendengarnya. Ia merasa geli dengan ucapan Mira. Ia bahkan sampai lupa dengan duka yang melandanya. Mira mampu membuatnya ceria. Sementara Mira ikut senang melihat Jim tertawa.
Aku tidak tahu ini benar atau salah. Tapi aku hanya mengikuti kata hatiku saja. Semoga kau tidak berprasangka yang tidak-tidak terhadapku, Kak. Karena aku hanya ingin membantumu. Aku peduli padamu.
Harus Mira akui jika ia peduli kepada Jim. Harus Mira akui jika ia menyukai guru tarinya itu. Tapi Mira juga tahu jika tidak mungkin mengatakannya langsung. Mira seorang perempuan yang harus menjaga image-nya di hadapan pria. Maka sebisa mungkin Mira bersikap luwes agar Jim merasa nyaman dengannya.
__ADS_1