
Mira kemudian melihat jadwal latihan tarinya.
"Lusa aku les tari lagi. Itu berarti dua hari lagi aku akan bertemu dengannya. Semoga saja dia mengajar di sana."
Mira pun tertawa sendiri. Ia merasa geli. Ia kemudian memejamkan matanya. Mencoba beristirahat dari lelahnya masa orientasi hari ini.
Lusa kemudian...
Masa orientasi siswa di sekolah Mira telah berakhir. Hanya tiga hari saja dilakukan pengenalan sekolah terhadap siswa baru. Itu semua karena ada campur tangan Mira di sana. Yang mana karena pura-pura pingsannya membuat masa orientasi dipercepat dari yang seharusnya. Dan kini gadis pintar itu sedang berada di sanggar tarinya.
Perawakan Mira cantik dengan rambut panjang terurai. Tapi sikapnya seperti lelaki yang suka berkelahi. Masa-masa SMP seringkali sang ibu dipanggil pihak sekolah karena perkelahian putrinya. Sehingga karena hal itu sang ibu memberinya sekolah tari. Ibu Mira ingin putrinya lebih feminim lagi. Sehingga sebisa mungkin tidak memberikan ruang lingkup yang banyak teman lelaki.
"Kenapa sanggar masih sepi?"
Mira pun masuk ke kelas tarinya sambil membawa tas sekolah. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah satu siang waktu sekitarnya. Tapi ternyata kelas masih sepi. Yang mana biasanya sudah mulai latihan.
Aku duduk saja.
__ADS_1
Lantas Mira pun duduk lalu mengambil ponselnya. Ia menelepon ibunya yang sedang berada di klinik rumah sakit. Mira bercakap-cakap sebentar dengan ibunya.
"Aku sudah sampai, Ma. Tadi naik ojek ke sini." Mira memberitahu ibunya.
"Nanti mama jemput jam dua. Tunggu saja di sana. Jangan pulang sebelum mama datang," kata ibunya.
"Baik, Ma."
Mira pun mengiyakannya. Tak lama seseorang yang Mira kenal pun masuk ke kelas tarinya. Ia tersenyum kepada Mira sambil membawa tasnya.
"Dari tadi?" tanya seseorang itu kepada Mira.
Aduh bagaimana ini? Kami hanya berdua di dalam kelas tari ini.
Mira pun menyadari jika hanya berdua dengan guru tarinya di ruang latihan ini. Yang mana guru tari Mira mengajak Mira latihan pemanasan sebentar.
"Sambil menunggu teman yang lain datang, kita pemanasan sebentar," katanya kepada Mira.
__ADS_1
Mira mengangguk kembali. Ia bingung harus berbuat apa hari ini.
Seseorang yang datang ke kelas tari adalah Jim, guru Mira sendiri. Jim yang merupakan pemilik dari sanggar tari tersebut datang lebih awal di hari ini. Yang mana ia bertemu dengan Mira di sana. Sedang teman-teman lain belum datang semua. Alhasil Mira pun hanya berdua bersama Jim. Saat itu juga ia merasakan getaran yang begitu kuat. Sampai-sampai ia ingin berteriak.
Lana, cepatlah datang. Aku bisa gemetaran di sini.
Dan pada akhirnya Mira pun mengikuti pemanasan tari yang dilakukan Jim. Jim pun dengan sabar mengajari Mira yang sendirian. Hingga akhirnya satu per satu teman-temannya datang. Sanggar tari pun mulai ramai.
Pukul dua siang waktu sekitarnya...
Latihan tari hari ini Mira ikuti dengan tubuh yang grogi. Ia masih belum bisa menyesuaikan diri di lingkungan barunya. Jim pun tampak menyadari kekakuan Mira. Ia tidak segan membantu Mira agar lebih luwes lagi. Tapi sentuhan tangan Jim membuat hati Mira tak karuan. Ia baru kali ini dipegang lelaki.
"Baiklah. Latihan hari ini selesai. Sampai ketemu besok lagi."
Dan akhirnya Jim mengakhiri sesi latihan ini. Para anak sanggar pun mulai mengambil handuk untuk mengelap keringat mereka. Sedang Jim segera keluar dari ruang latihan untuk berganti pakaian. Latihan hari ini telah selesai.
...Jim...
__ADS_1