
/Kak, aku sudah di stadion olahraga. Aku di lapangannya./
Dan begitulah pesan yang Mira kirimkan kepada Jim. Mira berharap Jim dapat segera datang untuk menemuinya.
Belasan menit kemudian...
Jim tidak ada kabar. Mira pun sudah mencoba meneleponnya. Tapi Jim tidak datang juga. Membuat Mira resah dan gelisah. Sang bibi pun menelepon Mira dan menanyakan di mana keberadaannya. Ia sudah selesai dengan sarapan paginya. Hingga akhirnya...
"Bibi jemput saja ya?" Bibi Mira ingin menjemput ke dalam stadion.
"Eh, Bi. Tidak usah. Sebentar lagi Mira ke sana. Biar Mira saja yang ke sana ya." Mira pun meminta sang bibi untuk tetap menunggunya di luar.
Sang bibi menghela napasnya. "Baiklah."
Ia pun akhirnya menuruti keinginan keponakan suaminya. Ia menunggu di luar. Tapi karena sendiri, bibi Mira masuk ke dalam mobil. Ia menghidupkan musik sambil menunggu Mira datang. Sedang Mira....
__ADS_1
Sepertinya kak Jim tidak akan datang.
Mira pun melihat kembali pesan yang dikirimkannya. Dan ternyata belum terbaca. Mira jadi berkecil hati bisa bertemu dengan Jim. Ia kemudian berjalan pelan menuju pintu keluar stadion olahraga. Mira merasa putus asa. Tapi saat itu juga tiba-tiba ada yang menarik tangannya. Mira pun menoleh, melihat siapa gerangan yang menarik tangannya.
"Kak Jim?!" Dan ternyata Jim lah yang menahannya.
"Mira." Jim pun memerhatikan Mira dengan tatapan sendu. Seperti menahan kesedihan di hatinya.
Mira tersenyum. "Akhirnya Kakak datang. Maafkan aku. Kemarin--"
"Kita bicara di sana saja." Jim pun menyela perkataan Mira.
/Bi, aku bertemu temanku. Tunggu aku lima belas menit lagi, ya./
Dan begitulah pesan yang Mira kirimkan ke bibinya. Sang bibi pun tampak segera membacanya. Ia jadi berpikiran lain tentang keponakan suaminya.
__ADS_1
Sepertinya Mira bertemu dengan orang yang spesial sampai aku tidak boleh ke sana.
Sang bibi pun akhirnya turun dari mobilnya. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keponakannya. Ia ingin melihat sendiri siapa teman yang dimaksud Mira. Ia pun berjalan menuju pintu masuk stadion olahraga setelah mengunci pintu mobilnya. Bibi Mira ingin melihat sendiri Mira di sana.
Beberapa menit kemudian...
Semilir angin pagi ini berembus menyapu helaian rambut Mira yang terjuntai ke depan. Jim pun tampak membungkukan badannya sambil menggabungkan kedua tangan di samping Mira. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu kepada Mira. Pria berjaket ungu itu menarik napas panjangnya.
"Aku ... ingin minta maaf atas apa yang terjadi setelah waktu upacara itu." Jim menuturkan.
Mira mendengar. Ia mengangguk, menanggapi Jim bicara.
Jim menatap kekejauhan. "Mungkin kau juga sudah mendengar percakapan kami kemarin. Aku minta maaf soal itu." Jim berkata lagi.
Mira menenangkan hatinya. Berusaha biasa-biasa saja walau sebenarnya hatinya terluka. "Tidak apa, Kak. Seharusnya aku yang minta maaf karena telah mengganggu pembicaraan kalian." Mira menuturkan.
__ADS_1
Jim menoleh cepat ke Mira. Ia memerhatikan Mira yang tersenyum palsu kepadanya. "Ucapanmu berbeda dengan isi hatimu," kata Jim yang membuat Mira terbelalak seketika.
Ap-apa?! Dia tahu isi hatiku?!