
Malam harinya...
Awan mendung terlihat berarak di angkasa. Langit malam semakin gelap gulita. Sang bulan tampaknya sedang menutup diri dari pandangan manusia. Seperti yang dilakukan oleh Jim di dalam kamarnya. Ia tidak keluar kamar semenjak pulang dari rumah Mira. Ia merenungi dirinya.
Mira ....
Bayang-bayang sang gadis teringat di benaknya. Mira seolah-olah memenuhi pikirannya. Jim pun dilanda gundah tentang sebab musabab Mira menjauhinya. Ia merasa gadis kecilnya itu ingin menghindarinya. Jim pun tidak tahu apa alasannya.
"Aku tidak bisa membantumu, Kak. Tapi aku bisa menjadi kekuatanmu."
Perkataan Mira waktu itu pun teringat kembali. Seolah terngiang-ngiang di telinga Jim malam ini. Jim merindukan itu semua. Ia pun melihat ponselnya. Melihat status terkini dari Mira. Tapi sayang, rupanya gadis kecil yang tengah beranjak dewasa itu tidak membuat status apa-apa. Jim pun dilanda dilema.
"Mira, jika kukirimkan pesan kembali, apakah kau akan mengabaikan lagi?"
__ADS_1
Besar keinginan untuk mengirimkan Mira pesan lagi. Tapi saat niatan itu muncul, saat itu juga rasa khawatir melanda di hati. Jim ragu untuk mengirimkan pesan kepada Mira. Ia takut pesannya tidak dibalas lagi.
Jim merasa bingung dengan perubahan sikap Mira. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia pun berdiri di depan jendela sambil melihat awan mendung di sana. Tak lama hujan pun datang menyapanya. Jim merindukan Mira.
Beberapa minggu kemudian...
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa juga sudah tiga minggu sejak pertemuan terakhir Mira dan Jim. Kini gadis cantik yang sedang beranjak dewasa itu tengah bersiap-siap untuk kuliah di hari pertamanya. Ia menyandang tas dan juga beberapa buku di tangannya. Tapi saat keluar dari kamar, ia bertemu dengan ibunya.
"Mama?" Gadis berkemeja biru itu pun tersenyum menyapa ibunya.
Sontak Mira terkejut mendengarnya. Ia tahu siapa yang dimaksud oleh ibunya. "Kami baik-baik saja, Ma." Mira pun menjawabnya.
Sang ibu terlihat memegang ponsel di tangannya. "Papa menelepon, meminta mama untuk bilang padamu agar menyampaikan kepada Jim jika kita mengundangnya makan malam. Kau bisa menyampaikan padanya?" tanya sang ibu lagi.
__ADS_1
Apa?!
Saat itu juga Mira seperti terpojok. Ia tidak bisa berbohong lagi. "Em, kak Jim sibuk, Ma. Mira tidak tahu dia bisa datang apa tidak." Mira pun beralasan.
Sang ibu menyilangkan kedua tangannya di dada. "Sibuk atau kau yang melarangnya?" tanya sang ibu. Mira pun tak berkutik untuk beralasan lagi.
Mira memutar otaknya dengan cepat. Hatinya berharap-harap cemas saat ini. Ia merasa sang ibu sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Mira pun tidak bisa beralasan lagi. Ia hanya bisa menghindar dari pertanyaan ibunya.
"Em, Ma. Mira sudah harus ke kampus. Hari ini hari pertama Mira kuliah. Mira berangkat ya." Mira pun berpamitan kepada ibunya.
"Mira!" Namun, sebelum melangkah pergi, ia dipanggil ibunya kembali. "Kenapa kau berbohong pada mama?" tanya sang ibu kepada putrinya.
Mira menelan ludahnya. Ia tak percaya jika sang ibu sudah tahu yang sebenarnya. Ia pun berbalik menghadap ibunya.
__ADS_1
"Mama bicara apa? Mira tidak berbohong, kok." Mira pun menutupinya.
Sang ibu lalu menunjukkan ponselnya. "Ini." Ia memperlihatkan sebuah pesan di ponselnya. Saat itu juga Mira terkejut seketika.