
"Kak Jim?" Mira pun menyapa Jim.
Jim menelan ludahnya. "Bagaimana kau bisa mendapatkan foto ini?" tanya Jim ke Mira.
"Malam itu aku berbelanja ke mal kota ini, Kak. Dan aku melihatnya." Mira menjawab jujur.
"Memangnya kau tahu siapa wanita ini?" tanya Jim lagi.
"Aku pernah melihat Kakak memakaikan helm kepadanya waktu itu." Mira pun menjawabnya dengan jujur.
Jim merenungi hal ini. Ia kemudian melihat ke arah Mira kembali. "Sepertinya kau sudah mengetahuinya. Maka aku tidak akan menutupinya lagi. Mira, kau bisa meminta jemput ibumu sekarang? Aku harus menemuinya." Jim berkata kepada Mira.
Mira terkejut.
"Maaf ya. Aku tidak bisa menemanimu menunggu. Bisa kau kirimkan foto itu ke ponselku?" Jim meminta.
__ADS_1
Pada akhirnya Mira mengatakan apa yang dilihatnya waktu itu. Di mana ia melihat pacar Jim dijemput oleh pria lain. Mira pun mengirimkan foto itu ke ponsel Jim. Sedang Jim seperti menahan rasa kesalnya sendiri. Dan akhirnya Jim pun berpamitan pada Mira untuk pergi. Ia ingin menemui wanita di foto itu. Mira pun jadi tidak enak hati.
Maafkan aku, Kak Jim. Kau harus tahu bagaimana calon istrimu itu.
Dan tak lama ponsel Mira pun berdering. Sang ibu ternyata meneleponnya siang ini. "Halo?" Mira pun segera menjawabnya.
Sesampainya di rumah...
Mira pulang ke rumah bersama ibunya. Mira pun duduk di kursi tamu setelah meletakkan tasnya. Ia duduk malas-malasan di kursi. "Ma." Ia menegur ibunya.
"Kalau kita membantu seseorang untuk menemukan bukti tentang kebenaran sesuatu, apakah kita bersalah atas hal itu, Ma?" Mira tiba-tiba menanyakannya.
"Eh???" Sang ibu pun segera duduk di dekat putrinya. "Kenapa kau menanyakan hal itu? Apakah sesuatu terjadi padamu?" tanya ibu Mira ke putrinya.
Mira mengembuskan napasnya. "Mama ingat sehabis kita berbelanja di mal?" tanya Mira ke ibunya.
__ADS_1
Ibu Mira mengangguk. "Ya. Memangnya ada apa?" tanya sang ibu lagi.
Mira menegakkan posisi duduknya. "Malam itu aku memotret seseorang. Yang mana seseorang itu adalah pacar dari guruku." Mira menceritakan.
Sang ibu tampak serius menanggapi hal ini. "Lalu?" tanya sang ibu lagi.
Mira mengembuskan napasnya. "Dan aku memberi tahu guruku jika pacarnya itu selingkuh. Apa itu salah, Ma?" Mira ingin mendapat kepastian dari tindakannya.
Sang ibu merenungi hal ini. Ia ikut memikirkan bagaimana jika di posisi putrinya. "Kau melakukannya dengan tulus atau karena ada sesuatu?" Sang ibu balik bertanya.
Saat itu juga Mira tidak berani menjawabnya. Sang ibu kemudian mengusap kepala putrinya. Ia mencoba mengerti hati anaknya yang belum mau jujur.
"Segala sesuatu di dunia ini pasti ada sebab dan akibatnya. Dan semua perbuatan tergantung bagaimana niatnya. Jika kau mempunyai niat baik, maka akan dinilai sebagai pahala. Tapi jika kau mempunyai niatan buruk dan dilakukan, maka akan dianggap sebagai dosa. Jadi tanyakan hatimu di mana posisimu berada? Apakah niatmu baik memberikan foto itu kepada gurumu?" Sang ibu berusaha bijak menanggapi permasalahan yang melanda putrinya.
Mira terdiam. Ia kemudian memutar tubuhnya ke arah sang ibu. Mira pun memeluk ibunya. "Mira hanya tidak rela jika guru Mira diselingkuhi, Ma. Apalagi Mira dengar mereka mau manikah." Mira mengungkapkan.
__ADS_1
Saat itu juga sang ibu jadi tahu apa duduk permasalahan anaknya.