GURU TARIKU, I LOVE YOU

GURU TARIKU, I LOVE YOU
Menyatakan Rasa


__ADS_3

Jim ketahuan memerhatikan Mira. Ia segera mengalihkan pandangannya ke depan. Saat itu juga Jim melihat sepasang pengantin tengah berciuman. Jim pun meraih tangan Mira di sisinya. Mira pun menoleh cepat ke arah Jim. Ia melihat tangan Jim yang memegang tangannya.


Dia memegang tanganku ...?


Dan akhirnya suka cita sang pengantin bisa dirasakan oleh keduanya. Jim dan Mira akhirnya bertemu kembali setelah tiga tahun berpisah. Acara pesta pernikahan ini mempertemukan mereka. Mira pun bahagia tak terkira. Setelah kesedihannya, ia bertemu kembali dengan seseorang yang lama tersimpan di dalam hatinya. Ialah Jimly, putra dari Park, teman ayah Mira sendiri.


Seusai pesta...


"Mira!" Jim memanggil Mira saat para hadirin undangan telah selesai bersalaman dengan kedua mempelai.


"Kak Jim?" Mira pun kaget karena Jim memanggilnya.


Ayah dan ibu Mira tampak berbicara bersama ayah Jim selesai berfoto bersama pengantin. Dan kini Jim pun mendekati Mira. Ia ingin mengajak Mira bicara.


"Em, bisa kita bicara sebentar? Di belakang gedung ada kolam ikan." Jim menanyakan.

__ADS_1


Mira mengangguk. Ia mengiyakan ajakan Jim tanpa menolak sama sekali.


"Silakan."


Jim pun mempersilakan Mira berjalan di dekatnya. Keduanya kemudian menuju belakang gedung untuk bebicara bersama. Jim membawa Mira ke taman belakang gedung.


"Kita duduk di sini, Mira."


Jim pun membersihkan kursi taman agar Mira dapat duduk dengan nyaman. Keduanya duduk berdekatan sambil memandangi sinar rembulan yang terang.


"Em, aku ... sebenarnya sudah berniat untuk menemuimu selepas acara pesta. Tapi ternyata kita malah bertemu lebih dulu di sini." Jim mulai mengutarakan maksudnya.


Jim terlihat kaku. "Em, maaf. Aku sengaja mengganti nomor untuk melupakan semua yang terjadi di kota ini. Lagipula beberapa tahun ini aku sangat sibuk sekali. Maafkan aku, Mira. Aku tidak bisa menjadi seperti yang kau inginkan." Jim merasa bersalah. Ia meminta maaf kepada Mira.


Mira menghela napasnya. Ia mengembuskan perlahan di samping Jim. "Aku tidak mempermasalahkannya. Mungkin karena sudah terbiasa," kata Mira lagi.

__ADS_1


"Mira, sungguh aku--" Jim menyesal tidak menghubungi Mira.


Mira tersenyum. Ia menatap kekejauhan. "Mungkin waktu telah mendewasakanku. Tapi aku masih ingat dengan perkataan terakhir itu."


Mira pun tersenyum seraya memegang gelang di tangannya. Saat itu juga Jim memberanikan diri untuk memegang tangan Mira.


"Aku juga. Aku masih memegang ucapanku, Mira," kata Jim lagi.


"Kakak ...." Mira pun melihat kesungguhan yang tersirat dari kedua bola mata Jim.


"Sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan. Sepertinya kita memang telah ditakdirkan bersama. Mira, maukah kau menerimaku sebagai kekasihmu?" tanya Jim yang membuat degup jantung Mira berdetak kencang seketika.


"Kakak?!" Mira pun tak percaya jika Jim akan mengatakannya.


"Aku sudah berusia dua puluh delapan tahun. Dan aku ingin serius. Jadi maukah kau juga serius padaku? Aku sangat berharap itu," kata Jim lagi.

__ADS_1


Entah mengapa bagai embun pagi membasahi tanah yang gersang saat Mira mendengar perkataan Jim. Hati Mira begitu senang. Ia gembira bukan kepalang. Selama ini Mira fokus belajar dan meraih impian. Ia mengukir nama Jim di hatinya. Ia pun menjaganya sampai tiga tahun lamanya. Mira percaya jika Jim akan kembali untuknya. Dan kini pria itu sudah ada di sampingnya. Jim pun menyatakan perasaannya.


"Mira, aku masih menantikan jawaban darimu," kata Jim lagi.


__ADS_2