
"Kau dari tadi bersama kak Jim ya Mira?" tanya Lana sambil mengelap keringatnya. Keduanya pun minum sebentar untuk melepas dahaga.
"He-em. Sepertinya aku terlalu awal datang hari ini," jawab Mira.
"Memangnya tidak tahu jadwal latihan hari ini? Bukankah saat mendaftar diberi tahu pihak pendaftaran?" tanya Lana lagi.
Mira tersenyum tak jelas. Ia sebenarnya tahu jadwal latihan di sanggar tari. Tapi ia memang sengaja datang lebih awal hari ini. Dan ternyata malah bertemu Jim di kelas tari.
"Aku memang sengaja datang lebih awal kok." Mira jujur kepada Lana.
"Oh, pantas saja." Lana pun mengangguk-angguk. "Kak Jim jika sedang kosong memang datang awal ke sanggar ini. Tapi dia juga pulang cepat karena akan menjemput pacarnya," terang Lana.
"Pacar?!" Saat itu juga Mira tak percaya.
"Pacarnya bekerja sebagai admin di mal besar yang ada di kota ini. Aku sering melihatnya menjemput pacarnya," kata Lana lagi.
Jadi dia benar-benar sudah punya pacar? Mira pun tampak kecewa mendengarnya.
__ADS_1
"Eh, kau mau main ke rumahku? Rumahku sedang sepi. Hanya ada bibi pembantu." Lana menawarkan.
Mira tersadar. "Em, terima kasih. Ibu segera menjemputku. Aku tidak bisa main lagi." Mira mengatakan.
Lana mengangguk-angguk. "Baiklah. Kalau begitu aku akan meminta supir untuk menjemputku sekarang. Sambil menemanimu dijemput ibu." Lana peduli kepada Mira.
Mira mengangguk. Ia pun segera bersiap-siap keluar dari ruang latihan. Mira akan menunggu sang ibu menjemputnya. Sedang Lana akan menemaninya. Mira dan Lana pun mulai dekat seperti teman lama. Mira merasa nyaman dengan pertemanannya.
Setengah jam kemudian...
"Kalau sudah macet begini, mama rasanya ingin punya motor saja."
Sang ibu pun berceloteh sambil memengang kemudi mobilnya. Sedang Mira melihat ke luar jendela, mencoba melihat jalan raya. Tapi tak berapa lama ia melihat seseorang di ujung sana yang sedang memakaikan helm kepada wanitanya.
Kak Jim?!
Mira melihat Jim menjemput pacarnya. Dan ternyata apa yang dikatakan Lana memang benar adanya. Guru tarinya itu telah mempunyai pasangan.
__ADS_1
Jadi selama ini senyum dan keramahtamahannya hanya sekedar profesional kerja?
Mira pun jadi berkecil hati melihatnya. Ia kemudian membenarkan sikap duduknya lalu melihat ke depan. Sang ibu pun menyadari perubahan sikap anaknya.
"Kau baik-baik saja?" tanya sang ibu.
"He-em." Mira mengangguk.
Sang ibu melihat ke kaca spion mobilnya. Ia ingin memotong arah agar tidak terkena macet. "Akhir-akhir ini kau berubah. Tidak mau cerita pada mama?" tanya ibunya.
Mira pun menoleh cepat ke arah ibunya. Ia merasa tidak dapat menyembunyikan apa yang dirasakannya. Namun, Mira mencoba untuk terus menutupinya.
"Em, tidak ada apa-apa, Ma. Aku hanya kelelahan saja." Mira pun menjawab seperti itu kepada ibunya.
Sang ibu menoleh ke putrinya. Ia mengusap kepala Mira. "Kalau ada apa-apa, cerita ke mama. Jangan dipendam sendiri ya," pinta ibunya.
Mira mengangguk. Keduanya kemudian memotong arah untuk keluar dari kemacetan jalan raya. Mira pun mencoba tak menggubris apa yang dilihatnya di parkiran mal. Mira biasa saja.
__ADS_1