GURU TARIKU, I LOVE YOU

GURU TARIKU, I LOVE YOU
Memberanikan Diri


__ADS_3

"Pesanannya, Kak." Pesanan Jim dan Mira pun sudah datang.


"Terima kasih." Baik Mira maupun Jim berterima kasih kepada pelayan yang mengantarkan.


"Silakan, Mira. Ini adalah tempat favoritku sehabis mengajar tari. Nanti kau minta dijemput di sini saja." Jim seolah tahu kebiasaan Mira yang dijemput oleh ibunya selepas mengikuti kelas tari.


"Eh?!" Mira pun terheran sendiri.


Jim tersenyum lalu mencicipi kue mochinya. "Akhir-akhir ini kuperhatikan ada perubahan besar pada dirimu. Biasanya terlihat apa adanya, sekarang tampil cantik jelita. Apakah sudah terbiasa dengan kelas tari dengan dandanan anak-anak muridnya?" Jim menanyakan.


Oh, jadi itu alasannya mengajak ku bicara.


Mira menyampirkan rambutnya ke belakang telinga. Ia pun menundukkan pandangan matanya. "Em, aku rasa semua anak-anak tari menjaga penampilannya, Kak. Mungkin aku sudah mulai terbawa suasana." Mira mengatakannya.


"Oh, begitu." Jim pun mengangguk-angguk.


Ini kesempatan bagiku untuk memberi tahu perselingkuhan pacarnya. Tapi apa dia percaya dengan tangkapan kamera ponselku ini?

__ADS_1


Di saat perbincangan sedang terjadi, terbesit keinginan di hati Mira untuk menunjukkan foto yang didapatkannya malam itu. Tapi ia masih berpikir ulang atas baik-buruk tindakannya. Ia khawatir Jim malah akan meledeknya. Mira pun jadi ragu untuk menunjukkannya. Padahal ia merasa yakin jika wanita yang di foto itu adalah pacar Jim.


"Em, Mira." Jim menyebut nama Mira.


"Ya, Kak?" Mira segera menjawabnya.


"Kita ternyata satu sekolah. Tapi sayangnya aku belum mengajar di kelas satu. Semoga di kelas dua kita bisa bertemu kembali ya," kata Jim lagi.


"Lho?! Memangnya Kakak mau ke mana?" Mira penasaran.


"Kontrak? Jadi Kakak masih dikontrak pihak sekolah?" tanya Mira lagi.


"He-em." Jim mengangguk. "Sudah berjalan lima tahun ini semenjak aku masih kuliah dulu. Dan tahun ini adalah semester terakhir bagiku." Jim mengatakan.


Mira terdiam. Ia berpikir lain. "Memangnya Kakak tidak punya pekerjaan tetap?" tanya Mira memberanikan diri.


"Em, uhuk! uhuk!"

__ADS_1


Saat itu juga Jim tersedak es dawetnya sendiri. Mira pun tampak memerhatikan Jim yang tersedak tanpa mengambilkan air minum.


"Aku ...," Jim menyeka mulutnya dengan tisu. "Aku penyuka pekerjaan paruh waktu. Tidak suka dengan yang terikat," kata Jim. "Tapi entah jika sudah menemukan yang serius. Mungkin akan mencari yang serius juga." Jim seperti membuka perbincangan ini lebih lanjut.


Mira pun merasa ada peluang untuk menanyakan hubungan Jim. "Memangnya Kak Jim masih main-main sekarang?" tanya Mira, ingin tahu status hubungan Jim.


Jim pun seketika terdiam. Ia merasa Mira menanyakan hal lain padanya. "Kau ingin tahu tentangku?" tanya Jim kemudian.


Mira mengangguk. Saat itu juga Jim tertawa. Ia merasa lucu dengan gadis di hadapannya.


Gadis ini ternyata di luar ekspektasiku.


Ia pun memijat kepalanya sendiri. Sementara Mira segera mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Jim pun tak mengerti apa yang akan Mira lakukan. Hingga akhirnya Mira menunjukkan sebuah foto padanya.


"Ini kudapat malam minggu lalu. Aku tidak tahu apakah hal ini ada hubungannya dengan main-main Kak Jim atau tidak. Tapi aku merasa harus memberitahukannya." Mira pun menunjukkan foto itu.


Jim kemudian melihat foto yang ditunjukkan oleh Mira. Tapi tiba-tiba saja dahinya berkerut melihat siapa yang ada di dalam foto itu. Kamera ponsel Mira menangkap jernih apa yang ada di sana. Jim pun men-zoom tampilan foto itu. Hingga akhirnya raut wajahnya berubah seketika.

__ADS_1


__ADS_2