
...Mira...
...Jim...
.........
Mira pun tak percaya jika Jim mengetahui isi hatinya.
"Mira, aku sudah cukup lama mengajar. Aku juga sudah cukup tahu bagaimana karakter seorang siswi SMA. Mira, hari ini aku ingin jujur padamu. Tapi hari ini juga aku ingin kau jujur padaku. Apakah itu sudah cukup adil?" tanya Jim ke Mira di tengah-tengah semilir angin yang berembus ke arah mereka.
Mira terdiam. Ia merasa ragu untuk menanggapi dan berterus terang kepada Jim. Sedang Jim memintanya untuk jujur. Mira masih merasa berat untuk mengungkapkan isi hati yang sebenarnya bilamana diminta. Ia malu dan juga ragu. Ditambah ia masih terlalu kanak-kanak untuk Jim. Mira khawatir Jim malah akan menyepelekannya. Sedang rasa di hatinya tidak bisa dibohongi.
__ADS_1
"Aku ... ikut saja."
Pada akhirnya Mira pun berkata seperti itu kepada Jim. Seolah siap untuk jujur akan hal yang ditanyakan Jim nantinya. Jim pun tersenyum. Ia menatap Mira dalam-dalam. Terbesit keinginan di hatinya untuk memegang tangan Mira. Tapi ia tepiskan segera. Ia tidak ingin Mira menilai macam-macam tentang dirinya.
"Aku ... merasa nyaman bersamamu," kata Jim, membuka pembicaraan hari ini.
Mira menoleh cepat ke Jim. Ia tak percaya mendengar itu.
"Tapi, aku juga takut jika kita semakin dekat dan dekat lagi," tutur Jim kembali.
Jim tersenyum. "Kau pasti tahu jika aku baru saja patah hati. Dan kau juga pasti tahu jika duka akan luka yang kurasakan masih membekas dan belum terobati. Tapi kini kita sudah dekat seperti ini. Apakah kau tidak khawatir sendiri?" Jim menanyakannya kepada Mira.
Mira terdiam, menelaah perkataan Jim.
Jim menatap Mira lekat-lekat. "Kita berbeda sepuluh tahun, Mira. Apa kau tidak canggung akan hal itu?" Jim bertanya lagi.
__ADS_1
Semilir angin pagi membuat rambut depan mereka tersapu angin bak dedaunan di ranting. Jim menatap Mira lekat-lekat dan Mira menatap Jim tepat pada bola matanya. Kedua insan itu tampak saling memerhatikan wajah. Mira pun tidak tahu harus berkata apa. Pada akhirnya ia mengalihkan pandangannya.
"Aku terlalu lancang untuk dekat denganmu, Kak. Maafkan aku." Mira menyalahkan dirinya sendiri.
Jim menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kau tidak salah. Aku hanya ingin tahu sudut pandangmu tentang apa yang kutanyakan ini. Agar aku lebih yakin bagaimana ke depannya nanti," kata Jim lagi.
Mira termenung di samping Jim. Ia tahu jika kedekatan ini suatu saat akan menimbulkan rasa menuntut. Tapi Mira tidak ingin mengambil pusing. Ia hanya ingin menjalaninya saja. Karena Mira belum tahu bagaimana ke depannya.
"Aku ... hanya mencoba mengikuti kata hati saja. Aku tidak ingin mempermasalahkan perbedaan usia di antara kita. Sekalipun Kakak, guruku sendiri. Bukannya cinta itu tidak memandang jarak?" Mira tersenyum mengatakannya.
Mira ....
Saat itu juga Jim terpesona dengan jawaban Mira. Ia yakin dengan perasaan Mira kepadanya. Tapi Jim ingin bertanya lagi.
"Apa kau siap dengan segala konsekuensinya? Seperti di-bully teman-temanmu karena kedekatan ini? Apa kau juga siap menjelaskan tentang bagaimana perasaanmu ke ayah dan ibumu?" Jim menanyakannya lagi.
__ADS_1
Mira menoleh ke arah Jim. "Bagaimana dengan Kakak sendiri? Apa Kakak siap untuk memulai kembali?" Mira tidak ingin kalah dari Jim. Ia balik menanyakannya.