
Esok harinya...
Pagi-pagi ayah Mira sudah siap untuk kembali berlayar. Sang supir pengantar juga sudah menunggu di depan. Tampak sang istri yang membantu membawakan jaket suaminya. Sedang sang putri masih berada di kamarnya. Ia tidak ingin mengantar keberangkatan ayahnya.
"Mira masih di kamar?" tanya Malik ke istrinya.
"Iya, Pa. Sejak kemarin Mira hanya sekali keluar kamar." Sang istri mengabarkan.
Ayah Mira mengembuskan napas lelahnya. "Dia tidak mengerti maksud baik papa. Mama tolong beri pengertian padanya. Mungkin jika dengan Mama, Mira lebih bisa mengerti." Sang suami berpesan kepada istrinya.
Ibu Mira mengangguk. "Papa tenang saja. Setelah ini mama akan bicara baik-baik padanya. Tadi juga sudah mama bangunkan. Tapi dia pura-pura tidak mendengar. Papa yang sabar ya. Putri kita memang butuh pengertian. Papa fokus saja terhadap pelayaran kali ini." Sang istri menyemangati suaminya.
Ayah Mira mengangguk. Ia kemudian mencium kening istrinya. "Kalau begitu papa berangkat. Jaga diri kalian baik-baik." Malik pun berpamitan kepada istrinya.
__ADS_1
Pagi ini sang ibu sudah membangunkan putrinya. Tapi ternyata sang putri tidak beranjak bangun juga. Setelah pertengkaran kemarin, Mira jadi mengurung diri di kamar. Sang ibu pun memaklumi keadaan hati anaknya. Ia tidak memaksa Mira untuk mengantar keberangkatan suaminya. Ayah Mira pun segera masuk ke dalam mobil pengantaran. Tampak ibu Mira yang melambaikan tangannya, melepas keberangkatan sang suami yang akan bertugas kembali di kapal pesiar.
"Jika sudah ngambek, sampai-sampai tidak mau mengantar papanya."
Sang ibu pun menyadari jika Mira sedang ngambek karena pembicaraan kemarin. Selepas mengantar suaminya sampai ke depan rumah, ia pun segera menutup pintu rumahnya. Ia berjalan menuju kamar Mira. Ia ingin bicara dengan putrinya.
Di kamar Mira...
Gadis cantik itu masih bergumul dengan selimutnya. Ia tidur dengan membelakangi ibunya. Tampak sang ibu yang mengusap kepala putrinya. Ia mencoba membuat hati sang putri luluh setelah pertengkaran kemarin. Ibu Mira tidak ingin putrinya berlama-lama mengurung diri di kamar. Ia ingin mengajak Mira bicara.
"Mira ... mama ingin bicara," katanya lagi kepada putrinya.
Mira membuka matanya. Ia terlihat enggan untuk menyahuti ibunya. Tapi sang ibu tidak henti membangunkannya. Sehingga mau tak mau Mira pun terbangun karenanya.
__ADS_1
"Mama?" Mira pun pura-pura mengucek matanya.
Mira sudah bangun sedari tadi. Tapi karena malas mengantar sang ayah, ia jadi tidur lagi. Dan kini terbangun setelah mendengar permintaan ibunya yang berulang kali. Di mana sang ibu tampak sabar menghadapi anaknya yang sedang berluka hati.
Sang ibu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mira, papa sudah berangkat. Kenapa tidak ikut mengantar sampai ke depan?" tanya sang ibu ke putrinya.
Mira memutar otak dengan cepat untuk mencari alasan yang tepat. "Mira mengantuk sekali, Ma. Ini baru bangun tidur." Ia pun beralasan demikian.
Sang ibu mengusap wajah putrinya. "Mama tidak pernah mengajarkan untuk keras hati seperti ini. Bayangkan jika kemarin pertemuan terakhir dengan papa. Apa kau masih bisa bersikap seperti ini?" tanya sang ibu, memberi perandaian kepada putrinya.
"Mama, mengapa berkata seperti itu? Mama jangan bicara macam-macam dong!"
Saat itu juga hati Mira terketuk. Ia menyadari kesalahannya. Ia pun menyesal dan ingin segera menemui ayahnya. Mira beranjak keluar dari kamarnya.
__ADS_1