
"Papa sudah berangkat. Percuma mengejarnya." Sang ibu menahannya.
Mira pun menghentikan langkah kakinya. Ia tidak jadi mengejar ayahnya. Mira dipenuhi rasa bersalah. Karena bagaimanapun ia bukanlah anak yang membangkang orang tua.
"Maafkan Mira."
Ia tertunduk seraya berdiri di depan kamarnya. Sang ibu pun menghampirinya. "Lekas mandi dan sarapan. Kita bicara di ruang makan." Sang ibu berpesan kepada anaknya.
Mira mengangguk. Ia menerima perkataan ibunya. Ia pun mengambil handuk untuk lekas mandi. Mira akan sarapan pagi ditemani ibunya. Tentunya dengan membicarakan hal yang belum sempat selesai. Ibu Mira akan memberi pengertian kepada putrinya tentang kebaikan pernikahan.
Satu jam kemudian...
Saat ini hampir pukul sembilan pagi waktu ibu kota dan sekitarnya. Saat ini juga Mira baru menyelesaikan sarapan paginya. Ditemani sang ibu yang berada di sisinya, dara cantik berusia delapan belas tahun itu akhirnya bisa bersantap ceria. Setelah kemarin mengurung dirinya di dalam kamar.
__ADS_1
"Kau sudah menentukan fakultas tujuanmu, Mira?" Sang ibu membuka pembicaraan bersama putrinya.
Mira mengangguk. "Sepertinya Mira masuk ke fakultas seni saja, Ma. Di sana banyak bidang seni yang cocok dengan Mira." Mira menjawabnya.
"Bidang seni apa yang kau maksud?" tanya ibunya lagi seraya memerhatikan anaknya.
"Em ... mungkin seni musik, tari, suara atau drama," jawab Mira.
Sang ibu mengangguk. "Kuasai satu saja agar tidak terlalu membebani. Tapi jadilah master di bidang itu." Sang ibu memberi pesan.
Saat mendengarnya, saat itu juga ibu Mira menahan tawanya. Ia tak menyangka jika cita-cita sang putri ingin menjadi seorang idol. Ia pun mencoba menerimanya.
"Baiklah. Mama akan setuju dengan fakultas tujuanmu. Tapi apakah bisa selama kuliah tidak mengenal pria?" tanya ibunya lagi.
__ADS_1
"Hahhh???" Mira terkejut. "Jadi aku tidak boleh berteman dengan pria?" Mira tak percaya.
Sang ibu menggeser duduknya ke dekat Mira. "Begini. Manusia itu mengalami fase yang namanya pubertas. Di mana semua hormon memfungsikan diri. Hormon-hormon itu akan sangat memengaruhi psikis dan emosional seseorang. Yang mana terkadang bisa berakibat baik atau buruk. Tergantung bagaimana pribadi seseorang tersebut memperlakukannya. Hanya saja lingkungan berperan besar dalam hasil akhirnya." Sang ibu mulai masuk ke pembicaraan ini.
"Maksud Mama? Apakah tidak bisa diperjelas dengan singkat?" tanya Mira yang tampak kebingungan.
Ibu Mira mengusap kepala putrinya. "Mira, seusiamu sangat rentan terkontaminasi dengan pergaulan yang kurang baik. Gejolak masa muda masih amat sangat membara. Jika tidak dikendalikan, bisa terjerumus ke hal-hal yang negatif. Maka dari itu kau harus mempunyai pagar lebih dulu. Agar gejolak masa muda bisa dikendalikan," kata sang ibu lagi.
Mira tampak berpikir. Ia berusaha mencerna perkataan ibunya. Sedang sang ibu tampak memerhatikan wajah anaknya yang berpikir keras. Ia kemudian berbicara dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti putrinya.
"Akhir-akhir ini seringkali ada berita pembunuhan. Dan gilanya pelaku seperti merasa tidak bersalah terhadap perbuatannya. Hal itu terjadi karena dilatarbelakangi kisah asmara yang tak sampai. Sehingga pelaku tega menghabisi nyawa pasangannya. Banyak gadis muda yang menjadi korbannya." Ibu Mira mengambil segelas air minum untuknya.
"Mama, apakah itu benar?" Mira tampak terkejut mendengarnya.
__ADS_1
Sang ibu mengangguk. "Dan mama tidak ingin hal itu terjadi padamu," kata ibunya lagi.