
Mira mengangguk. Mereka pun meneruskan perbincangan sambil menunggu jam tari tiba. Lana dan Mira akan ke sanggar bersama.
.........
...Mira...
...Lana...
.........
Sore harinya...
Mira dan Lana berangkat ke sanggar tari bersama. Tentu saja hal itu membuat ibu Mira ingin mengenal lebih dekat teman anaknya. Karena bagaimanapun Mira adalah anak satu-satunya. Ia harus lebih selektif dalam memilih teman anaknya. Dan akhirnya ibu Mira bertemu dengan Lana selepas latihan tari hari ini. Lana pun tampak senang bertemu dengan ibu temannya.
Mira sendiri tampak kurang senang hati saat mengetahui jika hari ini bukanlah Jim yang mengajar di sanggar tari. Hatinya mencari karena tidak melihat Jim hari ini. Sang ibu pun tampak menyadari perubahan prilaku putrinya. Ia kemudian mencoba menanyakannya.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja? Mama lihat seperti uring-uringan sendiri. Bukankah sudah dapat teman di sanggar tari?" tanya ibunya.
Mira tampak diam sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Ia tidak bicara apa-apa saat pulang dari latihan tari. Membuat sang ibu menduga-duga apa yang sedang dialami putrinya.
"Jangan bilang kalau anak mama sedang jatuh cinta sekaligus patah hati yang bersamaan." Ibunya menduga.
Saat itu juga Mira menoleh cepat ke arah ibunya yang sedang mengemudikan mobil. "Apa sih, Ma. Aku baik-baik saja, kok." Intonasi Mira seolah berlainan dengan apa yang dikatakannya.
Sang ibu mengangguk. "Baiklah. Nanti mama masih ada kerjaan di klinik. Mama antar kau pulang dan beristirahatlah. Mungkin petang sudah tiba di rumah." Ibunya memberi tahu.
Mira mengangguk. Ia masih berusaha menutupi apa yang ada di hatinya. Tapi senyum guru tarinya itu seolah tidak bisa ditepiskannya. Jim selalu terbayang di ingatan Mira.
Ia pun risih dengan keadaan hatinya sendiri.
Sesampainya di rumah...
"Hati-hati, Ma!"
Mira melambaikan tangannya selepas turun dari mobil. Ia pun melihat sang mama yang kembali melajukan mobilnya. Ibunya itu masih ada pekerjaan di klinik yang harus segera diselesaikan. Sehingga hanya bisa menjemput Mira pulang dari sanggar. Mira pun masuk ke dalam rumahnya. Ia segera mengunci pintu rumahnya dari dalam.
__ADS_1
"Aku mengingatmu."
Dan tiba-tiba saja ucapan Jim kembali terbayang di benak Mira. Mira pun seperti tak mengerti mengapa dirinya seperti ini.
"Kau harus mulai berdandan sekarang. Jangan tomboy seperti ini. Mulailah merawat wajah dan tubuhmu. Jangan dibiarkan pucat. Apalagi di depan gebetanmu."
Mira teringat dengan percakapannya bersama Lana selepas latihan tari.
Lana dan Mira bercakap-cakap selepas latihan tari. Mereka kemudian membicarakan masa SMA yang indah. Yang mana Lana menceritakan perubahan dirinya sebelum dan sesudah mengikuti sekolah tari. Badan Lana jadi lebih lentur lagi.
Lana bahkan sempat ditawarkan menjadi model di majalah remaja oleh tantenya. Tapi Lana menolak karena masih ingin bermain ria dengan teman-temannya. Lana pun memberikan tips menggaet pria kepada Mira. Yang mana bertolak belakang dengan penampilannya. Mira harus berdandan lebih elok lagi.
Berdandan??? Apakah aku harus memakai lipstik seperti mama?
Mira pun bertanya-tanya dalam hatinya. Ia kemudian ke kamar mamanya. Melihat semua peralatan make up yang ada di sana.
"Ini apa ya?"
Ia pun melihat kuas penyapu untuk wajah. Tapi Mira tidak tahu apa namanya. Ia kemudian mencoba satu per satu make up mamanya. Mira ingin tampil beda. Tapi sayang, ia belum tahu bagaimana cara menggunakannya.
__ADS_1