GURU TARIKU, I LOVE YOU

GURU TARIKU, I LOVE YOU
Memberi Kabar


__ADS_3

Jim tersenyum. Ia tertawa kecil. "Kau gadis yang pintar." Jim mengusap kepala Mira. Entah mengapa ia menyukai kepribadian Mira.


Oh, jadi itu yang membuat Mira ingin datang ke sini.


Tampak bibi Mira melihat hal itu dari balik pintu masuk stadion olahraga ini. Ia pun memotret kebersamaan Mira dengan Jim yang sedang duduk di arena penonton. Ia ingin memberitakukannya kepada ibu Mira sendiri. Tentang apa yang membuat Mira ingin pergi ke stadion ini.


"Aku akan pindah ke kota yang baru, Mira. Ayah memintaku untuk membantunya di sana. Kemungkinan jarak kita akan jauh." Jim mengatakannya.


"Kakak tidak mengajar lagi?" tanya Mira ke Jim.

__ADS_1


Jim menggelengkan kepalanya. "Aku mengajar di tiga sekolah. Tapi masa kontrakku habis bulan depan. Ini semester terakhirku di kota ini setelah lama berjuang sendiri." Jim menceritakan.


"Kakak ...." Mira pun terpana dengan perjuangan keras Jim.


"Sebenarnya aku ingin terus berada di kota ini. Tapi mungkin ayah sudah menyadari jika aku sudah dewasa sekarang. Jadi diminta pulang untuk membantu pekerjaannya. Ibu juga sudah merindukanku karena hanya pulang satu tahun sekali. Karena itu aku meminta bertemu untuk mengatakan hal ini. Aku tidak ingin mengecewakanmu." Jim menjelaskan yang sebenarnya.


Mira sedikit mengerti tentang keadaan Jim.


"Kakak ...."

__ADS_1


Saat itu juga Mira merasa sedih mendengarnya. Ternyata ia harus kehilangan Jim karena sudah diminta pulang kedua orang tuanya. Mira tidak tahu harus berkata apa. Ia ingin menahan kepergian Jim tapi tidak bisa.


Jim mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. "Aku punya ini. Aku membelinya sepasang semalam." Jim menunjukan sepasang gelang titanium ke Mira. "Kita satu-satu ya?" tanya Jim.


Mira mengangguk. Jim kemudian memakaikannya ke Mira. Yang mana gelang itu jika digabungkan membentuk hati yang penuh. Mira pun tampak menahan butiran air mata yang ingin keluar dari persembunyiannya. Mira merasa sedih. Ia tahu jika ini adalah tanda-tanda perpisahannya bersama Jim.


"Aku tidak memintamu menunggu. Aku juga tidak memintamu untuk pindah bersamaku. Tapi aku minta saat kita bertemu, kau sudah siap menjadi kekasihku. Kau mau, bukan?" tanya Jim yang membuat Mira tak sanggup lagi membendung air matanya.


"Aku menyayangimu, Mira." Dan akhirnya Jim mengatakannya. Mira pun tampak meneteskan air matanya. "Sudah jangan menangis, Gadis Kecil. Lekaslah tumbuh dewasa agar bisa segera kunikahi." Jim pun mencandai Mira.

__ADS_1


Jim menarik Mira ke tubuhnya. Ia meminta Mira merebahkan kepala di bahunya. Mira pun tersenyum seraya menangis bersamaan. Jim kemudian menunjuk satu keluarga yang sedang berlari bersama. Ia berharap bisa mewujudkan keluarga bahagia. Entah bersama siapa. Tapi Jim berharap bersama seorang wanita yang menguatkannya. Dan ia berharap itu Mira.


Setelah ini aku harap kau mengerti. Setelah ini aku harap kau juga bisa lebih dewasa lagi. Aku tidak memintamu untuk menunggu. Karena kau juga harus mengejar cita-citamu. Jangan pikirkan aku, Mira. Fokuslah terhadap masa depanmu. Jika memang berjodoh, kita akan bertemu kembali. Entah bagaimana jalannya, percayalah takdir Tuhan itu begitu indah.


__ADS_2