
"Ma, mobil dipakai tidak, ya? Mira pinjam, boleh?" tanya Mira ke ibunya yang sedang menyulam pakaian.
"Kau mau ke mana? Hujan gerimis seperti ini," tanya sang ibu.
Mira kini sudah dapat mengendarai mobil. Ia juga sudah memiliki surat izin mengemudi. Mira dibelikan ayahnya satu unit sepeda motor sebagai kendaraan untuk kuliah. Biaya pendidikan beserta keperluannya ternyata sudah dipikirkan sang ayah. Sang ibu pun ikut tenang karena Mira sudah cukup umur untuk memiliki kedua SIM-nya.
"Mira mau ke rumah Lana. Tidak biasanya dia tidak mengangkat telepon Mira, Ma," kata Mira lagi.
"Mungkin dia sedang sibuk atau ada urusan, Mira." Sang ibu menenangkan pikiran putrinya.
"Sebentar saja, Ma. Mira khawatir ada apa-apa dengannya. Mira pinjam mobil, ya?" Mira meminta lagi.
Sang ibu tampak mengembuskan napasnya. "Baiklah. Tapi jangan lama." Sang ibu berpesan.
__ADS_1
Mira mengangguk. Ia kemudian mengambil kunci mobil ibunya. Mira pun segera mengambil tas dan juga ponselnya. Ia akan menuju ke rumah Lana sekarang. Ia ingin tahu mengapa Lana tidak sampai mengangkat teleponnya. Karena biasanya Lana tidak seperti ini kepadanya. Mira pun segera melaju ke sana.
Sesampainya di rumah Lana...
Hujan turun semakin lama semakin deras. Mira pun akhirnya sampai di rumah Lana yang megah. Yang mana selama beberapa tahun terakhir Mira sering ke sana. Tapi belum sampai di depan pintu masuk, Mira melihat pita putih mengelilingi rumah itu dari jauh. Mira pun lekas mempercepat mobilnya ke sana.
Pita putih? Apakah rumah Lana dilikuidasi?
Ia pun akhirnya sampai di depan rumah itu. Tapi saat melihat pintu gerbang yang terbuka lebar, saat itu juga Mira tak percaya melihatnya. Semua barang-barang dari rumah Lana dikeluarkan. Mira pun segera turun dari mobilnya.
"Oh. Neng tidak tahu, ya? Rumah pak Bram disita negara. Pak Bram terkena kasus korupsi pembangunan daerah," tutur bapak tua tersebut.
"Apa?!" Mira pun terkejut seketika. "Lalu ke mana semua penghuni rumahnya?!" tanya Mira lagi. aja tampak cemas kali ini.
__ADS_1
"Mereka sedang di kantor KPK. Dimintai keterangan atas keterlibatan pak Bram dalam dana korupsi," jawab bapak tua tersebut.
Mira tertegun. Ia tak menyangka akan mendengar cerita ini dari bapak tua yang ada di depan rumah Lana. Ia pun merasa miris seketika.
Pantas saja Lana tidak menjawab teleponku. Ternyata dia sedang ikut diperiksa. Astaga. Aku harus menguatkannya. Tapi aku tidak tahu di mana tempatnya. Padahal baru satu minggu yang lalu aku main ke sini. Tapi kini sudah dilikuidasi.
Mira kemudian mengucapkan terima kasih kepada bapak tua tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah dan menceritakan perihal ini kepada ibunya. Karena Mira tidak tahu di mana kantor KPK berada. Mira juga tidak berani sendirian ke sana.
Sore harinya...
Setelah bercerita kepada sang ibu, Mira akhirnya ditemani sang ibu mengunjungi Lana di kantor KPK. Dan ternyata Lana baru saja dibebaskan. Namun, ia kini tidak mempunyai tempat tinggal. Lana harus kehilangan rumah beserta aset keluarganya. Yang mana saat ini telah disita. Mira pun berusaha menguatkannya.
"Mira."
__ADS_1
"Lana, yang sabar ya."