GURU TARIKU, I LOVE YOU

GURU TARIKU, I LOVE YOU
Bicara Lebih Lanjut


__ADS_3

Dan akhirnya Jim pun mendengar langsung restu dari ayahnya. Saat itu juga ia bahagia tak terkira. Ia kemudian menoleh ke arah Mira yang berada di belakangnya. Jim memberi jempol kepada Mira. Mira pun tertawa melihatnya.


Mereka ada-ada saja.


Mira pun mengikuti keduanya yang kembali ke vila. Malam ini menjadi saksi kebahagiaannya. Restu sudah didapatkan, tinggal pesta pernikahan digelar. Lalu apa lagi yang harus dikhawatirkan?


Beberapa hari kemudian...


Hari terus berganti. Waktu pun terus berlalu. Kini sudah memasuki Hari Sabtu. Hari di mana Mira dan Jim harus berpisah lagi. Jim harus kembali ke kotanya untuk menyelesaikan beberapa urusan. Tapi ia masih intens berkomunikasi dengan Mira. Seperti saat ini di mana Mira sedang berteleponan dengannya. Di pagi hari yang cerah dan burung nuri bercuitan dengan indah.


"Baiklah. Sampai nanti." Mira pun berniat mengakhiri teleponnya dengan Jim.


"Kau tidak ingin memberikan flying kiss untukku?" tanya Jim dari seberang sana.


Mira tersenyum. Ia tersipu malu di atas tempat tidurnya. "Kak Jim bisa saja. Sudah ya. Dah." Mira pun segera memutuskan sambungan teleponnya. Tak berapa lama Jim juga mengirimkan pesan padanya.

__ADS_1


/Gadis kecil, kenapa terburu-buru? Tidak rindu padaku?/


Dan begitulah pesan yang dikirimkan Jim untuk Mira. Sontak Mira bertambah malu karenanya. Ia pun tersenyum-senyum sendiri di atas tempat tidurnya.


"Mira."


Tiba-tiba sang ibu mengetuk pintu kamarnya. Wanita berblus biru itu datang lalu membuka pintu kamar putrinya.


"Mama?" Mira pun segera meletakkan ponselnya.


Mira mengangguk. "Baik, Ma." Mira pun lekas beranjak dari kasurnya.


Pagi ini sang ayah ingin bicara dengan putrinya. Mira pun lekas menghampiri ayahnya yang sedang duduk di ruang keluarga. Tampak sang ibu sudah menyajikan tiga cangkir teh untuk mereka. Mira pun duduk di tengah-tengah keduanya.


"Wajahmu tampak ceria, Mira." Sang ayah melihat wajah putrinya.

__ADS_1


Mira menyampirkan rambutnya. "Mira merasa lebih bahagia, Pa." Mira pun menjawabnya.


Sang ayah mengangguk. Pria berusia empat puluh lima tahun itu tampak mengerti mengapa putrinya lebih bahagia sekarang. Ia pun segera menuturkan tujuannya memanggil Mira.


"Beberapa hari setelah datang ke vila milik keluarga teman papa, papa merasa ada perubahan besar yang terjadi padamu. Papa tidak ingin menduganya sehingga memanggilmu kemari. Apakah kau dan putra Park sudah saling mengenal lama?" tanya sang ayah ke Mira.


Mira menganggukkan kepala. Tampak sang ibu memerhatikan keduanya. Ia menjadi saksi perbincangan pagi hari ini.


Ayah Mira mengerti. "Besok papa akan kembali ke pelayaran. Papa tidak tahu kapan pasti bisa pulang ke ibu kota. Kau tahu sendiri bekerja di kapal pesiar menyeberangi lautan yang luas. Papa bekerja dari samudera ke samudera. Dan papa ingin tenang saat meninggalkan kalian di rumah. Tidak inginkah kau menikah agar ada yang menjagamu dan mama saat papa tidak di rumah?" tanya Malik ke putrinya.


Papa?!!


Saat mendengarnya, saat itu juga Mira jadi tahu apa alasan sang ayah memanggilnya. Mira pun terdiam di tempatnya. Roman wajahnya tiba-tiba berubah. Ia tidak lagi ceria.


Jadi ini alasan papa memanggilku pagi ini?

__ADS_1


Mira pun bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya. Ia tak menyangka dengan alasan sang ayah memanggilnya.


__ADS_2