
Jim tidak dapat membohongi perasaannya. Tapi ia juga tidak ingin membebani Mira. Jim ingin Mira menikmati masa mudanya dengan ceria. Tanpa ada kesedihan di hatinya. Karena Jim menyayangi Mira. Mira menemukannya di saat Jim membutuhkan bantuan. Dan Mira menolong Jim dengan segenap hatinya. Jim pun menghargai itu semua. Ia akan menantikan hari bahagia itu tiba.
Siang harinya...
Sedih, itulah yang Mira rasakan. Tapi ia cukup senang karena Jim telah menjelaskan semuanya. Dan kini ia harus siap melepas kepergian Jim. Yang mana jarak jauh akan memisahkan mereka. Mira pun terdiam di kamarnya. Ia merenungi takdirnya.
"Mira, boleh mama masuk?"
Tak lama sang ibu mengetuk pintu. Mira pun segera mengusap wajahnya. Ia tidak ingin terlihat sedih di depan ibunya. Tapi saat sang ibu masuk, bekas air mata itu masih terlihat di pipinya. Ibu Mira pun duduk di dekat putrinya.
"Mira, ada apa? Katakanlah pada mama," pinta ibunya.
__ADS_1
Ibu Mira sebenarnya sudah tahu akan hal apa yang melanda putrinya. Ia mendengar dari adik iparnya sendiri. Dan kini ia ingin menanyakan langsung kepada Mira. Ia tidak bisa berdiam saja saat sang anak mulai beranjak dewasa. Di mana amat sangat membutuhkan bimbingan orang tua agar tidak salah langkah.
"Mira ... baik-baik saja, Ma." Mira menutupinya.
Sang ibu mengusap air mata yang tersisa di pipi putrinya. "Menangis seperti ini tapi bilangnya baik-baik saja? Apakah ingin tetap terlihat tegar di hadapan mamamu sendiri?" tanya ibu Mira lagi.
Mira tertunduk mendengar pertanyaan itu. Ia tahu jika tidak bisa menutupi kesedihan dari ibunya. Ibu Mira pun memegang wajah anaknya, menatap erat-erat. Sang ibu ingin Mira jujur kepadanya.
"Mira sedih, Ma. Mira akan ditinggalkan." Dan akhirnya Mira menceritakannya.
"Katakan, Nak. Katakan apa yang kau rasakan. Luapkan semua yang ada di hatimu. Kau bisa cerita pada mama."
__ADS_1
Dan akhirnya sang ibu meminta putrinya untuk menceritakan semua. Mira pun menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya. Ibu Mira menyadari jika putrinya sudah mengenal arti cinta. Ia pun mencoba menenangkan hati putrinya yang gundah. Ia memberi pengertian kepada anaknya jika ini adalah jalan yang terbaik untuk mereka. Mira pun akhirnya sedikit tenang setelah mendapat nasihat dari ibunya. Tetapi tetap saja hatinya tidak ingin jauh dari gurunya. Guru tarinya sendiri, Jimly. Mira jatuh cinta.
Satu bulan kemudian...
"Papa!"
Hari ini Mira menyambut kepulangan ayahnya di dermaga. Mira pun tampak senang bukan kepalang sampai-sampai menghambur ke pelukan ayahnya. Ibu Mira juga tampak menemani putrinya. Ia ikut menyambut suaminya pulang. Sang suami pun mencium istrinya dan juga Mira. Kerinduan itu sudah mendalam di hatinya. Pertemuan keluarga itu akhirnya terjadi di antara mereka. Setelah berbulan-bulan lamanya mengarungi samudera.
Ayah Mira adalah seorang pekerja di kapal pesiar. Jika sudah berlayar, ia akan sangat jarang pulang ke rumah. Kemungkinan hanya tiga bulan sekali, bahkan waktu itu pernah pulang satu tahun sekali. Karena itulah Mira jarang bertemu dengan ayahnya.
"Papa sudah ambil cuti, bukan? Mira ingin liburan ke Disneyland," kata Mira seraya berjalan bersama ayah ibunya.
__ADS_1
"Tenang saja. Papa sudah ambil cuti seminggu. Semua itu untukmu." Sang ayah mencubit pipi putrinya.