GURU TARIKU, I LOVE YOU

GURU TARIKU, I LOVE YOU
Obat Rindu


__ADS_3

Mira merasa senang. Ia pun memeluk ayahnya kembali. Tampak pembantu sang ayah membawakan semua barang bawaan. Mereka kemudian menuju parkiran dermaga untuk pulang bersama. Mira pun ceria seketika. Ia tidak ingat lagi kesedihannya. Sang ibu pun turut berbahagia.


Syukurlah.


Pada akhirnya ibu Mira mulai melajukan mobilnya. Ia membiarkan sang suami beristirahat terlebih dahulu dari perjalanan panjangnya. Sedang Mira duduk di belakang sambil melihat-lihat isi tas ayahnya. Ia ingin tahu apa yang dibawakan sang ayah untuknya.


"Wah! Ini mutiara asli?!" Mira pun terkejut melihat kotak merah bersisi kalung mutiara.


"Itu untuk mama. Untuk Mira yang kotak kecil," kata sang ayah seraya menoleh ke putrinya.


Mira pun lekas-lekas membuka kotak kecil yang dimaksud. Dan ternyata...


"Ini permata asli, Pa?" tanya Mira saat melihat kalung yang ada di dalamnya.


"Itu diberi oleh bos. Tapi jangan dipakai sehari-hari. Pakai saat pesta saja. Karena papa khawatir memicu kejahatan di sekitar kita," kata sang ayah lagi.

__ADS_1


Mira mengangguk-angguk. Ia pun segera meletakkan kembali kalung permata ke dalam kotaknya.


"Mira sudah dewasa sekarang, Pa. Sepertinya tidak perlu tambah adik lagi agar dewasa," cetus sang ibu.


"Ah, Mama. Mira tidak mau punya adik. Mira tidak mau diduakan. Titik," kata Mira yang membuat sang ayah menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mira masih seperti dulu, Ma. Tetap ingin jadi the one and the only." Sang ayah menyandarkan punggungnya di kursi.


"Iya dong, Pa. Wanita mana yang mau diduakan? Huh!"


Tiga tahun kemudian...


Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah tiga tahun semenjak Mira masuk sekolah. Hari ini pun ia mendapat surat kelulusannya. Yang mana ia begitu bahagia. Mira pun menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Ia berbagi suka.


Kini gadis tomboy itu sudah berubah menjadi gadis yang cantik jelita. Mira pun pintar merawat dirinya. Tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus. Ia juga lebih ceria dibandingkan yang dulu. Dan tubuh tingginya semakin bertambah. Mira sudah beranjak dewasa.

__ADS_1


"Lana!"


"Mira!"


Mira pun berteman baik dengan Lana. Selama tiga tahun terakhir mereka sering berkomunikasi dan berlatih tari bersama. Alhasil mereka sudah menjadi senior di sana. Di sanggar tari milik Jim sendiri. Mereka jadi lebih sering membantu Nona Wang untuk mengajar tari.


Kini keduanya berniat pulang bersama ke rumah Mira. Yang mana ibu Mira sudah menyiapkan syukuran kecil-kecilan untuk putrinya. Hari ini Mira akan merayakan kelulusannya dengan doa dan makan malam bersama. Lana pun ikut berada di sana. Mereka bersuka cita.


Lusa kemudian...


Pagi ini hujan rintik-rintik membasahi dedauan taman di rumah Mira. Tampak sang gadis sedang sibuk memilih universitas mana yang akan ditujunya. Mira masih bingung ingin kuliah di mana. Alhasil ia pun menelepon Lana. Tapi berulang kali menelepon, berulang kali itu juga telepon Mira tidak diangkatnya.


Tumben Lana tidak mengangkat teleponku?


Mira pun penasaran. Tidak seperti biasanya Lana membiarkan Mira menunggu. Dan akhirnya Mira keluar dari kamarnya. Ia ingin menemui ibunya. Mira ingin meminjam mobil ibunya untuk ke rumah Lana.

__ADS_1


__ADS_2