GURU TARIKU, I LOVE YOU

GURU TARIKU, I LOVE YOU
Merasa Heran


__ADS_3

Dia tidak mengangkat teleponku?


Sementara Jim tampak terheran kala Mira tidak juga mengangkat teleponnya. Berulang kali ia menelepon, berulang kali juga tidak angkat oleh Mira. Membuat Jim berpikiran yang tidak-tidak.


Mira, tolong angkat teleponku.


Dan kini semuanya berbalik. Jim mengejar-ngejar Mira setelah tiga tahun lamanya berpisah. Ia menginginkan hati muridnya.


Beberapa hari kemudian...


Cuaca cerah pagi ini seolah menyambut kedatangan para calon mahasiswa sebuah universitas kesenian di ibu kota. Hari ini akan diadakan tes masuk di universitas tersebut. Yang mana Mira juga ikut datang menghadirinya. Ia mengenakan kemeja biru dengan celana dasar hitam panjang. Tampak rambutnya yang dibiarkan tergerai.


Eh, ada telepon?


Tiba-tiba ponsel Mira pun berdering. Ia segera mengambil ponsel dari dalam tas lalu mematikan suaranya. Ia pun melihat siapa gerangan yang meneleponnya pagi ini.


Kak Jim? Dia meneleponku lagi?

__ADS_1


Dan ternyata Jim lah yang kembali menelepon Mira. Mira pun tampak enggan menggubrisnya. Ia biarkan ponsel itu terus bergetar. Tak berapa lama sebuah pesan pun diterima olehnya.


/Mira, apa aku membuat kesalahan sehingga empat hari ini kau tidak mengangkat teleponku?/


Begitulah pesan yang Jim kirimkan untuknya. Tampak Mira yang ragu untuk membalasnya.


Balas tidak, ya? Jika terus kuladeni, Kak Jim pasti amat berharap pernikahan itu segera terjadi. Sedang aku masih belum siap sama sekali.


Mira dilanda gundah dan dilema.


Kekhawatiran di dalam hatinya mencuat ke permukaan dan membuat Jim bertanya-tanya. Mira mendiamkan Jim beberapa hari ini. Jim pun merasa ada yang salah terjadi. Sehingga ia menanyakan kepada Mira. Jim terpaksa mengirimkan pesan kepada Mira karena teleponnya beberapa hari ini tidak diangkat juga.


Mira, aku mendapat pekerjaan baru. Aku dipanggil untuk menjadi dosen di sini. Aku ingin merayakannya bersamamu. Tapi kenapa kau tidak juga membalas pesan atau mengangkat teleponku?


Pria tampan itu terus memikirkan gadis kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa. Tapi sayang, perasaannya diabaikan begitu saja. Jim pun merasa resah dan gelisah.


Beberapa jam kemudian...

__ADS_1


"Aku pulang!"


Dara cantik itu baru saja sampai di rumahnya, selepas mengikuti tes masuk ke sebuah universitas. Wajahnya tampak lelah. Ia pun meminum air segera. Tampak keadaan rumahnya yang sepi, tidak ada siapa-siapa. Ia pun lekas beranjak ke kamarnya.


"Hah ...."


Ia merebahkan dirinya di kasur. Menatap langit-langit kamar sambil melepas lelah. Namun, tak berapa lama bel rumahnya berbunyi. Suara ketukan di pintu pun terdengar berulang kali.


Siapa ya?


Ia pun beranjak bangun untuk membukakan pintu. Dengan lelah berjalan ke ruang tamu lalu mengintip siapa yang datang dari balik tirai jendela. Dan ternyata...


Dia ke sini?!


Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan. Napasnya seperti hilang kala melihat siapa yang datang. Siang ini seseorang menghampiri rumahnya. Ialah Jim yang sudah menunggu di depan rumahnya.


Apa yang harus aku lakukan?!

__ADS_1


Mira kelabakan. Ia pun beranjak ke kamarnya untuk mematikan ponsel. Tapi saat baru melangkahkan kaki, saat itu juga Jim meneleponnya. Jim juga melihat dari balik kaca jendela. Jim melihat dirinya di dalam rumah.


__ADS_2