
"Mama sudah mengundang Jim secara langsung untuk datang kemari. Tapi dia menolak dengan alasan takut kehadirannya mengganggumu, Mira. Apakah kau berniat menghindarinya?" Sang ibu tampak serius bertanya pada putrinya.
Mira terdiam. Ia menelan ludahnya. Ternyata benar dugaan di dalam hatinya jika sang ibu telah mengetahui yang sebenarnya. Ia pun tak tahu harus menjawab apa.
Sang ibu mendekati putrinya. "Mira, dengarkan mama. Sejauh apapun kau pergi, sekeras apapun usahamu untuk menghindarinya, jika dia jodohmu, kalian akan bersama juga. Ada tiga hal di dunia ini yang mutlak tidak bisa dihindari. Jodoh, rezeki, maut. Ketiganya saling kejar-mengejar ke orang yang dituju. Maka jagalah sikapmu. Jangan sampai mengecewakan orang lain. Bisa jadi yang kau kecewakan itu adalah jodohmu." Sang ibu menasihati putrinya.
Mira hanya diam mendengarkan perkataan ibunya. Ia merasa tidak dapat berbuat apa-apa. Baik ibu ataupun ayahnya menginginkan ia menikah. Tapi Mira bersikeras untuk menolaknya. Ia masih ingin menikmati masa muda.
Mira mengangguk. "Baik, Ma. Mira akan simpan baik-baik perkataan Mama. Mira kuliah dulu ya." Ia pun tersenyum kepada ibunya. Berlalu pergi dari hadapan sang ibu karena harus segera berangkat ke kampusnya.
Hah ... anak itu.
Tampak sang ibu yang memijat kepalanya. Ia merasa putrinya sudah tumbuh dewasa. Pemberontakan itu pun mulai terjadi pada putrinya. Sekalipun niat baik sebagai orang tua. Ibu Mira harus lebih bersabar menghadapi sikap putrinya.
__ADS_1
Satu jam kemudian, di kampus Mira...
Hari ini adalah hari pertama Mira masuk ke kampus sebagai mahasiswa. Setelah melewati masa orientasi yang hanya beberapa hari saja, Mira dinyatakan sah menjadi mahasiswi fakultas seni. Dan kini ia duduk di dalam kelasnya. Dekat dengan teman-teman yang sedang membicarakan seseorang. Tapi Mira tampak tidak memedulikannya.
"Hei, kalian tahu. Ada dosen baru yang mirip sekali dengan idol ternama. Dia tampan dan juga pintar menari," cetus salah seorang mahasiswi di kelas Mira.
"Benar, kah? Apakah dosen itu akan mengajar kita juga?" tanya yang lainnya.
"Selamat pagi, Anak-anak." Tiba-tiba seorang pria tua berkaca mata datang memasuki kelas Mira.
"Pagi, Pak."
Ialah dekan kampus Mira yang datang pagi ini ke kelas. Tampak semua mahasiswa baru berdiri, memberi hormat padanya.
__ADS_1
Dekan itu tersenyum. "Jumlah mahasiswa fakultas seni tahun ini lebih banyak dari tahun kemarin. Aku sangat senang dapat bertemu kalian. Kali ini aku juga akan memperkenalkan dosen bidang studi fakultas ini. Silakan Dosen Jim untuk masuk ke ruangan." Ia berbicara kepada seseorang yang sudah menunggu di depan pintu.
Dosen Jim?!
Saat mendengar nama itu, saat itu juga hati Mira dag-dig-dug tak terkendali. Seribu prasangka mulai bermunculan di pikirannya. Nama itu begitu ia kenal. Ia pun berharap Jim yang dimaksud bukanlah pria yang ingin dijodohkan dengannya. Namun...
Kak Jim?!
Saat seorang pria berkemeja hitam datang memasuki kelas, saat itu juga Mira terdiam seperti tanpa bisa bernapas. Ternyata Jim yang dimaksud adalah benar-benar guru tarinya dahulu.
Astaga!
Tampak Jim yang tersenyum kepada semua mahasiswa. Namun, tak lama matanya tertuju pada seorang gadis berkemeja biru yang terbelalak di sana. Semesta kembali mempertemukan mereka.
__ADS_1