
"Hahaha. Tentu aku ingat padamu, Malik. Tahi lalat di hidungmu itu tidak bergeser satu senti pun. Aku merasa itu memang ciri khasmu." Park menambahkan.
Malik tertawa dalam rasa tak percayanya. "Kau benar. Ini memang bukti nyata jika aku yang asli. Hahaha." Ia menerima dirinya.
"Pa." Tiba-tiba Mira datang, menghampiri keduanya. "Kata mama hidangan sudah siap. " Mira memberi tahu.
Malik mengangguk. "Nanti papa ke sana," sahut Malik ke putrinya.
Mira mengiyakan. Ia tersenyum lalu kembali ke pekarangan vila yang luas. Ia pun membantu sang ibu menyajikan hidangan ke karpet taman yang dihamparkan. Malam ini kedua keluarga itu akan bersantap bersama.
"Em, Malik."
"Ya?"
"Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka. Bukankah itu lebih baik?" tanya Park kepada ayah Mira.
"Maksudmu Mira dan Jim?" tanya Malik lagi.
__ADS_1
Park mengangguk. "Aku rasa mereka sudah kenal dekat. Kita juga sudah berteman sangat lama. Mengapa tidak lebih mempererat hubungan ini dengan menjodohkan mereka?" Park mencoba membuka pikiran temannya.
"Kau yakin? Anakku masih kecil." Malik pun tak percaya.
Park berpikir cepat. "Tunangan saja dulu. Sebagai pengikat, aku yang akan mempersiapkannya. Lagipula jika sudah ada ikatan, mereka tidak berani main di belakang. Mereka hanya akan berhubungan dengan pasangannya. Tidak dengan yang lain." Park membujuk.
Ayah Mira tampak berpikir. "Untuk urusan itu aku tidak berani memaksa putriku. Lagipula jika memang harus ada ikatan, kenapa tidak langsung menikah saja? Itu lebih aman." Ayah Mira tampak khawatir jika hanya bertunangan.
Saat itu juga Park menelan ludahnya. "Kau serius? Kalau begitu aku lebih setuju. Lagipula Jim sudah dewasa. Dia juga sudah mapan secara finansial. Dia yang akan melanjutkan usaha keluarga. Lalu bagaimana jika kita tentukan saja tanggalnya?" tanya Park berapi-api.
"Papa! Cepat kemari! Nanti terburu dingin!" Tiba-tiba ibu Mira memanggil.
Ia pun mengajak kawan lamanya untuk segera ke karpet taman yang telah tersaji hidangan makan malam. Perbincangan malam ini pun menghasilkan sebuah tujuan.
Selepas makan malam...
Bintang-bintang bertaburan di angkasa. Rembulan juga bersinar dengan terang. Tampak Mira dan Jim sedang berjalan bersama di pelataran vila. Mereka menikmati malam yang indah. Mira pun seringkali menyampirkan rambutnya ke belakang telinga. Angin di perbukitan terasa lebih kencang menerpa.
__ADS_1
"Em, Mira." Jim menyapa Mira.
"Ya?"
"Selama tiga tahun ini kau sendiri, bukan?" Jim menanyakannya.
Mira mengangguk. "Kalau Kakak sendiri?" tanya Mira balik.
Jim menoleh ke Mira. "Tentu aku masih memegang ucapanku." Ia tersenyum kepada Mira.
Mira ikut tersenyum. Suasana terasa syahdu malam ini. Ditambah Jim yang melepas sweternya untuk Mira. Ia pun memakaikannya ke Mira. Membuat suasana bertambah dalam saja. Mira pun merona karenanya.
"Em, bagaimana ... bagaimana kalau kita menikah saja?" tanya Jim tiba-tiba.
"Apa-apa?!" Mira pun tak percaya.
"Em, maksudku ... kita buat ikatan yang lebih nyaman lagi. Lagipula ... aku pikir kau sudah dewasa secara usia." Jim ragu-ragu mengatakannya.
__ADS_1
Mira tertawa. "Kak Jim bercanda. Aku baru delapan belas tahun." Mira pun memasang raut wajah tak percayanya.
Jim tersenyum. Ia tampak malu sendiri. "Aku ... sudah tidak ingin main-main lagi. Aku juga tidak ingin dikhianati kembali. Bukankah kalau menikah ikatan lebih kuat dan sulit berpisah?" Jim menanyakannya kepada Mira.