GURU TARIKU, I LOVE YOU

GURU TARIKU, I LOVE YOU
Minta Bertemu


__ADS_3

"Eh, sebentar ya."


Mira pun berkata seperti itu kepada teman-temannya. Teman-teman Mira pun menunggu sambil berjalan pelan, mereka kembali bercakap-cakap mengenai kehebohan berita hari ini. Sedang Mira...


Kak Jim?


Ternyata Jim lah yang menelepon Mira. Mira pun jadi ragu untuk mengangkatnya. Tapi jika tidak diangkat, ia akan terlalu menunjukkan sifat kekanak-kanakannya.


Apakah dia di sini?


Mira pun melihat ke sekeliling, khawatir Jim menelepon sambil melihatnya mengangkat telepon atau tidak. Pada akhirnya Mira pun mengangkat telepon itu juga.


"Halo?" Ia tampak deg-degan mengangkatnya.


"Bisa kita bertemu? Di stadion olahraga dekat sekolah?" tanya Jim dari seberang.


"Em, aku--"

__ADS_1


"Aku ingin bicara padamu. Penting." Jim menyela perkataan Mira.


Mira pun berpikir cepat untuk menanggapi ajakan bertemu dari Jim. "Aku ada les hari ini, Kak. Aku tidak bisa." Mira pun beralasan kepada Jim.


Jim terdiam di sana. "Aku akan tetap menunggu. Stadion olahraga di lapangan basketnya. Aku tunggu sampai kau datang," kata Jim.


"Tapi--"


Belum sempat melanjutkan perkataannya, tiba-tiba saja telepon sudah diputuskan oleh Jim. Mira pun tidak bisa beralaaan lagi untuk menolak pertemuan hari ini. Ia jadi bingung sendiri.


Apakah aku harus ke sana?


"Mira! Ayo!" Meraka pun mengajak Mira untuk ke gerbang sekolah bersama.


Mira mengangguk. Ia memasukkan ponselnya kembali. Ia pun berusaha melupakan telepon itu. Sebuah telepon dari seseorang yang ada di hatinya. Jimly.


Sore harinya...

__ADS_1


Saat ini hujan begitu deras. Mira pun sudah berada di rumahnya sejak tadi. Sehabis pulang sekolah ia langsung belajar di rumah. Tetapi tetap saja hatinya gelisah. Ia tidak memenuhi pertemuan dari Jim. Dan kini hujan mengguyur deras perkotaan.


Apakah dia masih menungguku? Tapi jangan-jangan dia memintaku datang untuk menjelaskan jika sudah kembali bersama wanita itu?


Mira mengambil ponselnya. Ia ingin menghubungi Jim saat ini. Tapi rasa sakit itu menahannya agar tidak menghubungi Jim kembali. Mira tidak ingin terluka lebih lama. Cukup waktu itu saja melihat Jim mengiyakan ajakan pertemuan Amelia. Mira tidak mau datang dan menjadi obat nyamuk mereka.


"Mira, Mira di mana?!"


Tak lama sang ibu pun pulang dari kliniknya. Ia membuka pintu kamar Mira dan melihat sang putri sedang termenung di pinggir kasurnya. Mira pun jadi ingin meminta ditemani ibunya ke stadion olahraga.


Apa aku minta temani ibu saja ya? Mira pun jadi gundah gulana.


"Mira, paman dan bibi mau datang. Tapi mama belum masak. Temani mama beli lauk di luar sebentar ya." Sang ibu mengajak putrinya.


Mira mengangguk. "Baik, Ma." Mira pun segera mengambil jaketnya.


Mira masih memikirkan Jim di sana. Ia bingung harus ke sana atau tidak. Ia pun akhirnya mengikuti ajakan ibunya. Menemani sang ibu membeli lauk-pauk di luar. Tentunya dengan tidak menunjukkan kegundahannya. Sebisa mungkin Mira menutupinya.

__ADS_1


Malam harinya...


Saat ini pukul tujuh malam waktu sekitarnya. Tampak Mira bersama sang ibu dan paman beserta istrinya sedang makan bersama. Makan malam pertama sejak Mira masuk SMA. Dan ya, terdengar pujian kepada Mira yang semakin cantik saja.


__ADS_2