GURU TARIKU, I LOVE YOU

GURU TARIKU, I LOVE YOU
Mengira-Ngira


__ADS_3

"Mama ingin mengucapkan terima kasih kepada Nak Jim karena telah membantu mendorong mobil mama yang mati di pinggir jalan tadi. Kalau tidak ada Nak Jim, mungkin mama harus mendorongnya sendiri." Ibu Mira membuka percakapan malam ini.


Apa?!


Makan malam baru saja dimulai. Tapi Mira harus mendengar sesuatu hal yang mengagetkan. Di mana ternyata seseorang yang mendorong mobil mamanya adalah Jim. Mira pun tak mengerti mengapa ini bisa terjadi.


"Itu sudah kewajiban saya, Nyonya." Jim pun membalasnya.


Nyonya? Dia memanggil mama dengan sebutan nyonya? Ada-ada saja.


Mira menggerutu sendiri.


Ibu Mira tersenyum. "Panggil saja tante, ibu atau mama seperti Mira. Lagipula tak lama lagi Nak Jim akan menjadi bagian dari keluarga ini. Bukankah ayah Nak Jim sudah mempersiapkan semuanya?" tanya ibu Mira ke Jim.


Seketika Mira mengernyitkan dahinya mendengar hal itu. Seribu prasangka pun mulai bermunculan di hatinya.

__ADS_1


Apa maksud mama dengan mempersiapkan semuanya? Apakah aku benar-benar akan dipaksa menikah?!


Mira pun mengira-ngira.


Malam ini bukan tanpa alasan ibu Mira mengundang Jim makan malam di rumah. Malam ini juga akan ada obrolan serius di antara mereka. Yang mana berkenaan dengan pernikahan Mira dan Jim. Pernikahan itu ternyata telah dipersiapkan ayah Jim. Tinggal menunggu kesediaan Mira saja.


"Ayah sudah mempersiapkan semuanya, Tante. Saya berharap Mira juga bersedia." Jim menanggapinya.


"Kak Jim apa maksudmu?!" Tiba-tiba Mira bertanya dengan intonasi kesal.


Mira semakin tak mengerti. Ia melihat ke arah ibunya. "Ma, apa-apaan ini?!" Mira pun khawatir sendiri.


Sang ibu meletakkan sendok garpu makannya. "Mira, pernikahan kalian sudah ditentukan tanggalnya. Persiapkan dirimu, ya." Dan begitulah yang Mira dengar malam ini.


"Ap-apa?!!!"

__ADS_1


Bak petir menggelegar di angkasa. Tanpa hujan, tanpa awan hitam mendung berarak. Kabar itu harus Mira dengar malam ini. Yang mana amat mengejutkannya. Ternyata oh ternyata pernikahan itu akan segera terselenggara. Dengan atau tanpa persetujuan Mira. Mira pun tak percaya dengan kabar yang didengarnya.


Mereka ... bersekongkol untuk membuatku kesal?!


Dan akhirnya Mira pun kesal tak tertahan. Ia segera pergi meninggalkan meja makan. Tanpa peduli lagi ada Jim yang datang. Mira tak terima pernikahan itu akan secepatnya diselenggarakan. Ia masih belum siap menerima kenyataan. Sedang sang ibu tampak membiarkan dirinya masuk kamar. Ia pun meminta kepada Jim untuk tidak menghiraukan. Karena pernikahan tetap harus terselenggara di tanggal yang sudah ditentukan.


Beberapa jam kemudian...


Mira menangis. Ia memeluk bantal gulingnya di kamar. Ternyata telah terjadi kesepakatan tanpa persetujuan darinya. Mira pun menanggung kecewa dengan rasa cemburu yang masih bersemayam di hatinya.


Mira memang menyukai Jim. Ia juga menyayangi guru tarinya. Tapi bukan berarti ia mau menikah secepatnya. Mira masih ingin menikmati masa muda. Namun ternyata, pernikahan harus secepatnya terselenggara. Mira pun ditimpa dilema.


Kini gadis cantik yang sedang beranjak dewasa itu tengah menangis di kamarnya. Ia merasa sang ibu terlalu memaksanya cepat menikah. Tanggal pernikahan sudah ditentukan. Ia pun tak berdaya untuk membatalkannya.


"Mira, buka pintunya, Nak!"

__ADS_1


Sang ibu mengetuk pintu kamarnya. Ia ingin bicara kepada putrinya. Tampak Mira yang menoleh ke arah pintu saat sang ibu memintanya. Ia pun enggan untuk membuka pintunya. Mira diterpa kecewa.


__ADS_2