
Sungguh tidak masuk akal saat cinta telah berbicara. Begitu juga dengan yang dialami Mira saat ini. Ia percaya Jim akan kembali sekalipun Jim tidak mengabarinya selama ini. Dan kini hal itu terjadi. Jim sudah berada di hadapannya dan meminta kesediaan dirinya untuk serius setelah tiga tahun berpisah. Mira pun merasa terharu. Ia berlinang air mata.
"Apakah Kakak yakin tidak akan mempermainkanku? Kakak tidak sedang bersembunyi dari status yang sebenarnya, bukan?" tanya Mira. Ia khawatir perpisahan tiga tahun itu membuat Jim telah mempunyai pasangan baru.
Jim menggelengkan kepalanya. "Kau bisa menanyakan langsung pada ayahku. Ayo!" Jim pun mengajak Mira untuk bertanya kepada ayahnya.
Saat itu juga Mira menahan Jim. "Kakak, sudah. Aku percaya." Mira pun mengatakannya.
Mira ....
Seketika Jim merasa senang. Ia pun menatap Mira kembali. "Terima kasih." Ia mengucapkan terima kasih kepada Mira.
Mira mengangguk. Ia tersenyum kepada Jim. Suasana malam ini terasa syahdu sekali. Semilir angin pun terasa hangat kala keduanya berdekatan. Jim memegang pipi Mira. Ia ingin meraih sesuatu di sana. Ia ingin mengungkapkan rasa bahagianya. Mira pun menyadari apa yang akan dilakukan Jim padanya.
__ADS_1
Dia ingin menciumku?
Jantung Mira berdetak kencang. Ini adalah pertama kalinya bagi Mira akan berciuman. Ia pun tidak bisa mengendalikan perasaannya. Ia bingung, khawatir, takut dan bahagia yang bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Jim pun memiringkan kepalanya. Ia mendekatkan wajahnya ke Mira. Namun, saat itu juga...
"Uhuk!"
Terdengar suara seorang pria yang batuk begitu keras, tak jauh dari keberadaan mereka. Sontak Mira dan Jim pun melihat siapa gerangan yang berada di sana. Dan ternyata...
"A-ayah?!" Jim melihat ayahnya.
"Mira sebentar, ya."
Jim pun meminta izin ke Mira. Ia lekas mendekat ke ayahnya. Tapi saat itu juga...
__ADS_1
"Dasar bodoh! Kau ingin mempermalukan ayah, ya! Sekarang cepat minta maaf kepada Mira!"
Sang ayah pun menjitak kepala putranya. Ia meminta Jim untuk segera meminta maaf kepada Mira. Saat itu juga Mira terkejut seketika. Ia tak menyangka jika ayah Jim akan memarahi putranya. Padahal ia biasa saja.
"Om, tidak perlu. Kami juga baik-baik saja." Dan dengan dewasa Mira mendekati keduanya. Ia melerai perselisihan yang terjadi.
"Mira, maafkan anak om. Nanti kita bicarakan lagi. Ayah dan ibumu sudah mencari sedari tadi. Ayo kita pulang." Ayah Jim pun mengajak Mira pulang.
Mira mengangguk. Ia melihat ke arah Jim. Sedang Jim tampak memijat kepalanya yang terkena jitakan sang ayah. Pada akhirnya malam ini mereka lalui dengan bahagia. Jim telah kembali ke kota Mira.
Sepulang pesta...
Malam semakin larut. Jim dan ayahnya pun sudah sampai di sebuah penginapan yang ada di pinggir kota. Park tidak mempunyai tempat tinggal tetap di ibu kota. Sehingga ia menyewa penginapan untuk bermalam hari ini. Park pun mengajak Jim bicara. Keduanya duduk di kursi tamu penginapan itu.
__ADS_1
"Ayah lihat kau menyukai anak dari Malik itu. Apa kau serius padanya? Atau hanya main-main saja?" Ayah Jim menghidupkan puntung rokoknya.
Jim mendengarkan saksama pertanyaan ayahnya. Ia pun teringat dengan perjuangan Mira untuknya. Jim tersenyum sendiri seraya mengenang apa yang telah ia lewati bersama Mira. Bagaimana Mira yang membantunya bangkit dari rasa kecewa.