
"Jadi begitu. Niatmu ingin membantu agar gurumu tidak salah pilih?" Ibu Mira mengerti.
Mira mengangguk. "Malam ini Mama sibuk tidak? Aku ingin beli es krim di mal," kata Mira lagi.
"Beli es krim di mal? Kenapa jauh sekali? Kenapa tidak di mini market terdekat saja?" tanya ibu Mira.
Mira nyengir tak karuan. "Mira ingin makan es krim mal, bukan mini market," jawab Mira beralibi.
"Dasar!" Sang ibu pun menyentuh dahi anaknya dengan jari telunjuknya. "Bilang saja ada sesuatu yang ingin kau lihat di sana." Ibunya menduga.
"Hehehe. Mama tahu saja." Mira pun memeluk ibunya.
"Ya, ya, baiklah. Tapi sekarang istirahat dulu. Malam saja kita ke sana ya. Mama ingin merebahkan punggung sebentar." Sang ibu menyetujui permintaan putrinya.
__ADS_1
"Terima kasih, Ma. Mira sayang Mama." Mira pun melihat wajah ibunya. Sontak Sang ibu mencubit hidung anaknya. Ia amat menyayangi Mira.
Malam harinya...
Cuaca malam ini sedikit mendung. Rintik-rintik hujan juga mulai turun. Tadinya Mira hampir tidak jadi ke mal bersama sang ibu. Tapi mereka sudah terlanjur keluar dari rumah. Dan akhirnya mereka sampai juga. Mereka baru tiba di halaman parkiran mal.
Mira mengenakan pakaian serba panjang, begitu juga dengan ibunya. Ibu Mira baru berusia empat puluh tahun dan masih dalam keadaan sehat bugar. Sehingga ia terlihat muda dan seperti teman anaknya. Tapi walaupun begitu, ibu Mira tetap setia. Sekalipun sang suami jarang berada di rumah.
Kini Mira bersama ibunya keluar dari mobil. Mira pun segera menutup pintu lalu memasukkan kedua tangan ke saku jaket yang dipakainya. Tapi saat berbalik ingin menuju pintu masuk, saat itu juga Mira melihat ada motor besar yang datang ke parkiran. Di mana Mira mengenal sosok pengendaranya. Mira pun meminta ibunya untuk masuk duluan ke mal.
"Ma, Mama masuk duluan ya. Nanti akan Mira telepon. Mira ada urusan sebentar." Mira pun meminta ibunya.
"Jangan lama-lama." Sang ibu tampak mengerti.
__ADS_1
Mira mengangguk. Ia lalu segera mengikuti ke mana pemilik motor besar itu pergi. Mira pun melalui sebuah jalan menuju ke belakang mal. Mira terus mengikuti seseorang itu dari jauh. Yang mana pemilik motor besar itu adalah guru Mira sendiri, Jim.
Dia datang malam ini ke sini. Tapi bukan masuk ke dalam mal. Mungkinkah dia ingin menemui pacarnya?
Mira pun kepo sendiri. Sampai akhirnya ia tahu ke mana pria berjaket hitam itu menuju. Dan ternyata ke bagian gudang mal ini. Mira pun segera bersembunyi agar keberadaannya tidak diketahui.
Itu dia!
Mira kemudian melihat seorang wanita keluar dari gudang mal. Berpakaian bak karyawan kantor dengan rok setinggi lutut. Hingga akhirnya mereka bicara tak jauh dari keberadaan Mira. Mira pun mengupingnya.
"Em, Jim?" Mira melihat wanita itu memanggil nama kepada gurunya. Tidak ada mesra sama sekali.
Jim tersenyum kecut. "Sekarang aku sudah tahu apa alasanmu tidak mau kujemput." Pria yang memang Jim itu pun bicara.
__ADS_1