GURU TARIKU, I LOVE YOU

GURU TARIKU, I LOVE YOU
Tidak Datang


__ADS_3

"Mira lebih berisi sekarang. Sudah lama sekali paman dan bibi tidak melihat Mira," cetus istri pamannya.


"Kau terlalu sibuk di luar kota. Makanya jadi jarang ke sini." Ibu Mira menimpali.


Sang paman tertawa. "Maklum, Kak. Rezekinya sedang di sana. Jadi jarang ke dalam kota." Paman Mira mengatakan.


"Mira tumbuh menjadi remaja yang sangat cantik. Tidak tomboy seperti dulu." Sang bibi tersenyum kepada Mira.


"Mira aku ikutkan les di sanggar tari," cetus ibu Mira kembali.


"Benar, kah?! Jadi Mira sudah pintar menari sekarang?!" Sang bibi tampak terperangah tak percaya.


Mira mengangguk. Tapi hanya raganya saja yang berada di sini. Sedang hatinya masih memikirkan Jim. Tak lama dering ponsel Mira pun terdengar kencang sekali. Mira lalu segera berpamitan pergi.


"Maaf, Ma, Paman, Bibi. Mira angkat dulu ya teleponnya. Takut telepon dari sekolah." Mira pun lekas pergi ke kamarnya.

__ADS_1


Sang paman dan istrinya mengangguk. Mereka memerhatikan Mira. "Sepertinya Mira sudah beranjak dewasa, Kak. Kita harus lebih ekstra hati-hati dengan pergaulan anak zaman sekarang." Paman Mira mengatakan.


Ibu Mira meneguk air minumnya. "Itu benar. Maka dari itu aku tidak mengizinkannya pergi jika bukan dengan orang yang kukenal." Ibu Mira menyetujui.


Sebagai keluarga, tentunya saling menjaga satu sama lain. Begitu juga dengan yang dilakukan paman Mira dan istrinya. Walaupun mereka jarang bertemu Mira, tetapi mereka tetap memerhatikan Mira. Apalagi di zaman sekarang, harus ekstra menjaga anak perempuan. Mereka pun berdoa yang terbaik untuk Mira. Semoga Tuhan selalu melindungi Mira di manapun berada.


"Halo?"


Mira sendiri tampak sedang mengangkat telepon masuk untuknya. Tapi tidak terdengar suara apapun dari seberang sana. Mira pun melihat kembali siapa yang meneleponnya. Dan ternyata adalah Jim. Jim menelepon Mira malam ini tapi tanpa ada suara. Mira pun kembali menyapanya.


Tak lama telepon pun terputus. Jim memutuskan sambungan teleponnya dengan Mira. Sontak Mira jadi bertanya-tanya. Ia pun teringat dengan permintaan bertemu Jim hari ini. Tapi Mira tahu jika ia tidak bisa pergi. Karena sedang ada paman dan bibinya di sini. Dan akhirnya ia pun mengirimkan pesan kepada Jim. Sebuah pesan berisi permintaan maafnya.


/Maaf, Kak. Paman dan bibiku sedang datang ke rumah. Aku tidak bisa ke sana./


Pesan Mira pun langsung dibaca oleh Jim. Tapi menit demi menit berlalu, tidak dibalas juga oleh Jim. Mira pun jadi sedih sendiri. Ia merasa bersalah kepada Jim. Hatinya bercampur aduk saat ini.

__ADS_1


Maafkan aku, Kak.


Mira pun mengirim pesan kembali. Ia mengatakan jika bisa datang ke sana esok hari sambil berolahraga pagi. Pesan itu pun dibaca kembali. Tapi tidak terbalas lagi. Sampai akhirnya sang ibu datang ke kamarnya. Mira pun lekas-lekas menghapus pesannya.


"Mira?"


"Mama?!"


"Ayo lanjutkan makannya. Nanti terburu dingin." Sang ibu meminta.


"Baik, Ma."


Mira pun meletakkan ponselnya. Ia segera keluar kamar lalu menuju meja makan kembali. Mira masih harus menghabiskan makan malamnya.


Sebenarnya apa yang terjadi pada putriku? Mengapa dia seperti orang yang gelagapan saat aku datang ke kamarnya?

__ADS_1


Sementara sang ibu memerhatikan perubahan sikap putrinya. Ia merasa telah terjadi sesuatu kepada Mira. Tapi ia belum mau menanyakannya. Ia membiarkan Mira menghabiskan makan malamnya terlebih dulu.


__ADS_2