
"Jadi maksud Papa ingin menikahkanku dengan kak Jim?" tanya Mira memastikan.
Sang ayah tampak menggerakkan jari-jemarinya di atas kursi. Ia mengangguk. Saat itu juga Mira jadi tahu tujuan sang ayah memanggilnya. Dan entah mengapa tiba-tiba dadanya terasa sesak untuk bernapas. Seperti memanggul beban kehidupan yang berat.
Mira tertunduk. Ia terlihat bimbang di kala mengetahui tujuan sang ayah memanggilnya. Ia kemudian menarik napas dalam-dalam agar bisa bicara baik kepada ayahnya.
"Mira ... masih ingin mengejar cita-cita, Pa. Mira ingin jadi entertain sejati. Mira rasa mempunyai bakat di bidang itu setelah mengikuti sekolah tari." Mira mengungkapkan pemikirannya.
Sang ayah mengangguk-angguk. "Baguslah jika telah menemukan passion-mu. Tapi papa rasa pernikahan akan semakin mempercepat meraih cita-citamu. Kau akan mendapatkan ketenangan dalam menggapainya," kata sang ayah lagi.
__ADS_1
Mendapat ketenangan? Mempercepat meraih cita-cita? Apakah papa sedang mengigau? Bagaimana mungkin bisa meraih cita-cita jika sudah menikah? Pasti akan sangat sulit karena mengurus rumah tangga. Papa aneh sekali.
Mira tak terima dengan cara pikir ayahnya yang mengatakan demikian. Karena setahu dirinya, menikah itu akan mempersulit seseorang untuk meraih impian. Karena kehidupan rumah tangga sangat merepotkan. Walaupun nyatanya ia menyukai Jim, tetapi tetap saja logika itu masih bermain.
Mira menggelengkan kepalanya. "Mira tidak mau menikah. Mira belum siap, Pa. Mira ingin mengejar cita-cita." Mira pun menjelaskannya.
Sang ayah menarik napas dalam-dalam. "Papa khawatir di tengah perjalanan kau akan terjebak dalam hubungan tanpa ikatan resmi, Mira. Jim baik untukmu. Dia bisa menjadi suami yang mengayomimu. Bukankah kau juga menyukainya?" tanya sang ayah lagi.
"Mira!" Saat itu juga sang ayah berteriak menahannya. "Kau ingin menjalani hubungan tanpa ikatan resmi? Bagaimana jika suatu saat kalian khilaf dan kau hamil di luar nikah? Kau ingin membuat papa dan mama malu?!" Sang ayah bertanya tegas.
__ADS_1
Mira menghentikan langkah kakinya. Kedua tangannya mengepal kesal. Ia kemudian berbalik menghadap ayahnya. "Mira tidak seperti itu, Pa. Mira bisa menjaga diri." Mira menyahuti.
Sang ayah menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan bantahan putrinya. "Bagaimana jika itu terjadi? Apa papa harus membuangmu ke lautan?" tanya ayahnya lagi.
"Pa." Sang istri pun mencoba mendinginkan suaminya.
"Biar, Ma. Dia tidak tahu risiko besar orang yang berpacaran. Betapa banyak gadis muda yang terjerumus dan mengaborsi kehamilannya karena hubungan di luar nikah. Keluarga menanggung malu dan tidak sedikit pelaku yang mengakhiri hidupnya. Dia tidak meninjau lagi kebaikan dari pernikahan." Sang ayah merasa kesal.
Saat mendengarnya, saat itu juga gemuruh di dalam hati Mira bergejolak begitu besarnya. Ia merasa sang ayah terlalu menyepelekannya. Padahal ia tidaklah seperti apa yang dipikirkan ayahnya. Mira kecewa. Paksaan menikah itu diterimanya. Hatinya bergemuruh, tak terima dengan paksaan ayahnya.
__ADS_1
Papa egois! Papa terlalu menyepelekanku!
Pada akhirnya Mira pun beranjak pergi dari ruang keluarga. Ia kembali ke kamarnya dengan hati penuh amarah. Mira tak terima, hatinya menolak keinginan ayahnya yang meminta untuk segera menikah. Mira masih ingin mengejar cita-citanya.