
Suasana di ruangan itu sesaat menjadi hening. Semua orang terpaku, seolah tidak menyangka Andara akan menerima permintaan Oma Idina dengan begitu cepatnya. Apalagi, tidak terlihat keterpaksaan sedikit pun di wajahnya walaupun awalnya gadis itu sangat terkejut.
Andara tidak memperdulikan bagaimana reaksi mereka saat ini. Tatapan gadis itu hanya tertuju pada Oma Idina. Andara meraih tangan Oma Idina dan menggenggam dengan erat tangan itu. "Oma, jangan sedih lagi. Kami seperti itu tadi hanya karena merasa terkejut. Kami bersedia untuk menuruti keinginan Oma." Andara tersenyum dengan tulus dan dibalas senyuman pula oleh Oma Idina.
Orang tua Andara dan juga orang tua Roy sangat bahagia dengan jawaban Andara. Mereka tak bisa menahan senyuman ketika mereka telah sadar dari rasa terkejut akan jawaban Andara.
"Terima kasih,nak. Sepertinya Oma tidak salah memilih. "
Roy menatap Andara dengan senyuman seolah dirinya berterima kasih atas jawaban yang diberikan oleh Andara. Andara membalas senyumannya dengan begitu tulus. Gadis itu seolah ingin menghibur Roy dengan senyumannya.
Roy merasa lega namun juga merasa keberatan dalam waktu yang bersamaan. Tapi segera ia sadar, dirinya tidak boleh egois. Akan ada banyak hati yang tersakiti jika ia terus bertahan dengan keinginannya. Yang lebih utama, ia tak ingin menyakiti hati sang nenek yang telah merawat dan menyayanginya dengan tulus selama ini.
Saat ini, dia menyerahkan semuanya. Menerima takdir yang mungkin memang sudah seharusnya seperti itu.
.
.
.
Pernikahan Roy dan Andara dilangsungkan hari itu juga. Walaupun hari sudah tidak lagi terang, tapi itu tidak menghalangi niat dari keluarga Roy dan Andara. Mereka tampak sibuk karena semuanya diadakan secara mendadak.
Sementara itu, kedua calon pengantin hanya berdiam diri. Pikiran mereka saat ini sangat kacau. Mereka sama sekali tidak memperdulikan bagaimana keadaan di sekitar mereka. Mereka seolah tidak peduli akan seperti apa kelanjutannya. Mereka memang setuju, namun rasa tak percaya itu seakan tak bisa hilang dari pikiran mereka.
"Mama, karena pernikahan ini diadakan secara mendadak, jadi acara ini hanya bisa disaksikan oleh orang-orang yang berada di rumah ini saja dan juga acaranya tidak lah besar. Mama tidak keberatan,kan?" tanya Diana pada ibu mertuanya.
Oma Idina tersenyum, senyuman kebahagiaan yang sudah lama tidak ia perlihatkan pada orang-orang. "Tidak masalah. Mama mengerti kok. Yang penting, mereka berdua bisa terikat satu sama lain. " Diana tersenyum dan segera membawa mertuanya untuk duduk bersama yang lainnya.
Roy dan Andara duduk di tengah-tengah keluarga nya. Kedua orang itu duduk dengan tatapan kosong. Keluarga nya bukan tidak tau bagaimana keadaan Roy dan Andara saat ini, namun mereka hanya berusaha untuk meluruskan jalan kedua orang itu.
Mungkin mereka egois, tapi belum tentu hubungan terlarang dengan masing-masing pasangan dari dua orang itu, bisa dihentikan begitu saja jika mereka dipisahkan secara paksa dan terang-terangan. Sekali lagi, keluarga nya hanya berusaha untuk meluruskan jalan yang salah itu.
__ADS_1
.
.
Roy dan Andara masih saja seperti orang linglung. Mereka melakukan proses pernikahan seperti sepasang boneka. Disuruh begini, mereka ikut. Memasangkan cincin pun mereka harus dituntun. Begitu seterusnya hingga mereka berdua resmi menjadi suami istri. Mereka berdua bahkan seolah tidak sadar saat acara itu berlangsung.
Diana menghampiri pengantin baru yang masih saja saling berdiam diri itu. Dengan senyuman bahagia, Diana mengajak mereka berdua untuk mengobrol. "Selamat ya , sayang. Terima kasih karena kalian bersedia untuk meresmikan hubungan kalian. " Roy dan Andara tidak merespon nya sama sekali. Tatapan mereka masih saja sama.
"Lihatlah Oma mu, sayang. Itu adalah senyuman kebahagiaan yang sudah beberapa bulan ini hilang dari wajahnya. Terima kasih karena kamu sudah mengembalikan nya. Mommy harap, kamu akan selalu menjaga senyuman di wajah Oma mu itu. " Diana melihat ke arah mertuanya yang sedang duduk bersama Oma Claudy.
Tatapan Roy pun tertuju pada nenek yang selalu ia sayangi itu. Ada rasa haru di hatinya setelah mendengar perkataan ibunya tentang senyum neneknya itu. Roy sedikit tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari neneknya.
Andara pun melihat ke arah yang sama, namun gadis itu lebih memperhatikan neneknya sendiri. Neneknya yang juga tidak sesehat dulu. Wajah neneknya juga tak kalah bahagianya. Ia tersenyum melihat nenek yang ia sayangi sedang berbahagia bersama dengan sahabatnya.
.
.
.
"Selamat istirahat. Sebentar lagi Clarence akan menyusul mu kesini. Mami turun dulu,ya." Sintya terus saja tersenyum walaupun tidak mendapatkan respon dari putrinya.
Andara memasuki kamar itu dengan pikiran yang ia sendiri tidak mengerti harus mengatakan nya seperti apa. Gadis itu kemudian duduk di pinggiran kasur tanpa mengganti pakaian yang menjadi gaun pengantin dadakannya itu.
Andara merasa tubuh dan pikirannya sangat lelah. Namun untuk memejamkan mata rasanya ia tak bisa.
Andara terus termenung sendirian di sana hingga perhatiannya sedikit tersita oleh seseorang yang membuka pintu kamar itu. Andara melihat sekilas ke arah Roy yang terlihat lelah. Kemudian gadis itu kembali sibuk dengan pikirannya sendiri.
Roy duduk di samping Andara setelah melepaskan jas yang ia kenakan. Menyisakan kemeja putih yang terlihat kebesaran untuk tubuh kurusnya.
Pemuda itu menghela nafas panjang dan menengadah menatap ke langit-langit kamar nya. Matanya terus memperhatikan langit-langit kamar dengan pikiran yang tak menentu. Mereka terdiam selama beberapa saat.
__ADS_1
"Maaf," ucap Roy secara tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamar.
Mata Andara sedikit bergerak namun tidak sampai menatap pemuda yang ada di sampingnya. Gadis itu tidak menjawab, dirinya seolah tidak tertarik untuk mengobrol dengan siapapun saat ini.
Tatapan Roy beralih padanya, pemuda itu tampak merasa bersalah. "Dara," panggilnya, namun Andara masih saja tidak melihatnya.
"Maafkan aku, karena membuatmu terjebak dalam keadaan ini. Maafkan keluarga ku yang membuatmu terpaksa menerima pernikahan ini. Aku mengerti kalau kamu tidak bisa menerima semua ini, tapi aku sendiri tidak tau harus bagaimana menghadapinya. Aku tidak ingin kehilangan Oma ku. Maafkan aku kalau aku egois, " ucap Roy panjang lebar dengan tulusnya.
Merasa bingung untuk berkata apa lagi karena Andara hanya diam saja, Roy akhirnya ikut terdiam sambil menatap lurus ke depan.
"Fyuuuh..." Andara menghembuskan nafas panjang dengan keras. Roy kembali menatapnya, menunggu gadis itu akan bereaksi seperti apa.
"Tidak masalah, aku sama sekali tidak merasa terbebani. Aku juga tidak merasa terpaksa sama sekali. Aku memang terkejut karena aku tidak menyangka akan seperti ini kejadiannya. Tapi kamu tidak perlu merasa bersalah padaku." Andara menatap Roy dengan senyuman manis di wajahnya.
Roy sedikit terpaku dengan jawaban gadis itu. Jawaban yang tak pernah ia sangka bisa dengan entengnya keluar dari mulut gadis itu. Apalagi melihat bagaimana sikap Andara beberapa saat setelah mereka resmi menikah. Bagaimana bisa gadis itu berkata dengan santainya seolah ini adalah masalah kecil?
"Apa aku tidak salah dengar? Ataukah aku berhalusinasi? "
.
.
.
bersambung...
.
.
.
__ADS_1