
Tidak ada yang tau siapa akan berjodoh dengan siapa. Kita tidak tau bagaimana Tuhan merencanakan sesuatu untuk kita. Kita tidak boleh melawan takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan untuk kita. Karena apapun itu, Tuhan pasti memiliki rencana yang terbaik untuk kita.
Setiap orang pasti pernah membuat kesalahan, namun tidak semua bisa sadar dan mengakui kesalahan itu. Tuhan memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kita, tapi belum tentu semua orang bisa memanfaatkan kesempatan itu dengan baik.
Tuhan pasti akan memberikan jalan untuk setiap orang yang mau berubah. Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak.
Jika kita sebagai manusia menganggap seseorang tidak mungkin bisa sadar dari kesalahan, maka itu artinya kita bukanlah manusia yang benar-benar berpikir, karena Tuhan mampu untuk mengubah jalan hidup seseorang. Tuhan mampu untuk membolak-balikkan hati manusia. Entah bagaimana pun keadaan seseorang itu, jika Tuhan sudah menghendaki nya, maka akan terjadi juga.
.
.
.
Ryan membuang nafasnya panjang setelah berlama-lama berperang dengan pikirannya sendiri. Pemuda itu akhirnya menyerah memikirkan sesuatu yang memang tidak ia ketahui.
Ryan memilih untuk mengikuti saja bagaimana alurnya akan berjalan. Tidak mungkin juga kalau dia akan mengacaukan sesuatu yang tidak ia ketahui dengan jelas. Menjadi penonton mungkin adalah pilihan terbaik saat ini.
Tapi, pemuda itu juga teringat dengan sikap Thanit dan Roy yang berubah. Dan lagi, di mana keberadaan Thanit saat ini? Ryan memikirkan hal itu lalu menghubungi Thanit, lagi. Berharap kali ini ia mendapatkan jawaban dari kekhawatirannya.
Namun nomor yang ia hubungi sama sekali tidak merespon. Entah sudah berapa kali Ryan menghubunginya. 'Kemana perginya orang ini? Apakah benar kalau aku berpikir tidak ada masalah dengan adanya kejadian ini?'
Joko dapat melihat kekhawatiran di wajah temannya itu. Ia memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Ryan.
"Ada apa?"
Ryan menoleh ke arahnya sambil terus memegangi ponselnya. "Apa kamu tau di mana Thanit berada saat ini? Aku menjadi khawatir. Apalagi mengingat pertengkaran antara Roy dan Thanit beberapa hari yang lalu. Sepertinya mereka memiliki masalah."
"Aku juga berpikir begitu. Tapi aku sama sekali tidak tau di mana Thanit berada saat ini. Apakah nomornya tidak bisa dihubungi?"Ryan menggeleng sambil memperlihatkan ponselnya pada Joko.
"Apa kita hubungi saja Roy? Mungkin dia tau dimana Thanit saat ini."Ryan terlihat tidak yakin.
"Hubungi saja lah, daripada kita khawatir begini. Lagipula, sesibuk apapun Roy saat ini, pasti dia punya sedikit waktu untuk menjawab telepon kita."
"Baiklah."
'Tapi sebenarnya bukan itu masalahnya. Aku takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kalau aku bertanya pada Roy.'
"Hei! Kenapa malah melamun?" tanya Joko sambil menepuk bahu Ryan dan membuat pemuda itu terkejut.
__ADS_1
"Iya, aku akan segera menghubungi nya."
Ryan menghubungi Roy dan tidak lama panggilan mereka pun terhubung. Ryan tampak ragu untuk bertanya pada Roy. Akhirnya Joko mengambil alih ponsel itu dan bertanya pada Roy tanpa sungkan.
"Hai, bungsu. Apa kamu tau Thanit berada di mana saat ini? Sudah beberapa hari ia tidak pulang ke kost. Kami menghubungi nya pun dia tidak merespon. Kami samgat khawatir padanya. Apalagi sebelum kamu pergi, kalian bertengkar hebat. Aku takut dia juga marah pada kami, sedangkan kami tidak tau apa masalahnya."
Tidak ada jawaban membuat Joko menatap Ryan dengan bingung. Ryan yang terlihat gugup, melihat ke arah Joko dengan bingung pula.
"Dia tidak menjawab. Apakah dia tidak mendengar suaraku?"
Ryan hanya bisa pasrah. Tubuhnya mendadak merasa lemas membayangkan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan antara kedua temannya itu.
'Mendadak aku menjadi merasa bersalah.'
"Hei, bagaimana ini?" tanya Joko semakin bingung karena sambungan telepon nya sudah terputus.
Ryan mengambil ponselnya dan kembali menghubungi Thanit. Setelah beberapa kali tidak ada jawaban, akhirnya ia bisa mendengar suara Thanit dari seberang sana.
"Halo, Thanit. Kamu ada di mana? Kenapa tidak mengabari kami jika kamu tidak pulang? Kami sangat khawatir karena tidak ada yang bisa kami hubungi untuk menanyakan keadaan mu," ucap Ryan yang benar-benar terlihat khawatir.
"Aku baik-baik saja. Keadaan ku bahkan sangat baik sehingga aku merasa seperti melayang."
Jawaban Thanit membuatnya bingung. "Apa maksud mu? Di mana kamu sekarang?"
Ryan terlihat kalut. Pemuda itu berdiri dengan tatapan yang gundah. "Apa maksud mu? Apa yang akan kamu lakukan?"
Tidak ada jawaban dari Thanit, yang terdengar hanya suara angin dan kendaraan yang saling bersahutan.
"Apa yang terjadi?" tanya Joko yang terlihat ikut khawatir.
Ryan kebingungan dengan keadaan ini. "Tidak mungkin dia akan nekat. Tidak mungkin dia akan melakukan hal itu."
"Melakukan apa? Apa yang dikatakan Thanit?"
Ryan menatap Joko dengan tatapan kosong. Joko semakin bingung dibuatnya. "Thanit akan mencoba untuk bunuh diri."
"Apa?!"
.
__ADS_1
.
.
.
Seorang pemuda berdiri dengan tatapan yang kosong di pinggir sebuah jembatan. Tangannya menggenggam erat pagar pembatas jembatan itu. Pemuda itu seolah ingin meremukkan benda yang dipegangnya karena emosi yang berusaha ia pendam.
Ia teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu, saat seorang pemuda dengan tenangnya berpamitan padanya. Ketika itu pula, emosi yang selama ini selalu ia pendam, ia keluarkan di depan pemuda itu.
Namun pertengkaran mereka sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka bertengkar karena hubungan mereka yang sudah berakhir. Jadi kedua temannya tetap tidak tau dengan hal itu.
"Aku tidak tau harus bagaimana menghadapi kejadian ini. Aku belum siap untuk menjalaninya. Aku tidak bisa menerima semua ini. Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku telah kalah. Selama ini, aku sudah berjuang untuk hubungan ini. Berbagai hambatan tidak aku pedulikan. Aku kira aku akan menang dan tidak akan merasakan kekecewaan ini. Tapi apa yang terjadi sekarang?"
Pemuda itu tersenyum sinis sambil memandangi kendaraan yang berlalu lalang di bawahnya.
"Apakah salah kalau aku membalasmu atas semua perlakuan mu ini, Roy? Dulu kamu mengatakan padaku bahwa akulah orang yang paling berarti dalam hidup mu. Tapi kenyataannya, kamu sekarang mengakhiri hubungan ini dengan alasan tidak ingin mengecewakan orang tuamu. Lalu kenapa dulu kamu menerimaku kalau kamu tidak ingin mengecewakan mereka?"
Sementara itu, sangat jauh dari tempat pemuda itu berdiri, suasana yang ramai di sebuah rumah tidak mampu mengalihkan kegundahan hati seorang pemuda.
Ia terlihat sangat kebingungan setelah mendapatkan kabar yang mengejutkan dari kedua temannya. Apalagi setelah melihat keberadaan seseorang itu lewat ponselnya, ia menjadi bertambah yakin dengan pikirannya. Mengingat bagaimana pertengkarannya dengan orang itu.
Raut wajahnya yang tidak bisa tenang, membuat seorang gadis menjadi ikut khawatir.
"Roy, ada apa?"
Pemuda itu bergeming dengan tatapan yang kosong. Gadis itu dengan sabar mengusap-usap bahunya, berharap pemuda itu bisa tenang.
"Katakanlah padaku, siapa tau aku bisa membantumu."
Roy menatap gadis itu dengan wajah yang sedih. "Dara, aku harus pergi. Maafkan aku."
Andara terdiam. Pikiran gadis itu berkecamuk, membayangkan bahwa pemuda di hadapannya ini akan kembali pada kekasihnya.
.
.
.
__ADS_1
.
bersambung...