
Namanya adalah Karin. Gadis cantik yang kehadirannya tampak berbeda dengan yang lainnya. Gadis yang ternyata anak dari orang berada namun dia sangat sederhana. Dialah gadis yang membuatku merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta.
Kehadirannya sungguh membuat hidupku seolah berubah. Dalam benakku selalu dipenuhi olehnya. Semenjak aku bertemu dengannya saat masuk sekolah menengah pertama, perasaanku sudah terpaku padanya.
Mungkin orang akan mengatakan cintaku adalah cinta monyet saat itu, tapi orang-orang tidak bisa mengatakan hal itu lagi kalau mengetahui kenyataan bahwa aku mencintainya selama lima belas tahun ini.
Ya, sudah selama itu aku mencintainya dan aku sama sekali tidak pernah merasa bosan. Perasaanku tak bisa berubah walau bagaimanapun sikapku terhadapnya selama ini.
Saat pertama bertemu dengannya, aku ingin menjadi sosok yang berbeda. Aku ingin dia melihat ke arah ku. Maka dari itu, aku berusaha menarik perhatiannya dengan berbagai cara.
Aku yang awalnya adalah anak yang tidak terlalu peduli dengan bagaimana tanggapan orang, berubah menjadi sosok anak yang perhatian.
Aku juga sebenarnya bukanlah anak yang berprestasi, namun karena dia, aku jadi anak yang giat belajar. Aku hanya ingin membuat ia tau bahwa aku adalah anak laki-laki yang hebat. Mungkin itu lucu, tapi itulah kenyataannya saat itu.
Aku menjadi lebih perhatian terhadap kedua orang tuaku, apalagi kalau dia melihat, aku pasti akan lebih menunjukkan kasih sayang ku pada kedua orang tuaku. Aku juga ingin dia tau bahwa aku bukan hanya baik pada orang lain, tapi aku sangat baik pada keluarga ku juga.
Dia sering sekali melihat ku ketika aku bersama kedua orang tuaku. Aku senang. Apalagi dia melakukan itu seolah tanpa henti. Aku senang ketika dia terus menerus melihat ke arah ku.
Kami sering sekali ikut serta dalam berbagai kegiatan dan juga perlombaan. Dia adalah gadis yang pintar. Jujur,aku sulit sekali untuk mengejarnya. Tapi aku tetap berusaha. Sehingga kalau bukan dia yang pertama, maka aku yang menggantikan posisinya.
Aku tidak akan membiarkan orang lain merebut posisi kami. Aku ingin selalu berdampingan dengannya walaupun terkesan seperti kami sedang bermusuhan. Tapi kalau tidak begitu, aku merasa tidak punya kesempatan untuk mendekatinya.
Karin adalah gadis pendiam saat itu. Sikapnya yang terkesan dingin bisa membuat orang lain merasa takut jika berdekatan dengannya. Itulah mengapa aku juga sulit untuk mendekatinya.
Namun sikapnya berubah sedikit demi sedikit ketika kami sudah masuk SMA. Dia menjadi gadis yang bisa menunjukkan berbagai ekspresi. Aku senang melihatnya. Aku menjadi semakin tertarik padanya. Aku merasa beruntung karena berhasil masuk ke SMA yang sama dengannya. Aku jadi bisa melihat berbagai perubahannya itu.
Tapi...
__ADS_1
Aku merasa sedih karena rupanya selama ini dia menganggap ku sebagai saingannya. Walaupun ia tidak mengatakan itu selama ini, namun hal itu pantas ia katakan mengingat bagaimana usaha ku selama ini. Walaupun sebenarnya usahaku itu hanya untuk bisa mendekatinya.
Karin terang-terangan menunjukkan sikap persaingannya denganku, walaupun sebenarnya itu sudah berlangsung sejak lama, tapi rasanya itu jadi berbeda. Aku sebenarnya tidak ingin melayaninya kalau alasannya seperti itu. Tapi aku tidak ingin dianggap sebagai seorang pecundang.
Aku melayaninya dalam persaingan untuk menunjukkan bahwa aku bisa dan aku bukanlah seorang pecundang. Walaupun aku tau itu akan membuatnya semakin memusuhiku, tapi itu sudah terlanjur.
Karin berusaha keras untuk menjadi lebih baik dari aku bahkan dari siapapun di sekolah kami. Itu membuatku berpikir bahwa bukan persaingan denganku alasan ia jadi seperti itu. Aku tidak tau apa alasannya yang sebenarnya. Tapi ia selalu berusaha untuk mengalahkan siapapun.
Karin tetap berusaha keras walaupun saat kondisi tubuhnya tidak baik-baik saja. Itu membuat kami selaku teman sekolahnya merasa ia berlebihan. Ia tidak mau mengalah dan menyerah, sangat keras kepala.
Selepas dari semua itu, perasaan ku masih saja sama. Tapi aku tidak pernah menunjukkan itu padanya. Bagaimana, sikapnya saja seperti itu. Bisa-bisa aku disemprot duluan olehnya.
Tapi...
Bertahun-tahun aku memendam perasaan ku itu, akhirnya aku tidak tahan juga. Aku ingin menyatakan perasaan ku padanya namun aku masih belum berani.
Terserahlah kalau orang menganggap aku ini pecundang, toh memang aku tidak berani. Yang bisa aku lakukan saat itu hanyalah mengirim surat untuknya. Itupun berhari-hari aku membuatnya.
Namun...
Kejadian setelah terkirimnya surat itu benar-benar jauh diluar dugaan ku.
Karin berubah menjadi gadis yang arogan saat ia melihatku. Ia bahkan tak segan berkata dengan kasar padaku di hadapan banyak orang. Aku sungguh bingung. Kenapa reaksinya bisa seburuk itu? Apakah dia sangat membenciku?
Aku kehilangan semangat dan menjalani hari-hari ku dengan lemas. Setiap kali melihat dia, aku hanya bisa terdiam. Ingin aku menyeretnya untuk menanyakan apakah yang aku lakukan sefatal itu hingga membuat nya malah membenciku? Tapi aku sama sekali tidak bisa melakukannya.
Aku terlalu pecundang. Aku sudah merasa kalah terlebih dahulu sebelum melakukan nya. Lewat surat saja reaksinya seperti itu, lalu bagaimana kalau aku mengatakannya secara langsung? Pasti akan lebih buruk.
__ADS_1
Akhirnya aku pasrah saja dan tetap bersaing dengannya seperti dulu. Sikapku jelas berubah padanya, tapi sialnya perasaanku tidak. Aku malah semakin menginginkan dia.
Di tengah persaingan kami, salah satu temanku membawa surat yang dikirim oleh Karin. Pikiran dan perasaan ku bercampur aduk saat menerimanya.
Aku membukanya dan membaca tulisan tangan yang setahuku,itu milik Karin.
Darahku seolah mendidih membaca kata demi kata yang tertulis di sana. Pernyataan bahwa bagaimana ia sangat membenciku dan menganggap aku tidaklah layak untuk mencintainya.
Aku tidak pernah membayangkan akan mendapatkan ujaran kebencian yang sebegitu kejamnya dari gadis yang aku cintai. Aku sungguh sangat kecewa. Ternyata ia juga melihatku dari status sosial kami. Jelas saja aku kalah jauh darinya.
Sejak saat itulah aku memendam perasaan cinta dan dendam terhadap nya. Aku sungguh sangat marah karena perasaanku padanya tidak pernah berubah.
Sempat aku ingin menguasai dirinya. Itu terjadi ketika Karin terbaring lemah di ruang UKS dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Aku ingin memilikinya. Aku ingin menjadikannya milikku seutuhnya dan membuatnya selamanya berada dalam genggaman ku.
Namun aku segera tersadar dan menjauhkan pikiran burukku. Melihat gadis itu yang sedang tertidur, akhirnya aku hanya mengecup bibirnya. Kecupan pertama dan mungkin juga yang terakhir, aku kira.
Setelah itu aku berusaha untuk menjauh darinya. Aku melanjutkan pendidikan ku di tempat yang berbeda dengannya.
Aku kira dengan begitu, aku bisa melupakan perasaanku padanya, tapi ternyata aku salah. Siapa dan bagaimana pun gadis yang aku temui, tetap tidak bisa menggantikan Karin di hatiku.
Aku merasa pusing sendiri dengan perasaan ku. Aku akhirnya berusaha menutupinya dengan kebencian yang aku tanamkan di hatiku.
.
.
__ADS_1
.
bersambung...