
Karin termenung seharian. Gadis itu lebih sering melamun dari pada berbaur dengan orang-orang di Cafe. Para pegawainya tidak berani untuk menyinggung nya, walaupun mereka sangat khawatir dengan keadaan Karin yang tidak seperti biasanya.
"Yang aku lihat semalam itu benar Ryuji, aku yakin. Seharusnya dia mencari ku kan? Haahh... "
"Ryuji, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu tidak pulang? Aku sangat merindukanmu. Aku sendirian di sini. Kenapa kalian jahat sekali membiarkan aku hidup sendirian?"
Gadis itu menangis seorang diri. Ia merasa tidak tau harus bagaimana. Ia merasa sangat sedih karena pertemuan yang tidak sengaja itu tapi tidak membuahkan hasil.
Berbeda dengan Karin, Thanit lebih banyak tersenyum saat ini. Pemuda itu tersenyum sambil mengingat saat-saat bersama dengan Karin. Saat-saat yang belum tentu bisa terulang lagi.
"Dia menyukai ku? Menyukai sikapku yang biasanya? Apakah aku harus tetap seperti itu? Aku rasa tidak ada salahnya untuk mencoba. Aku juga sudah lelah seperti ini terus. Aku lebih lelah lagi karena apa yang aku perjuangkan selama ini tidak membuahkan hasil."
"Apakah aku harus berterima kasih dengan adanya pernikahan Roy ini? Walaupun aku merasa sakit hati dan kecewa karena dikhianati nya, tapi sesungguhnya aku lebih sakit hati dengan penolakan dan hinaan dari Karin dahulu, walaupun ia tidak menyatakan itu secara langsung."
"Hah... Kenapa lucu sekali jalan hidup ku ini? Orang macam apa aku ini? Kenapa bisa memiliki perasaan pada dua gender sekaligus? Tapi bagaimana pun, perasaan ku pada Roy tidak sebesar perasaan ku pada Karin. Aku hanya kecewa padanya dengan pengkhianatan ini, sementara aku sudah membelanya di depan orang tuaku."
"Walaupun faktanya,apa yang aku lakukan itu adalah untuk memancing Karin. Aku sejujurnya ingin melihat bagaimana reaksinya saat itu. Tapi ternyata dia tidak peduli padaku. Sudah terlanjur aku mengatakan semuanya pada orang tuaku di depan Roy, tidak mungkin kalau aku mencampakkan pemuda itu. Dia sangat rapuh. Tapi ternyata rasa iba ku berubah menjadi seperti ini."
.
.
.
Hari demi hari berlalu, membawa perubahan besar untuk keempat orang itu. Kehidupan mereka seolah berubah drastis.
Tidak ada lagi orang yang dengan terang-terangan membully Roy. Walaupun pemuda itu kini kuliah tanpa Andara bersamanya. Keadaan itu membuat Roy menjadi lebih tenang. Semua orang seolah lebih memilih bungkam jika berhadapan dengannya.
__ADS_1
Thanit tidak lagi tinggal di kost Putra. Pemuda itu kini lebih memilih untuk tinggal di apartemen sendirian. Ia seolah ingin menghindar dari yang namanya keramaian. Kegiatan sehari-harinya pun hanya seputar kerja dan kerja. Ia masih berteman baik dengan Ryan dan Joko. Kedua pemuda itu akhirnya memilih untuk pindah ke kamar kost yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Karin dan Rika memilih tinggal di kamar kost yang ukurannya lebih kecil. Mereka juga masih berteman baik seperti dulu. Sikap Karin kini berubah jadi lebih tenang dan feminim. Walaupun tak dapat dipungkiri, Rika sesekali masih melihat kesedihan pada gadis itu.
Andara dan Roy masih tinggal di rumah orang tua Andara. Mereka berdua terlihat baik-baik saja walaupun sebenarnya hubungan mereka berdua terkesan dingin.
Kedua orang itu sama-sama memiliki pikiran bahwa pasangan mereka tidak lah bahagia dengan pernikahan itu. Tapi Roy dan Andara tetap tersenyum jika di hadapan keluarga mereka.
Andara saat ini bekerja di kantor cabang milik ayahnya. Gadis itu ingin memulai semuanya dari nol. Ia ingin mendapatkan pengalaman. Andara tidak ingin mendapatkan jabatan dengan bantuan orang tuanya. Ia ingin berusaha sendiri.
Tentu saja itu semua membuat orang tuanya bangga. Mereka mendukung apa yang dilakukan oleh Andara asalkan itu adalah hal yang baik.
Jarak tempuh dari rumah orang tua Andara menuju kampus, cukup membuat Roy kerepotan. Ia harus bersiap pagi-pagi sekali agar ia tidak terlambat.Lama-kelamaan, ia jadi bingung sendiri. Tentu saja semua itu sangat melelahkan jika ia seperti itu terus.
Akhirnya, Roy mengutarakan keluhannya pada Andara dengan baik-baik. Walaupun awalnya gadis itu terlihat enggan untuk menuruti keinginan suaminya, namun ia akhirnya menurutinya karena merasa kasihan padanya.
Lagipula menurut mereka, Roy dan Andara membutuhkan waktu untuk berdua saja. Orang tua Andara tersenyum membayangkan hal itu.
"Tapi, apakah kalian sudah merencanakan akan pindah ke mana?"
Roy tersenyum pada mereka dan melihat Andara yang sepertinya kurang senang. "Kami akan pindah ke kost baru di depan kost Putri."
"Maksudnya kost Putri tempat tinggal Andara dulu?"
Roy mengangguk dengan pasti. "Iya."
Orang tua Andara kini terdiam. Mereka jadi bingung untuk membiarkan anak dan menantu mereka pergi atau menahan mereka di rumah itu.
__ADS_1
"Jarak kost itu dekat dengan kampus. Lagipula, kost itu juga tidak jauh dari tempat kerja Andara sekarang. Kami bisa menghemat waktu dan juga bisa lebih cepat untuk istirahat. Sebenarnya juga saya ingin menjalani rumah tangga ini dari tahap awal. Kami ingin belajar untuk mandiri. Karena kost pasti akan memerlukan biaya sewa, saya juga bisa belajar bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami di sana. "
Tuan Guzov tampak tidak yakin. Pria itu berdehem dan menatap istrinya. Ia sebenarnya merasa takut karena tempat itu berdekatan dengan kost Putri dan kost Putra. Tempat tinggal orang-orang yang memiliki hubungan dengan Roy dan Andara dulu. Tuan Guzov takut kalau anak dan menantunya kembali seperti dulu.
"Pi, Mi, kami akan belajar untuk mandiri di sana. Kami harap, Papi dan Mami mengizinkan kami untuk pergi. Kami juga sebenarnya ingin membuktikan pada orang-orang di sana bahwa kami bisa untuk berumah tangga," ucap Andara secara tiba-tiba setelah sebelumnya ia hanya diam menunduk.
Roy menatapnya sedikit bingung. Namun ia senang karena ternyata Andara memikirkan sesuatu hal yang sama dengannya.
Akhirnya Tuan Guzov mengizinkan mereka untuk pindah, walaupun sebenarnya pria itu merasa berat untuk melepaskan anak dan menantunya itu. Tapi ia juga tidak ingin mengekang mereka. Bisa saja kan kalau mereka benar-benar ingin membuktikan hal itu pada orang-orang di sana?
Roy tampak senang dengan izin yang diberikan oleh kedua orang tua Andara. Ia tersenyum senang dan berterima kasih pada mereka.
.
.
.
Tidak ada yang tau Andara dan Roy pindah ke kost baru di depan kost Putri. Mereka pindah ke sana setelah kamar kost itu siap untuk dihuni. Mereka hanya perlu membereskan beberapa barang-barang saja. Itu semua juga karena hari-hari mereka terlalu sibuk.
Roy dan Andara datang ke kost itu pada malam hari. Mereka rencananya akan membereskan sisa barang-barang mereka setelah pagi datang. Berhubung mereka juga sedang libur dari kegiatan mereka. Jadi rencananya mereka akan menata ruangan itu seharian. Walaupun sebenarnya tidak perlu seharian juga.
.
.
.
__ADS_1
bersambung...