Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Curhatan hati kedua orang tua


__ADS_3

Karin tertegun sejenak. Merasakan ada sesuatu yang aneh dengan tatapan dan juga nada bicara orang di hadapannya itu. "Masih, Tante. Saya tidak pernah pindah dari kost itu. Memangnya ada apa?"


"Tidak. Tante hanya ingin tau bagaimana keadaannya. Apakah dia sehat?" Tatapan perempuan itu kini terlihat sedih.


Karin tidak ingin berpikir buruk tentang kedua orang itu. "Dia sehat. Setau saya dia sehat. Saya juga kurang bergaul dengan dia. Kami sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. Ehm... Memangnya Thanit tidak pernah menghubungi Tante? " Karin tampak tidak segan untuk bertanya seperti itu.


Perempuan itu membuang nafas panjang."Kami memang jarang berkomunikasi. Terakhir kami bertemu malah kami saling berselisih. Itu membuat hubungan kami lebih jauh lagi, Karin. Kami sangat sedih." Suaminya mengusap-usap bahunya dengan pelan.


Karin bisa merasakan bagaimana sedihnya kedua orang tua itu. Melihat dari tatapan mereka saja Karin sudah ikut merasa sakit. Apalagi berada di posisi mereka.


"Mungkin Thanit masih membutuhkan waktu, Tante. "


Perempuan itu lagi-lagi membuang nafas panjang. "Haah.... Harus berapa lama lagi kami bersabar dengan sikapnya? Kami sudah sangat frustasi dan dia bahkan tidak peduli. Tapi tidak mungkin kami harus menyerah."


Karin terdiam dan ikut memikirkan bagaimana hubungan Thanit dan kedua orang tuanya. Ia sebenarnya sangat menyayangkan sikap Thanit. Walaupun kehidupannya sendiri tidak lah benar. 'Kalau saja keluarga ku seperti keluarga mu, aku tidak akan lari dan bahkan membuat mereka kecewa. Kenapa kamu malah pergi dari keluarga yang begitu sangat menyayangimu demi egomu, Thanit?'


"Tante tidak salah kalau terus berusaha untuk menyadarkan dia, tapi kalau memang hatinya belum terbuka, apa yang bisa kita lakukan? Suatu saat nanti mungkin semuanya akan berubah dan menjadi seperti yang Om dan Tante inginkan. Walaupun saya juga bukan anak baik, tapi saya sarankan Om dan Tante jangan menyerah dan bersabarlah. Terus saja doakan dia agar dia kembali pada pangkuan kalian."


Kedua orang itu tersenyum walaupun masih terlihat tatapan sedih di mata mereka. Mendengar ucapan Karin, hati mereka menjadi lebih tenang.


Perempuan itu tersenyum dengan tulus pada Karin."Kamu adalah anak yang baik. Tante ingin punya anak seperti mu. Tapi kami hanya punya satu anak dan ya kamu tau dia seperti apa."


Karin merasa kurang nyaman dengan ucapan perempuan itu yang seolah memujinya. "Tante jangan berlebihan menilai saya baik. Thanit juga adalah anak yang baik, hanya saja dia sedang berada dalam petualangan yang membuatnya tersesat. Dia belum menemukan jalan kembali dari petualangan itu. Om dan Tante jangan meninggalkan dia agar dia tidak semakin tersesat."


Karin merasa menjadi orang munafik, mengingat bahwa dirinya sendiri juga sama dengan Thanit. Tapi malah mengucapkan hal demikian seolah dirinya tidak memiliki kesalahan yang sama.


'Aku bisa mengatakan hal seperti ini pada orang lain, tapi diriku sendiri seperti ini. Hah! Benar-benar akting yang sempurna. Apa aku masih bisa disebut anak yang baik?'

__ADS_1


Lalu seseorang datang dengan membawa banyak makanan dan menaruhnya di meja. Karin tersenyum pada orang itu kemudian orang itu pergi.


"Om dan Tante, silahkan makan. Tenangkan lah dulu pikiran kalian. Walaupun Thanit harus dipikirkan, tapi kalian juga jangan sampai sakit karena tidak memikirkan diri sendiri. "


Karin tersenyum dan dibalas pula dengan senyuman oleh kedua orang itu. Karin mempersilahkan mereka untuk makan.


"Ini pertama kalinya kita bertemu di sini. Karena ini belum tentu bisa terulang lagi, maka semua ini saya berikan sebagai hadiah pertemuan kita. Om dan Tante jangan sungkan,ya. Saya harap Om dan Tante menerima pemberian saya ini." Karin tampak tidak luwes dengan ucapannya.


"Terima kasih sekali,Nak. Maaf karena kami membuatmu repot.Tapi kami tidak memiliki apa-apa untuk dijadikan sebagai hadiah pertemuan."


"Tidak masalah, Om. Jangan dipikirkan. Silahkan kalian makanlah dulu."


Kedua orang itu pun memakan makanan yang sudah tersedia. Sembari mendengarkan sedikit cerita dari Karin tentang restoran itu.


"Jadi kamu tidak lama berada di sini?" Tanya perempuan itu setelah mereka selesai makan.


Perempuan itu mengangguk lalu tersenyum. "Apa kamu masih sering bersaing dengan Thanit? Seperti saat kalian masih sekolah dulu."


"Mmm... Ya, kadang sih, Tante." Karin tersenyum dengan malu-malu.


"Kalian ini, sudah sama-sama dewasa tapi masih saja bersaing."


"Gimana ya, Tante. Kayaknya tu gatel aja rasanya kalo kita gak saingan." Karin tertawa pelan merasa lucu sendiri mengingat kelakuan dirinya dan Thanit.


Perempuan itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Tapi beberapa saat kemudian, tatapan matanya kembali terlihat sedih.


"Apakah dia masih berhubungan dengan pemuda itu?"

__ADS_1


Senyuman di wajah Karin hilang dan berganti dengan tatapan yang datar. Mengingat pemuda yang dimaksud oleh perempuan itu adalah orang yang sama dengan yang membuat hubungan nya dan Andara retak.


Kemarahannya kembali muncul. Apalagi membayangkan bahwa mungkin saja Andara akan tersakiti jika memiliki hubungan dengan Roy.


"Karin..." Panggil perempuan itu karena Karin malah melamun.


Karin mengerjap dan terlihat bingung harus menjawab apa. "Mmm...Itu, saya kurang tau, Tante. "


Perempuan itu tampak kurang percaya namun ia juga tidak bisa bertanya lebih jauh. Karin tidak mungkin mengatakan bahwa Thanit masih menjalani hubungan dengan Roy. Bisa-bisa kedua orang di depannya ini semakin sedih. Ia juga bingung jika harus menjawab kalau mereka sudah tidak memiliki hubungan, sedangkan ia sendiri tidak tau bagaimana jelasnya hubungan Thanit dan Roy saat ini.


"Tante sebenarnya malu karena kamu sudah tau semuanya tentang Thanit. Membuat kami tidak bisa lagi untuk menyembunyikan apapun. Tapi kami sangat berterima kasih padamu, karena sesengit apapun persaingan kamu dengan Thanit, kamu tidak pernah menyebarkan berita ini pada siapapun. Padahal kamu bisa saja melakukan hal itu untuk menjatuhkan dia."


"Itu tidak akan adil untuk persaingan kami, Tante," jawab Karin dengan entengnya. Kedua orang itu tersenyum dengan jawabannya.


Karin terdiam dan mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Dimana ketika hubungan Thanit dan Roy diketahui oleh orang tua Thanit. Karin menyaksikan semua itu dan juga menjadi saksi atas perselisihan mereka.


Karin menyaksikan bagaimana teguh nya Thanit saat mempertahankan hubungannya dengan Roy. Tangisan ibunya yang tidak ia pedulikan membuat perasaan Karin sangat sedih. Ia marah pada Thanit karena perilakunya itu, tapi dia lebih memilih untuk diam karena dirinya sendiri juga sudah memiliki hubungan yang sama dengan Thanit.


'Walau bagaimana pun, kehidupanku dan dia sangat lah berbeda. Jelas aku tidak bisa kalau disamakan dengan Thanit. Aku memilih hubungan seperti itu karena dikecewakan,tapi dia membuat kecewa karena memilih hubungan seperti itu.'


.


.


.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2