
Thanit menatap jalanan di depannya dengan tatapan yang lega. Pemuda itu tersenyum hampir di sepanjang perjalanannya dari Bandung menuju ke Jakarta.
Thanit bernafas lega karena telah meluruskan beberapa masalah yang terjadi dalam keluarganya. Thanit merasa tenang karena kini ia sudah berdamai dengan keluarganya. Bukan hanya kedua orang tuanya, tapi juga berdamai dengan beberapa saudaranya di sana.
"Aku tidak menyangka perubahannya akan sebesar ini," ucap pemuda itu lirih lalu tersenyum.
"Betapa bodohnya diriku karena membiarkan semua masalah ini berlarut-larut. Membiarkan sesuatu hal yang penting untuk sesuatu yang tidak penting." Thanit tersenyum seolah menertawakan dirinya sendiri.
"Aku datang. Aku tidak ingin lagi bersembunyi. Walaupun aku tidak tau bagaimana reaksimu nanti, tapi aku tidak akan mundur. Aku sudah lelah bersandiwara."
Sementara itu, keluarga Thanit tampak bahagia namun juga bingung. Mereka bahagia karena kini tidak ada lagi masalah antara mereka dengan Thanit. Tapi mereka bingung bahkan khawatir dengan keadaan pemuda itu.
"Sudahlah,Bu. Kita biarkan saja Thanit mengejar gadis itu. Toh tidak ada salahnya. Daripada kita menghalanginya dan kejadian seperti dulu terulang lagi. Lagipula Karin adalah gadis yang baik."
"Haah... Memang Karin gadis yang baik, tapi tidak dengan ayahnya. Ibu terlalu khawatir,Yah. Ibu tidak ingin Thanit kenapa-kenapa."
"Lalu ibu mau kalau Thanit menyimpang lagi?"
Perempuan itu mendelik melihat suaminya. "Tentu saja,tidak. Ayah ini bagaimana?"
"Bu, Ayah yakin tidak ada lagi yang akan menghalangi Karin dan Thanit. Bukankah kita tau bagaimana kondisi ayahnya Karin saat ini? Tidak mungkin dia akan mencelakai Thanit. Lagipula, Thanit sepertinya tidak bisa mencintai gadis selain Karin. Kita restui saja apa yang menjadi keinginannya supaya semuanya berjalan dengan lancar."
"Haah...Iya, Yah."
"Nah... Begitu dong. Kita dukung saja anak kita. Toh status Thanit saat ini bisa disandingkan dengan Karin. Anak kita sudah menjadi pemuda yang sukses."
Ibunya Thanit terdiam sesaat sebelum akhirnya dia tertawa. Suaminya menatapnya dengan heran.
"Ada apa,Bu? Kok tiba-tiba ketawa?"
"Tidak ada. Ibu hanya merasa kejadian beberapa tahun lalu itu sangat lucu. Walaupun kejadian itu juga sangat menjengkelkan."
"Kejadian yang mana?"
"Kejadian saat Thanit membawa sertifikat tanah milik neneknya dan akan ia gadaikan. Bapak ingatkan bagaimana ricuhnya keluarga kita saat itu?"
"Hahah... Benar juga. Anak kita memang menjengkelkan. Masa dia menggadaikan sertifikat tanah hanya untuk bersaing dengan gadis pujaannya. "
"Tapi dia tidak mencuri loh. Itu ibu sendiri yang kasih buat dia," ujar seorang wanita lanjut usia yang sudah berada di belakang mereka.
Sepasang suami istri itu melihat kearahnya dan tersenyum. Mereka pun duduk bersama.
__ADS_1
"Tapi anak-anak ibu yang lainnya juga memiliki hak atas tanah itu. Tentu saja perbuatan Thanit tidak dibenarkan. Apalagi alasannya sangat tidak masuk akal," ucap ibunya Thanit.
"Sudahlah. Lagipula sekarang dia sudah mengembalikan semuanya. Thanit juga sudah memberikan gantinya bahkan menambahkan nya berkali-kali lipat. Thanit juga sudah dengan tulus meminta maaf pada paman dan bibinya. Jadi tidak ada lagi masalah sekarang."
"Iya,Bu..."
.
..
..
Suasana di toko milik Roy sore itu sangat ramai. Ada banyak sekali orang yang datang untuk mencicipi menu kue baru yang dibuat di toko itu.
Ya, Roy memilih untuk membuka toko kue di tempat yang telah diberikan oleh kedua orang tuanya. Pemuda itu memilih untuk membuka toko kue karena ia sendiri senang membuat kue. Apalagi istri cantiknya juga sangat senang sekali bereksperimen.
Setiap hari libur, sepasang suami istri itu akan menyibukkan diri mereka di toko itu dan membuat resep baru. Resep kue yang sudah ada namun banyak sekali mengalami perubahan.
Dara senang sekali bereksperimen dengan bahan-bahan kue itu sehingga membuatnya seolah hanya sendiri ketika membuat kue. Roy merasa senang melihat istrinya seperti itu walaupun kadang ia diabaikan karena saking seriusnya Dara dengan kue-kuenya itu.
Roy dan Andara semakin dekat dari hari ke hari. Mereka tampak kompak di hadapan maupun di belakang orang lain. Mereka sangat akrab walaupun masih saja banyak orang yang mencibir mereka.
🍧
Andara sedang melayani beberapa pelanggan yang datang. Andara dan Roy sering turun tangan untuk melayani para pelanggan karena Roy hanya memiliki beberapa karyawan saja di sana.
Maklumlah, ia baru saja memulai bisnis itu. Para karyawannya pun adalah teman-teman Roy dan Andara. Jadi mereka sama-sama belajar dalam membangun usaha.Tapi kualitas dan rasa dari kue yang mereka buat tidaklah main-main. Karena Roy juga memilih beberapa temannya yang memang sudah berpengalaman dalam bidang itu.
"Dara, kayaknya makin rame aja ya toko nya," ucap seorang perempuan yang baru saja datang bersama beberapa temannya.
Andara membuang nafas panjang sebelum tersenyum dan menjawabnya. "Iya. Aku bersyukur sekali karena usaha kami dimudahkan."
Perempuan itu berjalan sambil melihat-lihat beberapa kue yang tertata disana. "Enak ya, punya suami jago bikin kue, " ucap perempuan itu lagi dengan senyuman yang seolah mengejek.
"Ehmm...Iya. Tapi ini semua juga hasil kerja sama kami. Bukan hanya aku dan Roy, tapi teman-teman kami disini sangat membantu."
"Hahah."
Andara mengerutkan keningnya karena perempuan itu tertawa. Andara sebenarnya sudah merasa jengah dengan kehadiran perempuan itu dan teman-temannya.
"Hati-hati loh, Dara. Semua karyawan mu cowok kan?"
__ADS_1
"Iya," jawab Andara sambil mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa?"
Perempuan itu mendekati Andara dan berbisik. "Sikap Roy itu terlalu manis untuk ukuran laki-laki normal. Kamu gak takut?"
"Apa sih maksud kamu?!" Andara terlihat mulai tak suka dengan perempuan itu.
"Gak pa-pa sih, cuma mengingatkan aja. Kegemaran dan kebiasaannya bisa mewakili suatu hal. Apalagi sikap Roy seperti itu. Laki-laki yang menyimpang itu sulit loh buat disembuhkan. Ditambah lagi dengan keberadaan karyawan mu disini, bisa makin lengkap itu." Perempuan itu dan beberapa temannya tertawa dengan keras. Seolah apa yang diucapkannya adalah hal yang wajar.
"Cukup ya! Kamu boleh bilang aku ini matre atau apapun, tapi jangan hina Roy. Dia itu suamiku dan dia laki-laki normal! " Andara terlihat emosi.
Beberapa orang yang datang melihat ke arah mereka dengan penasaran. Tak sedikit pula dari mereka yang berbisik-bisik menilai Andara dan Roy.
"Owh, maaf kalo gitu. Lagian siapa sih yang gak bakal ngira Roy kayak gitu kalau melihat bagaimana sikapnya? Pasti semua orang akan berpikiran yang sama dengan ku." Perempuan itu lagi-lagi tersenyum mengejek Andara.
"Lagian ya, bisa gak sih dia itu perkasa dan lincah seperti yang kamu bilang dulu? Aku jadi ragu deh. Lihat aja sekarang, udah berapa bulan kamu nikah? Kok kayaknya gak ada perubahan?" ucap perempuan itu dengan lantang seolah ucapannya tidak salah sedikit pun.
Andara terdiam dengan perasaan kesal. Namun ucapan perempuan itu berhasil mengganggu pikirannya saat ini.
Tak lama Roy datang dari arah belakang bersama beberapa temannya. "Ada apa ini? "
Roy menghampiri Andara dan melihat ekspresi wajah gadis itu yang tidak baik-baik saja. Sebenarnya ia tidak tau ada masalah apa di depan, namun temannya memberitahukan padanya bahwa suasana di depan sedang tidak baik.
"Ada apa, Sayang," panggil Roy sengaja ia keraskan.
Andara menatapnya sendu lalu menunduk. Perempuan tadi semakin terlihat senang dan menampilkan senyum sinis nya.
"Maaf ya, kalau kalian datang ke sini hanya untuk membuat keributan, sebaiknya kalian pergi saja. Aku tidak ingin istriku stress dengan apa yang kalian lakukan."
"Cih! Memangnya siapa yang senang berada di sini?"
"Kalau begitu, silahkan kalian pergi. Aku tidak ingin istriku kenapa-kenapa," ucap Roy sambil mengusap dengan lembut perut Andara yang rata.
.
.
.
.
bersambung...
__ADS_1