Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Jantungku


__ADS_3

'Kenapa sekarang rasanya berbeda? Kenapa tubuhku seolah meradang saat terkena sentuhannya? Aku harus bagaimana?'


Andara tak bisa tidur nyenyak karena tubuhnya ditempeli oleh seseorang. Seseorang yang membuat arah pikirannya berkelana tak menentu. Tapi seseorang itu saat ini sedang santainya tertidur pulas, membiarkan Andara gugup sendirian tak karuan.


'Aku tidak merasa seperti ini saat menenangkan dia di Surabaya dulu. Kenapa sekarang begini? Santai lah, Dara. Tidurlah. Lagipula, tidak ada yang dia lakukan selain mengorok di lenganmu.' Namun gadis itu tidak bisa tertidur juga.


'Sepertinya aku harus menyingkirkan dia dari lenganku. Baru aku bisa tidur. Tapi kalau dia menangis ketakutan lagi seperti tadi bagaimana? Kan kasian.' Lagi-lagi, Andara bergelut dengan pikirannya sendiri.


Namun akhirnya gadis itu memutuskan untuk melepaskan tangannya dari kepala Roy. Selain tangannya sudah pegal, perasaannya juga tidak bisa tenang. Pikirannya selalu kemana-mana saat melihat Roy.


Andara mencoba menarik tangannya tanpa membangunkan Roy. Gadis itu tidak ingin Roy bersedih lagi. Perlahan, tangannya akhirnya terlepas. Gadis itu terlihat lega dan meregangkan tangannya yang terasa pegal.


Roy tampak terusik dengan apa yang dilakukan oleh Andara, padahal Andara melakukan itu sepelan mungkin. Gadis itu menghela nafas panjang dan meraih kepala Roy untuk disandarkan di lengannya.


Namun kedua mata Roy yang terbuka lebar membuat Andara menghentikan niatnya. "Ada apa? Apa kamu bermimpi buruk lagi?" tanya Andara khawatir.


"Tidak," jawab Roy lirih.


"Lalu?"


"Aku seperti kehilangan sesuatu. Jadi aku terbangun sendiri."


Andara lagi-lagi menghela nafas panjang. "Haah...Ya sudah. Aku kembalikan sesuatu itu padamu."


Andara berniat menyelipkan tangannya di bawah kepala Roy sebelum akhirnya Roy yang melakukan hal itu padanya. "Tidurlah, kamu pasti lelah. Maaf membuat tanganmu sakit. Sekarang aku akan menggantikan sakit di tangan mu. Tidak ada bedanya,kan? Aku tetap menempel padamu."


Dan Andara...


Gadis itu hanya mematung bahkan sampai tidak berkedip. Menyadari bahwa kini ia sedang dalam dekapan seorang laki-laki membuatnya bertambah tidak bisa tidur. Ia hanya merasakan bagaimana detakan jantungnya berdegup seolah sedang memukuli dadanya.


Roy mengusap rambut gadis itu dan menenangkannya. "Tidurlah..."


Namun pada akhirnya kedua manusia itu tidak bisa tidur bahkan sampai waktu menunjukkan pukul dua dini hari.


.


.


.


"Ehm....."


Seorang gadis menggeliat dengan mata yang masih tertutup. Gadis itu meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Mata yang masih terasa berat membuatnya hanya berbaring saja walaupun ia sudah bangun.


"Dara, bangunlah. Ini sudah jam tujuh pagi," ucap seseorang di samping Andara.

__ADS_1


Gadis itu mencoba mengingat-ingat, suara siapakah itu? Namun matanya yang terasa berat seolah membuat sebagian nyawanya belum sepenuhnya kembali.


Gadis itu membuka matanya dan tatapannya langsung bertemu dengan seseorang yang kini sedang duduk di kasur sambil mencondongkan tubuh ke arahnya.


Kedua mata Andara membulat sempurna dengan posisi yang membuat jantungnya bekerja dengan keras di pagi hari ini.


'Astaga... Aku lupa kalau mahkluk ini ada di sini.'


"Selamat pagi."


'Makhluk ini... Kenapa senyumanmu seperti itu? Apa kamu sengaja?'


"Ayo bangun. Keluargamu menunggu mu. Kita akan berjalan-jalan bersama mereka hari ini."


Akhirnya Andara bangkit dan berjalan ke kamar mandi dengan sempoyongan. Dan makhluk yang dimaksud oleh Andara saat ini sedang tersenyum.


'Jantungku... Kenapa ini rasanya menyenangkan sekali? Dan mendengarkan degup jantungnya tadi malam membuat ku berkhayal kemana-mana sampai tidak bisa tidur.'


.


.


.


Hari minggu adalah hari yang menyibukkan bagi Karin dan para pegawainya. Mereka lebih bekerja keras di hari itu karena banyaknya pelanggan yang datang berkunjung.


"Haah.... Capek," ucapnya apa adanya. Karin duduk di dekat meja kasir sambil meregangkan otot-ototnya.


"Istirahat dulu, bos. Kan ada kami," saran dari salah satu pegawainya.


Karin tersenyum tanpa menatapnya. "Gak pa-pa. Mereka lagi butuh aku. Pelanggan adalah raja yang harus dilayani."


Pegawainya menghela nafas panjang dan akhirnya berpamitan padanya untuk melanjutkan pekerjaannya.


Karin tersenyum sambil menatap sekeliling Cafe. Cafe pertama yang ia bangun menggunakan uangnya sendiri. Walaupun Cafe itu tidak sebesar beberapa Cafe miliknya di tempat lain, tapi tempat itu seolah menjadi yang utama baginya.


Karin memperhatikan satu persatu pelanggannya yang sedang asyik mengobrol. Mereka terlihat senang sekali. Mengobrol bersama dengan teman-temannya.


Karin melihat ke arah satu meja yang dikelilingi oleh empat orang perempuan. Mereka nterlihat tidak asing bagi Karin. Sepertinya mereka adalah mahasiswi yang sekampus dengan Andara dan mereka memang sering datang ke sana.


Perhatian Karin awalnya tidak hanya pada beberapa gadis itu, namun ucapan dari salah satu gadis itu yang terbilang keras, membuat Karin terus memperhatikannya.


"Iya tuh. Gak nyangka banget kan, primadona kampus pacarannya sama cowok setengah jadi."


"Iya sih. Tapi gak mau percaya gimana, mereka aja akhir-akhir ini lengket banget."

__ADS_1


"He'em. Aku sih cuma ngerasa kasian aja ya sama dia. Walaupun cowoknya tajir, tapi gak bisa ekhem ekhem buat apa?"


"Ahahaha... Ah elu ada-ada aja, bikin ngakak tau gak."


"Ih, iya kan? Hubungan seperti itu dibutuhkan loh."


"Ih, udah ah. Kok jadi ngebahas ke arah situ sih? Kita masih polos tau."


Dan beberapa gadis itu tertawa seolah sedang menertawakan seseorang karena hal yang lucu. Mereka tidak tau saja Karin sedang merasa penasaran tingkat akut saat ini.


'Siapa orang yang mereka maksud? Primadona kampus? Apa Andara tau? Kenapa aku jadi merasa aneh begini?'


.


.


.


Andara dan Roy kembali ke kost dan mereka menyesuaikan diri lagi dengan kehidupan sehari-hari di sana. Namun ada beberapa teman-teman kampus mereka yang terang-terangan mencibir di depan mereka.


"Hai, Dara. Udah pulang nih? Kemarin kemana?"


Andara merasa sedikit heran dengan nada bicara dan tatapan mereka yang tidak biasa. "Aku dari rumah orang tuaku. Ada apa?"


"Oh. Sama siapa?"


"Hah? Maksudnya kamu nanya gitu apa?"


"Nggak maksud apa-apa sih. Cuma kok kebetulan banget ya, orang sebelah juga pergi. Terus dia pulang waktu kamu pulang juga kemarin sore."


"Maksud kamu tuh siapa sih?"


"Gak usah pura-pura gak tau. Si gemulai yang lengket sama kamu itu loh. Kalian ini sebenarnya hubungannya udah sejauh mana sih? Pacaran atau jangan-jangan kalian diam-diam udah nikah? " Mereka tertawa mengejek menatap Andara.


Andara menjadi terlihat kesal. "Emangnya kalo aku nikah sama dia apa masalahnya buat kalian? Repot banget sih jadi orang."


"E eh... Sekarang Andara jadi galak ya? Kenapa? Kita cuma nanya loh. "


"Nanya nanya. Nanya apaan kayak gitu. Huh!"


"Gak usah marah juga lah. Kita itu cuma kasian aja sama kamu. Masa cewek secantik kamu nikahnya sama cowok kayak Roy. Berasa gak adil tau gak. Gak cari yang keren dikit kek. Di kampus kan banyak cowok tajir, ganteng, baik hati dan juga yang pasti, gak melambai kayak Roy."


.


.

__ADS_1


.


bersambung...


__ADS_2