Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Menepati janji


__ADS_3

"Aku akan selalu mendukung mu kalau memang kamu benar-benar ingin berubah. Semoga apa yang kamu niatkan ini bisa tercapai dan kamu merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Aku akan selalu mendoakan mu, Karin."


Karin tersenyum,merasa hatinya menghangat dengan ucapan yang dilontarkan Rika. "Terima kasih. Terima kasih karena kamu selama ini tidak meninggalkan kami. Aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti mu."


Rika mengangguk dan Karin memeluknya dengan sedikit terisak. Rika tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Gadis itu membalas pelukan Karin dan mengusap-usap punggung sahabat nya itu.


Mereka melerai pelukan setelah beberapa saat. Karin yang masih terisak membuat Rika mengusap-usap punggung tangannya agar Karin lebih tenang lagi.


"Hubungan ku dan Andara yang berakhir sepertinya juga akan mengakhiri semuanya, termasuk pertemanan kita. Aku tidak yakin semuanya akan mudah dijalani kalau kita masih bersama seperti dulu."


"Walaupun aku tau ini tidak akan mudah, tapi aku berharap kita masih bisa berteman seperti dulu," ucap Rika dengan sedih.


"Aku tidak yakin. Pasti segalanya akan berubah walaupun aku berusaha untuk tetap terlihat tegar. Lihat saja sekarang, Andara bahkan berbohong padamu tentang kedatangan ku. Dia sama sekali tidak pernah mengabari ku selama aku di sana. "


"Em...Karin, sebenarnya Andara ingin memberikan waktu untuk mu. Dia tidak ingin mengganggu mu karena menurutnya itu akan membuatmu semakin sedih. Dia sebenarnya sangat memikirkanmu selama kamu di sana. Dia khawatir tapi dia tidak ingin membuat perasaan mu kacau lagi. Dia tidak ingin perhatiannya membuat mu salah faham dan membuat mu tidak konsisten dengan tujuan mu."


Karin terdiam. Ia bingung harus merespon seperti apa cerita dari Rika ini. Andara tidaklah salah jika berbuat demikian, hanya saja mungkin karena pikiran Karin yang belum bisa sepenuhnya menerima semuanya, membuat nya menjadi egois.


Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Kamu sudah pulang, apakah kamu akan pergi ke sana besok? " tanya Rika.


"Aku akan tetap datang. Walaupun sekarang keadaannya sudah jauh berbeda. Anggap saja aku datang sebagai sahabatnya. Dan juga mungkin ini adalah hari perpisahan kami. Tidak mungkin kalau dia akan tetap tinggal di sini setelah dia lulus, apalagi melihat semua situasi ini, itu menjadi lebih tidak mungkin lagi."


Rika membuang nafas panjang dan menatap lurus ke depan. 'Mungkin pada awalnya ini akan terasa sulit, tapi aku yakin kedepannya akan lebih mudah. Mereka pasti bisa menjalani semua ini. Dan aku yakin, Tuhan akan memberikan kemudahan bagi seseorang yang benar-benar berusaha untuk berubah.'


"Baiklah. Tapi aku tidak bisa menemanimu. Mungkin aku akan terlambat datang kesana."


"Tidak masalah. Aku tidak akan menangis walaupun sendirian."


.


.


.

__ADS_1


AZ


🍁🍁🍁


Karin berdiri mematung saat melihat Andara bersama keluarga nya. Gadis itu bukannya takut untuk melangkah, namun ia hanya sedang menguatkan diri untuk menghadapi Andara.


'Aku datang. Aku tetap datang seperti janjiku dulu. Namun kenyataannya keadaan ini sangat jauh berbeda dengan yang aku bayangkan dulu. Aku kira, aku berdiri di samping mu dengan senyum kebahagiaan, tapi ternyata aku berdiri di sini dengan kesendirian dan kesedihan.'


Andara menyadari kedatangan Karin dan gadis itu terpaku melihatnya. Sintya yang menyadari perubahan sikap anaknya pun ikut melihat ke arah yang sama. Wanita itu terdiam mendapati Karin yang melihat ke arah mereka.


Jujur saja, perasaan wanita itu sedikit takut. Wanita itu takut akan terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan. Namun,ia juga tidak mungkin untuk mengusir Karin dari sana. Melihat tatapan gadis itu yang terlihat sedih saja membuatnya tidak tega.


"Dara, datanglah ke sana sebentar. Karin sudah meluangkan waktunya untuk datang ke sini," ucap Sintya walaupun ia merasa takut.


Andara mengangguk tanpa menjawabnya. Gadis itu melangkahkan kakinya perlahan menuju tempat Karin berdiri.


"Hai, apa kabar? Kapan kamu kembali?"


"Kabarku baik. Aku kembali kemarin sore. Maaf karena aku datang terlambat."


"Ya. Selamat atas kelulusan mu. Semoga kamu menjadi perempuan yang sukses."


"Terima kasih. Aku akan selalu mengingat ini. Aku akan berusaha untuk menjadi perempuan yang sukses."


Mereka terdiam. Karin jelas merasa kalau ucapan Andara bukan hanya ucapan biasa. Namun ucapannya mengingat kan mereka untuk sadar dan benar-benar menjadi seorang perempuan tidak menyalahi kodrat nya.


Mereka jadi bingung untuk berkata apa. Andara menundukkan kepalanya dan Karin terlihat bingung dengan tatapan tertuju pada orang-orang yang berlalu lalang di sana.


"Maaf, Karin..."


"Tidak usah minta maaf dan jangan membahas masa lalu. Kita jalani kehidupan yang sekarang tanpa terbebani dengan bayang-bayang masa lalu. Aku juga ingin berubah, sama seperti mu. Kita jalani kehidupan kita masing-masing."


Andara menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Apa kamu membenciku?"


Karin tersenyum. "Sama sekali, tidak. Bagaimana aku bisa membenci seorang anak yang patuh pada orang tuanya? Aku sangat bangga padamu karena kasih sayang mu pada kedua orang tuamu. Aku akan sangat berdosa jika kamu melawan mereka karena aku. "

__ADS_1


"Terima kasih atas pengertian mu. Sampai kapanpun aku tidak akan melupakan kebaikanmu. "


"Ya, sama-sama."


Tak kama kemudian, Sintya datang menghampiri mereka. Karin melihat wanita itu dan tersenyum. Gadis itu menyalami Sintya dengan tatapan yang ramah.


"Halo, Tante. Apa kabar?"


"Tante sangat sehat. Kamu sendiri apa kabar?"


"Saya juga sehat Tante."


Sintya tersenyum dan menatap wajah anaknya yang terlihat sedih. "Kamu kenapa? Kok kelihatan nya sedih begitu? " Andara menggelengkan kepalanya.


"Harusnya kamu senang karena kamu sudah lulus kuliah. Karin juga datang untuk memberikan ucapan selamat untuk mu. Apakah karena kalian tidak akan tinggal bersama lagi?"


Kedua gadis itu saling menatap. Sintya melihat ke arah mereka secara bergantian. "Kalian masih bisa berteman dan bertemu kapan pun kalian mau. Jangan bersedih begitu. Karin juga tidak mungkin harus selalu menampung mu."


Andara kembali menunduk. Sintya mengusap-usap bahu Karin dengan lembut. "Terima kasih ya. Kamu sudah menjadi teman sekaligus kakak yang baik untuk Andara. Terima kasih karena kamu sudah menjaganya. Maafkan kami kalau selama Andara di sana, dia membuat mu kerepotan. "


"Saya sama sekali tidak merasa terbebani. Andara adalah anak yang baik. "


Sintya tersenyum. "Ya, dia memang anak yang baik. Dia sangat penurut. Karena kebaikannya juga lah keluarga kami merasa tentram. Andara bisa kami percaya untuk masalah menjaga diri. Kini kami yang akan kembali menjaganya. Andara akan tinggal lagi bersama kami."


Karin merasa kalau ucapan Sintya seolah sedang menyindirnya. Tapi segera ia tepis karena setahunya, keluarga Andara sama sekali tidak tau dengan hubungan nya dan Andara.


"Iya, Tante. Dia memang gadis yang baik."


.


.


.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2