Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Main perang-perangan


__ADS_3

Matahari yang mulai terbit membuat Andara dan Roy memulai aktivitas mereka. Kedua orang itu tampak sibuk merapikan dan menata tempat tinggal baru mereka. Kedua orang itu bekerja sama untuk mendapatkan hasil penampilan ruangan yang mereka inginkan.


Roy dan Andara tampak kelelahan setelah mereka menyelesaikan semua itu. Namun penampakan ruangan yang mereka inginkan membuat rasa lelah mereka seakan sirna.


"Haha...Bisa juga ya ternyata aku melakukan semua ini?" tanya Andara sambil tertawa seolah tidak percaya.


Roy tersenyum sambil melihat ke arah yang sama. "Tidak buruk."


"Tidak buruk? Memangnya ini masih kurang bagus? Haaahh...Aku lelah tapi kenapa komentar mu seperti itu? Asal kamu tau, aku tidak pernah melakukan semua pekerjaan ini. Seharusnya komentar mu lebih baik dari itu."


Wajah Andara yang cemberut membuat Roy merasa gemas. Ingin sekali ia menarik kedua pipi gadis itu.


"Kamu lapar?" tanya Roy mengalihkan.


"He'em. Tadi pagi kita hanya sarapan sereal saja. " Kemudian Andara melihat Roy dengan tatapan mengiba. "Tapi Roy, aku tidak bisa masak. Bagaimana sekarang? "


Roy menatapnya seolah tidak percaya, padahal ia hanya ingin mengerjai Andara saja. "Kamu tidak bisa memasak? Lalu bagaimana aku akan makan hari-hari ke depannya? Aku sendiri tidak bisa masak."


Andara semakin terlihat menyedihkan. Gadis itu malah terlihat seperti ingin menangis. Roy merasa bersalah walaupun ia juga ingin sekali tertawa melihat ekspresi istrinya itu.


"Aku akan belajar. Sekarang kita makan telur ceplok saja ya? "


"Apa aku akan makan telur ceplok selama berhari-hari?"


"Roy...." Andara merengek melihat ekspresi wajah Roy.


"Pfftth...Baiklah-baiklah. Ayo kita makan telur ceplok saja." Roy mengajak Andara ke dapur sebelum ia benar-benar menertawakan istrinya.


Acara memasak mereka lebih terlihat seperti anak kecil yang sedang bermain perang-perangan. Kedua orang itu bercanda sampai barang-barang di dapur berjatuhan.


Mereka tanpa sadar malah menghamburkan kembali barang-barang yang sudah mereka rapikan. Padahal rencananya mereka hanya ingin menggoreng telur. Tapi kenyataannya sekarang malah menjadi seperti perang.


Tetangga mereka sampai heran karena mendengar keributan di kamar kost itu. Mereka sampai keluar untuk melihat apakah yang terjadi dengan tetangga baru mereka. Tapi keributan yang terjadi di kamar kost milik Roy membuat suara para tetangga tidak didengar oleh kedua pengantin baru itu.


Kedua orang itu masih saja sibuk dengan peperangan mereka. Menghamburkan benda apa saja yang bisa terhambur. Tidak peduli dengan bagaimana keadaan dapur dan tubuh mereka saat ini.


Andara menemukan beberapa pewarna makanan yang entah untuk apa ibunya memberikan benda itu. Andara langsung saja meneteskan pewarna makanan berwarna merah pada tangannya,lalu menempelkan benda cair itu pada pipi suaminya.


Roy merasa tidak terima dan mereka berdua saling berebut botol kecil itu hingga isinya muncrat kemana-mana. Membuat tubuh mereka seperti terciprat oleh cairan darah. Tapi mereka belum juga berhenti.


"Hihi...Roy, wajahmu menyeramkan seperti psikopat." Andara mengucapkan itu sambil tergelak.


Roy pun tak ingin kalah. "Kamu bahkan lebih menakutkan. Kamu terlihat seperti mbak Kun."

__ADS_1


"Hii!! Aku cantik tau!"


"Benarkah? Coba aku lihat."


Roy mendekati Andara dengan perlahan. Andara dengan polosnya percaya saja apa yang dikatakan Roy. Gadis itu diam saja saat Roy sedang memperhatikan wajahnya.


Namun Roy malah semakin meratakan warna merah yang ada pada wajah Andara. Membuat gadis itu semakin mencebik dan ingin membalas perbuatan Roy.


Andara menghentakkan kakinya dengan kesal. "Hii!! Bagaimana cara menghilangkan pewarnanya dengan mudah sekarang?! Malah diratakan begini."


"Salahmu sendiri. Kenapa mengambil pewarna makanan itu? "


"Ini semua salahmu, Roy! Cepat hapus pewarnanya!"


"Hehe...Mana aku tau akan jadi seperti itu. Dicuci kan bisa hilang. Wajahku juga tidak ada bedanya dengan mu."


Andara terdiam dengan wajah yang ditekuk. Roy tau kalau Andara benar-benar kesal saat ini. Tapi ini bukan salahnya juga kan?


"Maaf. Sini aku bersihkan."


Andara memalingkan wajahnya."Tidak perlu, biar aku cuci sendiri."


"Loh...Kok jadi ngambek? Kamu loh yang mulai," ucap Roy dengan lembut. Pemuda itu berusaha untuk menyentuh wajah Andara, namun gadis itu menolak dengan wajah kesalnya.


Kini Andara menatapnya tidak tega. "Hemm...Ya sudah. "


"Mana coba,aku lihat wajahmu."


"Tidak mau. Nanti wajahku kamu gosok lagi."


"Tidak kok."


Andara membiarkan Roy meneliti wajahnya. Entah apa yang akan dilakukan oleh Roy, Andara tidak mengerti. Tapi Roy terus saja melihatnya lalu satu tangannya terangkat dan menyentuh pipi Andara.


"Jangan digosok," pinta Andara sambil menahan tangan Roy.


"Tidak."


Roy menempelkan tangannya pada pipi Andara. Tangan itu terdiam di sana sama dengan pemiliknya yang sedang menatap lekat pemilik pipi itu.


Andara membiarkan apa yang dilakukan oleh pemuda di hadapannya itu. Kedua manik matanya bergerak menatap wajah lelaki yang menjadi suaminya itu.


Roy membelai pipi Andara dengan jari-jarinya. Semakin lama,jari itu semakin turun dan berhenti tepat di bibir merah Andara. Jari itu mengusap sebagian pewarna yang menempel di sana, membuat si empunya memejamkan matanya dengan jantung yang berdebar.

__ADS_1


Andara membuka matanya saat ia merasa sesuatu menempel di hidungnya. Gadis itu semakin terpaku saat melihat wajah suaminya yang begitu dekat. Hembusan nafasnya jelas ia rasakan, semakin membuat meremang bulu-bulu di tubuhnya.


Tepat saat kedua tangan Roy menangkup kedua pipi Andara, saat itu pula terdengarlah suara ketukan pintu di depan sana. Suara ketukan pintu disertai dengan suara beberapa orang yang tampak khawatir pada mereka.


Andara dan Roy terlihat salah tingkah. Mereka tidak berani untuk saling menatap. Gerakan tubuh mereka terlihat kikuk.


"Emm...Aku akan lihat siapa yang mengetuk pintu," ucap Roy tanpa melihat Andara.


Andara mengangguk namun sesaat kemudian gadis itu menarik tangan Roy dan membuat pemuda itu terkejut. Lebih terkejut lagi karena Andara malah menaburkan tepung di atas tubuhnya.


"Kenapa kamu malah menaburkannya padaku?"


"Hehe...Ini akan berguna. Cepatlah pergi ke depan. Jangan dibersihkan dulu."


Roy menuruti Andara walaupun ia merasa bingung. Pemuda itu membuka pintu dan mendapati dua orang perempuan dan satu orang laki-laki yang sangat terkejut ketika melihatnya.


"Ya ampun! Apa yang terjadi padamu?" tanya salah seorang perempuan.


"Kenapa tubuhmu berdarah-darah begitu?" tanya yang laki-laki.


"Apa kamu baik-baik saja? Kami mendengar keributan dari dalam sini, jadi kami bergegas datang karena merasa khawatir," jelas satu perempuan lainnya.


Roy tersenyum malu dan merasa tak enak hati. "Maaf, Pak, Bu, saya hanya sedang belajar membuat kue. Kami tidak pernah menggunakan peralatan itu dan akhirnya terjadilah keributan seperti yang bapak dan ibu dengar."


Ketiga orang itu saling menatap tidak percaya. Sedangkan keributan yang mereka dengar sangatlah heboh. "Haah... Baiklah kalau begitu."


Si bapak-bapak tampak menggelengkan kepalanya. "Ck ck ck, dasar anak muda. "


"Tapi tunggu, bukankah kamu salah satu penghuni kost Putra? Kenapa berada di sini?" tanya seorang perempuan.


"Mm...Saya sudah menikah, Bu. Sekarang saya tinggal di sini," ucap Roy dengan bangganya.


"Hah?"


Ketiga orang sama-sama terkejut dan melihat Roy dengan tatapan yang sama.


.


.


.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2