
Tiga orang perempuan sedang duduk bersama mengitari sebuah meja bundar. Ketiga perempuan itu tampak asyik mengobrol namun dua diantara nya sesekali melirik ke arah seorang wanita yang tampak sedang kasmaran.
Ketiga perempuan itu adalah Rika, Karin dan Andara.
Sore hari itu mereka duduk bercengkrama di toko kue milik Roy. Toko itu memang menyediakan tempat duduk beserta mejanya untuk para pembeli.
Entah untuk makan di sana atau hanya sekedar untuk duduk bercengkrama seperti yang dilakukan oleh Andara dan kedua temannya.
"Ekhem! " Rika berdehem entah untuk kesekian kalinya.
Gadis itu sebenarnya ingin menegur Andara yang tampaknya tidak sadar dengan bagaimana keadaannya, lebih tepatnya keadaan salah satu bagian tubuhnya.
Namun rasanya Rika malu untuk melakukan hal itu.
Rika juga sesekali melirik ke arah Karin yang tampaknya tenang-tenang saja. Rika ingin memastikan bahwa Karin benar-benar baik-baik saja atau berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
"Kenapa sih? Dari tadi kok kamu kayaknya gak tenang gitu? " Tanya Karin pada akhirnya karena sudah merasa tidak nyaman dengan tatapan Rika.
Rika gelagapan dan bingung untuk menjawabnya. "Mmm... Gak pa-pa. "
Andara pun tampak curiga dengan gelagat aneh Rika. "Gak usah sungkan gitu kalik. Bilang aja kalo ada sesuatu yang bikin kamu gak tenang. "
"Mmm... Lebih tepatnya bikin malu diriku sendiri kalo aku bilang. "
Jawaban Rika membuat kedua temannya mengerutkan kening.
"Karin... "
Karin bertambah mengerutkan keningnya karena Rika menggantungkan ucapannya. "Ya? Aku kenapa? Apa aku yang buat kamu merasa malu? "
"Mmm... Bukan. "
"Terus apa? "
Rika menggaruk hidungnya dengan bibir yang tertarik ke samping. "Kamu ingat tentang sesuatu yang membuat kita merasa malu kemarin? "
Karin yang awalnya masih saja mengerutkan kening, mulai terlihat biasa dan mengingat sesuatu.
"Ya, aku ingat. " Kemudian gadis itu pun berdeham karena masih merasa malu ketika mengingat hal itu.
"Ini ada hubungannya dengan kejadian itu, " ucap Rika dengan pelan di dekat telinga Karin.
"Apa sih? "
__ADS_1
"Itu. Coba kamu yang tegur Andara. Aku gak berani. "
Mereka berdua berbisik-bisik dan membuat Andara bertambah curiga. "Kalian ini kenapa sih? "
Karin memperhatikan Andara dan mencoba melihat apakah ada yang aneh dengan perempuan itu. Namun dia tidak menemukan sesuatu yang mengganjal.
"Yang mana sih, Rik? Perasaan Andara gak gimana-gimana deh. "
"Iish... Itu lihat lehernya Andara banyak bekas gigitan nyamuknya. "
Uhuk
Karin seakan tersedak ludahnya sendiri. Gadis itu menggeleng tak percaya bahwa Rika memperhatikan Andara sampai sedetail itu.
'Ya ampun... Aku bahkan tidak melihat sampai ke situ. Kenapa Rika bisa melihatnya padahal Dara sudah menutupinya dengan syal? '
Karin akhirnya menyikut lengan Rika dengan pelan. "Ish, kamu ini. Aku kira apaan. "
"Kamu gak pa-pa? "
"Hah? Maksudnya? " Jelas Karin tidak mengerti dengan pertanyaan Rika.
Sementara Andara sudah tampak kesal karena kedua temannya yang berbisik-bisik dan memilih untuk diam saja. 'Awas ya kalian. '
Tapi sepertinya tidak ada yang harus ia takuti dengan hal itu.
"Heheh...Gak pa-pa. Aku cuma mikir aja kamu bakalan ngambek karena kamu kan masih jomblo. "
Sungguh jawaban yang membuat Karin menatapnya datar. 'Apa sih? Bukannya dia juga sama-sama jomblo?'
"Ekhem! Ceritanya kalian mau main rahasia-rahasiaan nih dari aku? " Andara melihat mereka sambil bersedekap.
Kedua gadis itu berbalik menatapnya dan berusaha untuk tersenyum. "Gak pa-pa kok Dara cantik. " Rika tersenyum kikuk.
Andara malah menatap mereka sambil cemberut. "Terus aja rahasiain. "
Karin mengacak-acak rambut Andara yang kebetulan duduk berhadapan dengan nya. Sambil tersenyum, Karin merapikan syal yang dikenakan Andara.
"Lain kali kalau ingin menutupinya, tutupilah dengan rapi. Kecuali kalau kamu memang ingin menunjukkan tanda kepemilikan suamimu. "
Andara bengong sesaat, berusaha mencerna perkataan Karin. "Hah? "
Karin tersenyum sambil menyentuh kerah bajunya sendiri, memberi isyarat pada Andara akan suatu hal.
__ADS_1
Sementara Rika malah menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Andara terlihat malu lalu merapikan syal yang dikenakannya. "Ekhem.. " Wanita itu berdeham untuk menetralkan perasaan malunya.
"Gak pa-pa, wajar kok kalau kamu memilki itu. Hanya saja orang yang tidak mengerti akan salah faham dengan hal itu, " ucap Karin dengan santai.
Andara mengangguk mengerti dengan pipinya yang merona malu.
Sementara itu, ada dua orang laki-laki yang melihat bagaimana interaksi ketiga perempuan itu.
Satu orang laki-laki tampak kagum pada Andara sementara satu laki-laki lagi tampak geram dengan hal yang dilakukan oleh Karin pada Andara.
'Kenapa perlakuan Karin masih seperti itu pada Andara? Kalau begini bagaimana aku tidak cemburu? ' gerutu suaminya Andara dalam hati.
"Ck ck ck... Cewek cantiknya kayak gitu kok dapet suami kayak Roy. Sayang banget kan? Apa tidak lebih baik kalau Andara mendapatkan suami yang lebih dari itu. Seperti aku contohnya. Aku siap menerima dia walaupun statusnya sudah menjadi janda."
"Maksud lo apa Dio? Jangan macem-macem lo ya! " Dimas tampak tidak senang dengan apa yang diucapkan oleh Dio.
Dio tampak tidak peduli walaupun melihat ekspresi wajah Dimas yang tidak baik-baik saja.
Dio tersenyum sinis menatap Dimas. "Lo bukannya udah tau gimana si Roy itu? Emang salah ya kalo gue punya pikiran kayak gini? Lo gak kasian apa sama Andara?"
"Lo jelas salah. Kenapa lo masih nanya? Jangan berbuat macam-macam.Gak usah sok-sok an jadi pahlawan kalau kenyataannya lo malah nambahin beban. Mereka bisa selesaikan masalah mereka sendiri. Kalo lo ikut campur, yang ada malah tambah membuat banyak masalah.
Gue kasih peringatan sama lo, Dio. Gue gak mau kalo lo sampe bikin ribut. Inget, gue yang udah bawa lo kesini. Gue gak mau kalo sampe gue kena imbasnya gara-gara kelakuan lo. Lagipula,mereka udah berbaik hati nerima lo disini. Harusnya lo sadar. Gak seenaknya sendiri kayak gini. "
"Heh! Berisik lo! "
Dio pergi meninggalkan Dimas yang tampak kesal. Dimas memanggilnya namun Dio tidak merespon sama sekali.
Tanpa mereka ketahui, Roy mendengar dengan jelas apa yang mereka ucapkan dan itu membuat nya semakin merasa geram.
'Syalan! Memangnya kenapa kalau aku yang menjadi suaminya Andara? Percaya diri sekali dia kalau dia pantas untuk istri ku. Akan aku perlihatkan padamu kalau aku pantas menjadi suami Andara. Tunggu saja kejutan yang akan aku berikan pada mu, Dio.'
.
.
.
.
bersambung...
__ADS_1