Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Sikap dingin Karin


__ADS_3

Banyaknya pelanggan yang datang membuat Karin mau tidak mau harus ikut sibuk seperti para karyawannya. Ia sebenarnya merasa berat untuk meninggalkan Andara duduk sendirian, namun ia juga tidak bisa membiarkan keadaan terus seperti itu.


Andara meyakinkan Karin bahwa ia tidak keberatan kalau Karin meninggalkannya. Andara sangat mengerti dengan kesibukan Karin. Lagipula, dia tidak benar-benar sendiri. Banyak orang yang datang ke sana walaupun tidak duduk menemani Andara.


"Kamu baik-baik lah di sini."


"Iya. Aku bukan anak kecil, Karin. Aku tidak akan menangis karena ditinggal kerja olehmu."


"Ya sudah, aku lanjut dulu."


Andara tersenyum dan mengangguk. Gadis itu melihat Karin yang sudah nampak sibuk dengan pekerjaannya hingga sepertinya sudah lupa dengan keberadaannya.


Andara melihat ke arah Roy dan tersenyum. Gadis itu berdiri dan berjalan menghampirinya. Kedatangannya disambut dengan tatapan hangat oleh Roy.


"Maaf membuatmu lama menunggu."


"Tidak masalah. Aku mengerti bagaimana keadaannya. Tapi, apa kamu sudah izin pada Karin untuk menemaniku?"


Andara melihat Karin yang masih sibuk. "Tidak. "


"Apa tidak akan menjadi masalah?"


"Tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa. Aku bisa memberikan alasan yang masuk akal padanya."


"Ya sudah."


Dan mereka berdua akhirnya mengobrol seperti biasanya saat mereka bertemu. Kedua orang itu bahkan seolah lupa dengan dunia di sekitarnya. Lupa dengan keberadaan orang-orang di sana. Dan lupa juga dengan seorang gadis yang saat ini sedang melihat mereka dengan tajam.


Mereka berdua sama-sama terlihat nyaman saat mengobrol. Mereka tidak tau saja, orang yang menatap mereka dengan tajam itu kini sedang berpikir jauh tentang mereka.


'Sejak kapan mereka seakrab itu? ' Karin tersenyum sinis melihat kedua orang itu. 'Ini kebetulan atau memang keadaannya sudah lama seperti itu?'


Tiba-tiba terlintas di kepala Karin, tentang primadona kampus yang dibicarakan oleh empat perempuan yang sekampus dengan Andara. 'Apakah primadona kampus itu adalah Andara sendiri? Dan laki-laki setengah jadi itu adalah Roy? Mengingat hal itu, sepertinya bisa dibenarkan kalau melihat kedekatan mereka berdua sekarang ini.'


Ekspresi wajah Karin terlihat semakin dingin.'Aku tidak suka dibohongi, Dara. Aku membenci penghianatan. Aku harap kamu tidak mengecewakan ku.'


Karin hanya diam di sana dengan tatapan yang membuat orang yang melihatnya merasa takut. Gadis itu tidak memperdulikan apapun dan hanya melihat ke arah dua orang itu.


'Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar jujur.'


.

__ADS_1


.


.


Andara sedang asyik bermain dengan ponselnya saat Karin baru saja pulang dari Cafe. Gadis itu bahkan tidak sadar dengan kedatangan Karin. Matanya terus tertuju pada benda pipih yang ia genggam.


"Ekhem!" Karin berdehem agar Andara tersadar dari aktivitas nya.


Andara tampak terkejut dan refleks menjatuhkan ponselnya ke sofa. "Eh, Karin. Baru pulang?"


Karin menatapnya datar dan berjalan melewatinya menuju dapur. Sikap dinginnya membuat Andara bingung. Gadis itu mengambil ponselnya dan segera menyusul Karin ke dapur.


Karin nampak sibuk mengobrol dengan Rika saat berada di dapur. Gadis itu terlihat tidak memperdulikan bagaimana bingungnya Andara saat ini. Karin juga sama sekali tidak mengajaknya mengobrol. Ia asyik saja mengobrol dengan Rika.


Rika tidak menangkap ada hal yang aneh. Karena memang Karin itu orangnya kadang pendiam. Walaupun ia tidak pernah mendiamkan Andara. Tapi tetap saja Rika tidak sadar.


Andara yang merasa diabaikan pun akhirnya kembali ke sofa yang ia duduki tadi. Kembali sibuk mengirim pesan dengan seseorang. Gadis itu kembali tersenyum saat melihat layar ponselnya. Dan kembali tidak sadar dengan keadaan di sekitarnya.


Beberapa saat berlalu, Karin dan Rika pindah ke ruang tamu dan mendapati Andara yang sedang tertawa sendiri sambil melihat ponselnya. Rika yang merasa bingung hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Tapi tatapan Karin yang dingin tidak disadarinya.


Rika langsung saja duduk di samping Andara dan menepuk bahu gadis itu hingga Andara terlonjak kaget. "Eh! Iiih... Rika. Kaget tau."


Andara cemberut tanpa menyimpan ponselnya. "Mana ada setan hp."


"Iya, gak ada. Tapi hp itu sendiri yang jadi setannya."


"Iiih...Kamu ini." Andara cemberut dengan menggemaskannya. Rika semakin senang untuk menjailinya.


"Lagian liatin apa sih kamu? Serius amat deh kayaknya."


Andara melihat lurus ke depan dan tampak berpikir. "Ehm...Lagi ngeliatin yang lucu aja."


"Apa?"


Andara menggenggam ponselnya dan menyembunyikan nya. Menjulurkan lidahnya ke arah Rika dan membuat gadis itu kesal. "Ada deh."


"Iih, Dara. Gak asyik ah kamu. Main rahasia-rahasiaan segala." Dan Andara hanya tertawa.


Melihat itu, Karin menjadi semakin marah. Ia teringat dengan kejadian tadi sore di Cafe. Saat ia masih saja sibuk dengan pekerjaannya dan Andara berpamitan untuk pulang.


Gadis itu tidak menyangka kalau Andara akan dengan santainya ingin pulang bersama Roy. Andara terlihat tidak sungkan sama sekali saat mengucapkan itu. Gadis itu pun tidak menjelaskan apa-apa padanya dan langsung saja pergi. Walaupun Karin mengizinkan nya.

__ADS_1


Karin terus saja melihat kepergian Andara dan Roy hingga dua orang itu tidak terlihat lagi. Karin tersenyum dengan tatapan yang dingin ketika melihat dua orang itu sangat akrab.


Karin mengepalkan tangannya saat mengingat hal itu. Bukan tidak mungkin kalau Andara dan Roy memang menjalin hubungan. Karin tidak bisa menerima hal itu karena Karin merasa dikhianati dan dibohongi.


'Kalau memang dia ingin pergi, seharusnya dia katakan saja padaku. Tidak perlu membuatku kecewa dengan alasan tidak ingin menyakitiku.'


"Dara."


Andara menoleh pada Karin saat gadis itu memanggilnya. Andara yang sedang bercanda dengan Rika menatap bingung wajah Karin yang tampak serius.


"Ya?"


"Ada yang ingin aku bicarakan. Aku tidak bisa menundanya karena besok aku akan pergi ke luar kota. Aku akan tinggal di sana selama beberapa hari. Tapi mungkin tidak sampai hari wisuda mu."


"Baiklah. Katakan saja."


Karin menghela nafas panjang dengan reaksi Andara. Gadis itu benar-benar berubah. Padahal dulu ia tidak pernah terlihat rela saat Karin akan pergi meninggalkannya walaupun hanya dua hari.


"Rika, bisakah kami meminta waktunya?"


Rika mengerjap bingung. Gadis itu melihat Andara dan Karin secara bergantian. Ingin menolak tapi itu tidak mungkin. Akhirnya gadis itu berdiri dari tempat duduknya.


"Baiklah. Jika kalian memiliki masalah, bicarakanlah semuanya secara baik-baik. Dan juga kalian harus bersikap baik." Ucapan Rika yang awalnya terdengar ramah tiba-tiba menjadi terdengar seperti kode untuk mereka berdua.


Karin hanya terdiam walaupun ia merasa terganggu dengan perkataan Rika. Gadis itu tidak bisa memungkiri bahwa ia merasa sedikit kesal pada Rika. Seolah mereka akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak di ruangan itu dan Rika menginginkan mereka untuk tidak melakukan hal itu.


'Tidak tau kah dia? Hubungan ku dan Andara benar-benar berubah semenjak Andara kembali dari Surabaya. Aku bahkan tidak pernah berdekatan secara intens dengan Andara. Awalnya aku kira dia benar-benar sedih. Tapi sepertinya sekarang aku tau alasannya.'


Karin melihat kepergian Rika dengan tatapan yang dingin. Lalu ia melihat Andara yang menunduk dengan tatapan itu pula.


"Aku ingin kamu jujur, Andara."


.


.


.


.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2